Mynhemeni tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, bahunya terangkat tipis, seolah mengakui ketidaktahuannya sendiri. Pandangannya beralih ke samping. Dinding jet yang semula terlihat olehnya tampak padat, kokoh, dan penuh ornamen perlahan memudar, seperti tirai yang ditarik tanpa suara. Seketika, terbentang samudra Pasifik yang luas dan sunyi. Air biru gelap membentang tanpa batas. Tubuh jet terasa diam, seakan berhenti di tengah laut, berbaur dengan arus yang lambat dan makhluk-makhluk laut yang melintas santai.
“Bagi kami, kematian adalah misteri. Sampai detik ini, belum terpecahkan,” ucap Mynhemeni akhirnya, suaranya tenang namun berat. Ia menatap hamparan laut itu, lalu beralih pada Cakra.
“Mungkin bagi manusia darat, kematian datang karena tubuh yang rusak, penyakit, atau kecelakaan. Sesuatu yang masuk akal.” Bibirnya terkatup sebentar, lalu terbuka lagi.
“Tapi teknologi medis kami bekerja sampai ke sel, organ, jaringan, DNA, bahkan sistem saraf. Tubuh kami berhenti menua di usia seratus lima puluh tahun. Secara logika, kami seharusnya tidak bisa mati.” Tangannya terangkat, telapak kiri menyentuh dadanya, lalu ditutup oleh tangan kanan, seolah menahan sesuatu di dalam sana.
“Namun kenyataannya berbeda. Kematian tetap datang. Bagi kami, kematian terjadi ketika sinkronisasi antara tubuh, Sanvar, dan kesadaran inti tidak lagi utuh. Jiwa dan kehendak hidup tidak lagi menyatu. Jantung berhenti berdetak. Napas tak lagi terhembus. Otak sunyi tanpa aktivitas. Dan Sanvar... tidak bisa lagi diakses oleh siapa pun. Sanvar kami mati bersamaan dengan jiwa kami.” Kalimat itu menggantung, berat, bercampur dengan dengung halus mesin jet dan suara laut yang terasa terlalu dekat.
Mynhemeni berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke kiri tubuhnya, lalu kembali ke Cakra. Ia tersenyum. Senyum kecil, rapuh, disertai kekeh singkat yang terasa lebih seperti kebiasaan daripada tawa. Cakra tidak langsung meresponsnya. Ia justru condong sedikit ke depan, wajahnya tanpa sadar mendekat, seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar baik-baik saja. Lalu ia tersadar, menarik tubuhnya kembali, menggeser posisi duduk yang terasa tiba-tiba tidak nyaman. Ia bersandar ke sofa, melipat kedua tangan di dada.
Di kepalanya, laut itu terasa semakin luas. Dan untuk pertama kalinya, kematian terdengar lebih menakutkan bukan karena kepastian, melainkan karena ketidaktahuan.
Hening tak betah lama-lama bersama mereka.
“Bangsa kami, sejak ribuan tahun lalu, pernah mencoba segala cara untuk menghentikan kematian,” ujar Mynhemeni pelan. Ia menautkan jari di pangkuan, sorot matanya menerawang.
“Eksperimen itu baru benar-benar dihentikan sekitar tiga ratus tahun lalu. Tidak satu pun yang berhasil sempurna.” Cakra mengangkat alis, rasa ingin tahunya langsung menyala.
“Oh iya? Kalian sampai sejauh apa mencobanya?” Mynhemeni menghela napas tipis, lalu mulai menjabarkan, seolah membuka lembar arsip lama yang berdebu.
“Kami meningkatkan teknologi medis melampaui batas yang bisa kalian bayangkan. Kami menciptakan perisai untuk menahan jiwa, supaya ruh tidak dapat meninggalkan tubuh.”
Bibirnya melengkung tipis, nyaris getir.
“Kami juga pernah mencoba jalan lain. Menciptakan bangsa kami tanpa reproduksi alami.”
Cakra terkesiap kecil. “Seperti di film-film?”
“Kurang lebih.” Mynhemeni mengangguk.
“Sel buatan. Tubuh diproses di luar rahim. Semua dirancang, diawasi, dan dikendalikan.” Ia berhenti sejenak.
“Sebagian berhasil bertahan hidup. Tapi kebanyakan tidak.” Sunyi menyelusup di antara mereka, bercampur dengan dengung lembut mesin jet dan cahaya laut yang beriak di dinding transparan. Gelas cokelat Cakra melayang mendekat dengan sendirinya. Ia menangkapnya, kehangatan menyentuh telapak tangannya, lalu meneguk perlahan.
“Terus,” katanya sambil menurunkan gelas, “gimana cara kalian nentuin itu berhasil atau gagal?” Mynhemeni menoleh, tatapannya kini tajam dan penuh makna. Seakan jawaban itu tidak sesederhana hidup atau mati, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Yang gagal tidak pernah memberi respons. Jantung tidak berdetak. Tidak ada napas. Padahal tubuh-tubuh itu tumbuh sempurna,” ujar Mynhemeni, suaranya tenang tapi berat.
“Yang berhasil, mereka menunjukkan tanda hidup. Ada reaksi. Ada kesadaran.” Ia berhenti sebentar, matanya redup.
“Masalahnya, itu tidak pernah bertahan lama. Paling lama tercatat hanya tiga bulan.” Cakra menahan napas, dadanya terasa sesak oleh cerita yang mengalir terlalu mulus untuk disebut sekadar eksperimen gagal.
“Sampai akhirnya, kami menarik satu kesimpulan,” lanjut Mynhemeni, ia menatap Cakra lurus.
“Kami mampu menciptakan tubuh. Tapi kami tidak pernah bisa memberi nyawa.” Nada suaranya mengeras, bukan marah, melainkan pasrah.
“Itu bukan kuasa kami. Nyawa bukan milik teknologi. Tuhanlah yang menentukan makhluk mana yang diberi hidup, dan mana yang tidak.”
Ia tidak sepenuhnya berbohong.
Cakra tidak tahu bahwa penghentian teknologi penciptaan makhluk bukan semata karena kegagalan ilmiah. Itu terjadi karena para Raja Terdahulu telah punah. Para raja yang merupakan garis keturunan langsung dari Raja pertama bangsa Porkah, Raja Zvesda.