Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #47

Ledakan Emosi

“Itu terjadi karena kami harus menekan keserakahan kami,” ucap Mynhemeni pelan. Nada suaranya berubah, lebih berat, seolah ia sedang menyentuh bagian sejarah yang tak pernah benar-benar sembuh.

“Gruzva, melalui Raja, membimbing kami agar populasi bangsa Porkah tidak melampaui tiga juta jiwa.” Ia menoleh sedikit, menatap hamparan biru di balik dinding transparan jet. Laut membentang luas, tenang, nyaris seperti daratan yang diselimuti langit cair.

“Ribuan tahun lalu, jumlah kami pernah melonjak tak terkendali,” lanjutnya. “Angkanya menembus satu miliar jiwa. Saat itu kami menjadi serakah. Kami menekan bumi, mengeksploitasinya demi memenuhi kebutuhan kami sendiri.” Bibirnya mengatup sejenak.

“Gruzva murka.”

Cakra menahan napas.

“Ravin tercipta setelah Raja pada masa itu menerima wahyu,” kata Mynhemeni. “Aturan demi aturan ditanamkan ke dalam tubuh kami. Dalam waktu kurang dari seribu tahun, populasi kami akhirnya turun dan stabil. Dua juta jiwa. Seimbang. Terkendali.”

Ia tidak mengatakan bahwa keseimbangan itu kini hanya tinggal bayangan. Bahwa angka itu sudah lama runtuh. Bahwa kematian mendadak semakin sering terjadi sejak garis Raja Terdahulu terputus. Bahwa banyak dari bangsanya hidup tanpa pasangan, Ravin tak pernah aktif, dan kelahiran semakin jarang. Fakta bahwa kini mereka hanya berjumlah sedikit lebih dari satu juta jiwa, terlalu kecil untuk bangsa yang menguasai seluruh lautan bumi, ia simpan rapat di balik ketenangannya.

Cakra menghela napas perlahan. “Berarti Raja kalian itu penghubung antara Tuhan dan rakyatnya,” katanya.

“Kayak nabi dalam kepercayaan manusia darat. Gitu?” Mynhemeni mengangguk singkat.

Cakra tak berhenti di situ. Alisnya terangkat, matanya menyipit penuh perhitungan. “Jadi selama populasi bangsa kalian masih di batas aman, Ravin tetap bekerja.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Tapi kalau populasinya turun drastis. Karena banyak janda dan duda sebelum menikah… Ravin bisa berhenti aktif, kan?”

Pertanyaan itu meluncur tajam.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Mynhemeni terdiam sedikit lebih lama. Matanya melebar sepersekian detik, cukup bagi Cakra untuk tahu bahwa analisanya tepat sasaran.

“Untuk itu kami belum tahu pasti,” jawab Mynhemeni akhirnya. Suaranya terdengar mantap, meski di dalamnya ada jeda kecil yang nyaris tak kasatmata.

“Karena jumlah kami masih berada di batas aman.”

Itu jawaban yang rapi. Terlalu rapi.

Ia menatap lurus ke depan, ke arah laut yang membentang seperti daratan biru tanpa ujung, seolah jawaban itu cukup untuk menutup semua kemungkinan lain. Padahal di balik ketenangannya, kegelisahan para pemimpin Porkah berdenyut pelan. Ratu dan pemerintah pusat terus dihantui angka kelahiran yang tak kunjung pulih. Ravin pernah dicoba diutak-atik, dilonggarkan, dicari celahnya agar para janda dan duda bisa kembali dijodohkan. Namun sistem itu tetap membeku, patuh pada hukum lama yang tak mau berubah. Pada akhirnya, yang tersisa hanya doa yang dikirimkan sunyi kepada Gruzva, agar bangsa mereka tak tergelincir di bawah angka satu juta jiwa.

“Semoga populasi kalian tetap sesuai dengan yang diperintahkan Gruzva,” ucap Cakra pelan.

Nada suaranya tulus, tanpa kepentingan. Mynhemeni menoleh, menatap wajah manusia darat itu. Ada kehangatan sederhana di sana, sesuatu yang tak ia temui dalam rapat-rapat penuh grafik dan perhitungan. Sekali lagi, Cakra meyakinkannya bahwa kehadirannya bukan ancaman. Hanya seseorang yang ingin memahami apa yang terjadi dengan tubuhnya.

Lihat selengkapnya