Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #48

Di Antara Dua Tugas

“Uru… kamu bisa dengar kakak?” Suara Mynhemeni beresonansi di dalam kepalanya sendiri, lembut namun tergesa, saat Svalin akhirnya tersambung dengan milik Georu. Ada getaran halus di udara, seperti tekanan air yang berubah arah, menandai jalur komunikasi itu terbuka.

“Iya, Kak. Kenapa?” jawab Georu tanpa suara. Kalimat itu hanya bergema di kepalanya dan di kepala Mynhemeni, teredam oleh Svalin.

Saat itu Georu berdiri di tengah arahan berlapis dari kepala timnya. Visual dan data terus bermunculan di sekeliling pandangannya. Namun gestur dan posturnya tetap tenang, nyaris kaku. Ia tak boleh memberi reaksi sekecil apa pun. Satu gerakan salah saja bisa mengundang kecurigaan bahwa ia tengah berkomunikasi diam-diam melalui Svalin, jalur komunikasi sunyi yang tak dapat disadap.

Sejak Rumsun membagi pasukan menjadi dua tim, Georu ditempatkan di unit yang dipimpin petugas tingkat satu dari pasukan keamanan Distrik Nor. Di dalam tim itu ada Olhuioruik, seorang senior yang sejak awal tak pernah menyembunyikan kecurigaannya pada Mynhemeni. Tatapannya yang tajam sesekali mengarah pada Georu, menembus lewat casvet yang melayang di ruang kesadarannya, seolah mencari celah kecil untuk membuktikan bahwa prasangkanya selama ini benar.

“Tolong hubungi Shiva,” ujar Mynhemeni tanpa bertele-tele. Ia menarik napas singkat, lalu melanjutkan, suaranya merendah namun penuh tekanan.

“Minta dia menemui kamu. Setelah itu, serahkan Svalin yang kamu pakai ke dia. Sepertinya kakak butuh bantuannya.” Ada jeda singkat di sisi Georu. Bukan karena ia tak mengerti, melainkan karena ia menangkap sesuatu dalam nada kakaknya. Harapan. Tipis, rapuh, tapi nyata.

Sayup-sayup Mynhemeni menangkap suara yang terasa akrab. Ia membutuhkan beberapa detik untuk mengenalinya. Itu suara teman sekelasnya dulu, kini ia berlaku sebagai ketua tim pasukan Georu yang memburunya. Potongan arahan terdengar jelas dan tegas. Tidak ada pembatasan pergerakan warga. Tidak ada pemblokiran Vorna. Tidak ada penutupan Distrik Nor, baik dari dalam maupun dari luar. Keputusan itu terdengar mutlak, sekaligus melegakan. Untuk pertama kalinya sejak dalam pelarian. Mynhemeni merasakan tubuhnya mengendur, seolah ikatan virtual yang menahannya perlahan terlepas.

“Kamu bisa melakukannya, kan?” tanya Mynhemeni lagi, kali ini lebih pelan, seolah takut harapan itu pecah jika diucapkan terlalu keras. Georu menelan ludah. Di tengah hiruk-pikuk perintah dan kecurigaan yang menggantung di sekelilingnya, suara kakaknya terasa seperti jangkar. Sesuatu yang mengikatnya pada keputusan yang tak bisa ia abaikan.

Dengan sigap Georu menjawab, tanpa ragu.

“Oke, Kak. Aku akan minta Shiva menemuiku setelah rapat strategi pencarian Kak Hemy dan anak itu selesai.” Nada suaranya ikut terangkat, penuh kesiapan. Ia sudah menebak ke mana arah permintaan kakaknya. Jika Mynhemeni sampai melibatkan Saljiva, berarti situasinya jauh lebih genting dari yang terlihat di permukaan.

Koneksi Svalin terputus perlahan, meninggalkan gema tipis di kepalanya. Georu menghela napas singkat, lalu memusatkan kembali perhatiannya pada ruangan tempat ia berdiri. Tugas negara tak memberi ruang untuk penundaan, bahkan untuk keluarga sendiri. Untuk saat ini, ia tetap harus menjalankan perannya. Memburu Cakra dan Mynhemeni.

Ia berada di sebuah ruangan kecil menurut standar Porkah, meski bagi manusia darat tempat itu terasa luas. Sekitar seribu dua ratus meter persegi, dipenuhi hampir empat ratus personel yang berdiri dalam formasi rapi. Dinding transparan berpendar lembut, memperlihatkan bayangan arus laut yang bergerak pelan di luar, seolah mereka tengah berada di aula darat dengan langit yang terus bergoyang.

Kepala tim berdiri di pusat ruangan, membagi wilayah tugas. Georu menerima bagiannya tanpa protes. Ia ditugaskan mewawancarai penduduk di wilayah lima teritori Uikol, salah satu area di distrik Nor yang setara dengan kecamatan. Dekat dengan pusat kota. Wilayah itu terdiri dari enam karang terapung, masing-masing dihuni sekitar lima ratus kepala keluarga.

Di bawah karang terapung itu terbentang area seni dan hiburan bersama, ruang tempat bangsa Porkah bernapas di luar urusan negara dan teknologi. Bagi mereka, seni dan hiburan hadir dalam dua wujud. Yang pertama berada di dunia virtual Casvet. Di sana, mereka bisa menari, bermusik, mencipta, atau sekadar menonton, baik sendirian maupun terhubung dengan bangsa Porkah lain yang sedang mengaktifkan Casvet Virtual Umum. Dunia itu rapi, terukur, dan nyaris sempurna.

Namun tidak semua jiwa betah dikurung oleh cahaya dan data. Karena itu, ada wujud kedua. Seni dan hiburan yang dijalani secara manual, tanpa teknologi yang menyentuh kesadaran. Di ruang-ruang terbuka bawah laut, mereka berkumpul, tertawa, memainkan alat musik sederhana, atau sekadar duduk berhadapan seperti manusia darat di taman kota atau ruang rekreasi. Arus laut mengalir pelan di sekitar mereka, membawa sensasi sejuk yang terasa seperti angin sore di daratan.

Di belahan dunia lain, Mynhemeni menunggu kabar dari Georu dengan pikiran yang berlapis dan tak pernah benar-benar tenang. Ia sempat tergoda untuk langsung menemui Saljiva ketika memastikan tidak ada pemblokiran Vorna, pembatasan gerak warga, atau penutupan Distrik Nor. Keputusan itu masuk akal. Rumsun dan ayahnya jelas belum ingin kepanikan menyebar. Mereka ingin warga tetap berjalan seperti biasa, tanpa kecurigaan, tanpa pertanyaan. Biarlah informasi tentang Cakra tetap terkunci di lingkaran sempit para petugas keamanan distrik Nor.

“Aku sudah menghubungi adikku. Dia sedang rapat dengan seluruh timnya untuk mencari kita,” ujar Mynhemeni, memecah keheningan.

Ia sempat tersenyum kecil saat melihat Cakra duduk kaku di hadapannya, jelas kebingungan harus berbuat apa. Wajah anak itu memantulkan kebosanan yang tidak disembunyikan.

“Untung kita punya mata-mata di antara mereka,” kata Cakra sambil membetulkan posisi duduk.

“Jadi, kita bakal menganalisis kemampuanku di tempat adik iparmu?” Mynhemeni mengangguk singkat.

Lihat selengkapnya