Mynhemeni mengakhiri penjelasannya dengan gerakan kecil, seolah tenggorokannya akhirnya menyerah setelah menahan terlalu banyak kata. Bahunya bergeser ringan. Dari ujung seragamnya, butiran kecil berkilau muncul, berputar sesaat di udara, lalu melesat ke mulutnya. Ia menelan pelan. Napasnya kembali teratur, matanya sempat terpejam sepersekian detik, menikmati lega yang datang setelah rentetan penjelasan panjang.
Cakra mengamatinya tanpa berkedip. Ada rasa nyaman yang tak ia sembunyikan. Ia pun mencoba meniru. Dari kain hijau bajunya, butiran serupa muncul dan melayang ke atas meja yang terasa padat, sekeras kayu jati. Dalam sekejap, butiran itu membentuk gelas tinggi berisi cokelat hangat.
Cakra terpaku. Pegangan gelas itu diukir menyerupai gajah, reliefnya hidup, seolah sedang merayap mengitari permukaan gelas. Kuping gajah memancarkan cahaya hijau lembut, sementara tubuhnya berkilau jingga kebiruan. Saat jari Cakra menggenggam tangkai gelas, belalai gajah itu bergerak pelan, memendarkan cahaya merah yang hangat, bukan menyilaukan.
Uap tipis naik perlahan, menyentuh wajahnya. Hangatnya bercampur dengan cahaya biru ruangan dan tekanan laut yang nyaris tak terasa tapi selalu hadir, seperti pengingat sunyi bahwa mereka berada jauh di bawah permukaan dunia manusia dan dunia Porkah. Dalam pelarian. Cakra tak menghiraukannya, ia memilih menyeruput cokelat hangatnya.
Hangat. Nyata.
Dan yang paling mengejutkan, rasanya sama persis seperti cokelat yang sejak tadi ia inginkan. Cokelat dari kafe tempat ia biasa bertemu para sahabatnya. Tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. Tepat. Pas. Mantap. Perlahan, ia menurunkan gelas dari bibirnya.
“Jadi,” ucapnya sambil menatap cairan cokelat yang masih mengepul, “maksud dari tingkat kebutuhan yang berbeda-beda itu apa?” Ia mengangkat pandangannya ke Mynhemeni.
“Apa yang dibutuhkan tiap orang memang beda, dan semuanya dipenuhi oleh negara? Atau…?"
Mynhemeni menghela napas pendek, seperti baru saja menata ulang pikirannya sebelum menjawab. “Bukan begitu,” katanya lebih tenang. “Tingkat kebutuhan dibedakan berdasarkan golongan. Ada kebutuhan pribadi, dan ada kebutuhan profesional.” Ia mengangkat satu jari, lalu menyusul jari kedua.
“Kebutuhan profesional membuat kebutuhan setiap individu berbeda,” ujarnya tenang.
“Semua bergantung pada posisi dan jabatan. Apa pun yang diminta tidak akan pernah diberikan jika tidak selaras dengan peran yang dijalani.” Nada suaranya mantap, seolah aturan itu bukan sekadar kebijakan, melainkan sesuatu yang tak bisa diganggu gugat.
Seketika senyap kembali mengambil alih. Cakra langsung menyambar celah itu.
“Nah, berarti tetap ada kesenjangan dong,” katanya cepat. “Maksudku, tetap ada status sosial, kan?” Ia condong ke depan.
“Kalau begitu, bisa aja kalian nolak jodoh kalian karena statusnya lebih rendah.” Ia belum sempat berhenti ketika pikirannya melompat lagi.
“Terus misalnya, karena posisi kita rendah, kita nggak bisa dapetin barang tertentu. Kenapa nggak bikin sendiri aja?”
“Sebentar. Aku jawab satu-satu..." Mynhemeni mengangkat telapak tangannya. Sebelum Cakra mulai menyerangnya kembali. Nada suaranya tetap sabar, meski matanya sempat menyiratkan lelah.
“Pertama, tidak ada kesenjangan sosial di Kerajaan Porkah. Ada perbedaan posisi dan jabatan, iya. Tapi status sosialnya tetap sama. Kami semua rakyat Porkah. Bahkan Raja dan Ratu pun statusnya sama dengan kami. Mereka mempunyai jam kerja dan kewajiban yang sama seperti kami!” Ia menyandarkan punggung, cahaya biru ruangan memantul di seragamnya.
“Lagipula, jabatan itu kami dapatkan setelah seluruh rangkaian pendidikan selesai. Di saat umur kami tiga puluh lima tahun. Tapi, Saat Ravin dilepaskan dan jodoh kami diketahui, kami belum ada status apa pun. Kami hanyalah lulusan pendidikan utama yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi. Saat itu, belum ada jabatan, belum ada posisi yang pasti di masyarakat,"
Cakra terdiam, mendengarkan.
“Hingga akhirnya kami lulus pendidikan profesi dan terjun ke masyarakat untuk bekerja sesuai minat dan bakat kami...” lanjut Mynhemeni.
“Kami menukar waktu, tenaga, dan pikiran untuk masyarakat. Sebagai gantinya, seluruh lapisan masyarakat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat lainnya sesuai porsi. Sehingga, tidak ada alasan untuk kami menilai pasangan dari jabatan atau kariernya. Karena itu tidak relevan, dan tidak ada gunanya. Sistem kerja dan politik kami teratur dan adil, dan itu yang menentukan tingkat kebutuhan. Semua mendapat apa yang mereka perlukan. Tidak lebih, tidak kurang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Karena itu, tidak ada yang merasa dirugikan.”