“Hubungi dia. Kalau dia menolak membantu kakak, hapus ingatannya sampai ke titik awal, saat pertama kali kamu menghubunginya,” kata Mynhemeni tenang, terlalu tenang untuk situasi seberat itu.
Georu menarik napas. “Oke, Kak. Tapi setelah ingatannya dihapus, aku harus bilang apa? Kita bahkan tidak pernah saling menghubungi sebelumnya.”
Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan, nadanya ragu, “Itu akan terasa janggal.”
Mynhemeni tidak langsung menjawab. Sejenak, hanya ada dengung lembut arus laut yang terdengar seperti angin jauh di daratan. “Kamu bilang saja,” ujarnya akhirnya, “aku menitip pesan untuk keluarganya. Katakan aku tidak bisa menghadiri upacara hari kematian Chuvohus.”
Georu terdiam, membiarkan kata-kata itu tenggelam.
“Bilang ada keadaan genting di distrik Nor,” lanjut Mynhemeni. “Dan aku tidak bisa diganggu. Jadi kamu yang menyampaikannya.”
Ia tidak sepenuhnya berbohong. Upacara hari kematian mendiang suaminya memang akan berlangsung tiga hari lagi. Dan jauh di dalam dirinya, Mynhemeni tahu, selama ia masih diburu dan terjebak dalam pelarian ini, menghadiri upacara itu hanyalah harapan kosong. Pemahaman itu terasa seperti beban di dada, berat dan dingin, seolah tekanan laut ikut menekan dari segala arah.
“Oke, Kak… aku akan menghubunginya sekarang,” ucap Georu pelan, suaranya menahan gelombang cemas.
“Semoga Shiva mau membantu Kakak. Tapi kalau tidak…” Ia terdiam sesaat, menarik napas pendek.
“Aku mohon, Kak. Serahkan anak itu.”
Permohonannya tidak bernada memaksa. Georu tahu betul, kakaknya bukan tipe yang bisa didorong atau dipatahkan dengan logika dingin. Mynhemeni selalu memilih bertahan, sekalipun dunia di sekitarnya mendesak dari segala arah. Maka Georu hanya bisa meminta, berharap kata-katanya cukup untuk menggoyahkan keras kepala yang ia kenal sejak kecil.
Setelah koneksi dengan kakaknya ditutup, Georu mengedipkan mata. Udara di hadapannya bergetar halus. Dua bola cahaya kecil muncul, berkilau pucat seperti mutiara basah, lalu meregang dan beriak menyerupai gelombang air. Gelombang itu melayang diam selama hampir satu menit, berputar perlahan, hingga akhirnya menyatu dan membentuk sosok manusia.
Seorang perempuan muncul utuh di hadapannya. Wajahnya cantik dengan garis halus khas ras Asia Timur, rambutnya pendek berwarna ungu berkilau seperti cahaya senja di bawah laut. Gaun perak yang membalut tubuhnya tampak hidup, berpendar lembut dan bergerak seolah mengikuti arus, seperti tarian yang hanya bisa dilihat di kedalaman samudra.
“Tumben kamu menghubungiku, Uru?” ucapnya sambil tersenyum. Suaranya hangat, namun jelas menyimpan tanda tanya.
Ia sedikit memiringkan kepala, menatap Georu lebih saksama. “Ada apa?”
Keheranan tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya. Dalam ingatannya, hubungan mereka selalu sebatas formal. Pertemuan singkat di acara keluarga, sapaan seperlunya, lalu kembali ke dunia masing-masing. Berkomunikasi langsung seperti ini hampir tak pernah terjadi. Dan justru karena itulah, kehadiran Georu di hadapannya terasa seperti pertanda bahwa sesuatu yang tidak biasa sedang berlangsung.
“Kak Hemy butuh bantuanmu. Kamu bisa datang ke sini sekarang juga?” ucap Georu dengan wajah mengeras. Nada suaranya rendah, tapi tekanannya jelas, seolah setiap detik yang terlewat akan membawa konsekuensi. Ia menatap Saljiva tanpa berkedip, memberi isyarat bahwa ini bukan permintaan biasa.
Saljiva menangkap keseriusan itu dalam sekejap.
“Oke,” jawabnya cepat. “Kebetulan aku belum menggunakan jatah teleportasiku tahun ini.”
Hampir tak sampai satu detik, tubuh perempuan itu berpendar aneh. Wujudnya seperti terpotong-potong oleh kilatan cahaya, bergetar halus layaknya pantulan air yang terganggu arus. Lalu, seolah ruang di antara mereka dilipat, Saljiva sudah berdiri nyata di hadapan Georu.