“Anak itu benar-benar manusia darat, kan, Kak?” Hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Saljiva, beberapa detik setelah rangkaian tayangan tentang Cakra lenyap dari benaknya. Suaranya terdengar tipis, seperti seseorang yang baru kembali dari perjalanan jauh dan belum sepenuhnya yakin kakinya menapak tanah.
“Sejauh ini, itu yang dia katakan,” jawab Mynhemeni cepat, nadanya tegang namun terkontrol.
“Itulah sebabnya aku butuh tempat yang aman untuk menggali lebih dalam tentang anak ini. Rumsun sudah mengincarnya. Kamu bisa lihat sendiri pernyataannya lewat Georu. Mereka sedang berusaha melacak keberadaanku.” Tekanan di kalimat terakhir membuat air di sekitar ruangan terasa lebih berat, seolah arus laut ikut menahan napas.
“Georu,” Saljiva spontan bersuara, kali ini tanpa sadar menggunakan suara sungguhan.
“Apa benar Rumsun mengincar anak ini?”
“Benar,” jawab Georu. Tangannya terayun ringan, dan seketika sensasi ruang pertemuan utama menyeruak ke dalam kesadaran Saljiva.
“Kalau anak itu bukan ancaman, dia akan dijadikan objek penelitian oleh Rumsun. Tapi aku yakin, Rumsun menginginkan lebih dari itu. Anak itu akan dijadikan senjata rahasia. Rumsun butuh simbol untuk naik menjadi Raja. Kamu tahu sendiri keluarganya. Adiknya sudah Ratu, tapi mereka tetap ingin lebih.”
Nada Georu terdengar setengah mengejek, setengah muak.
“Wajar saja. Demi mewujudkan ambisi adik kakek dari pihak ibuku yang gagal jadi Raja,” tambahnya, hampir tertawa kecil karena absurditas alasan itu.
Saljiva terdiam. Bayangan pertemuan Rumsun dengan para petinggi keamanan dan pertahanan distrik Porkah masih terpatri jelas di kepalanya. Wajah-wajah serius, keputusan-keputusan dingin, dan satu nama yang terus berulang. Cakra.
“Sungguh… ini sulit dipercaya,” gumamnya pelan. Dadanya terasa sesak, seperti berdiri di daratan saat gempa kecil baru saja berhenti, tahu bahwa getaran berikutnya mungkin akan jauh lebih besar.
“Kakak yakin anak itu bukan ancaman?” Saljiva kini sepenuhnya beralih pada Mynhemeni. Pertanyaannya tak keluar sebagai suara. Ia mengalir begitu saja di dalam kepala, lebih tajam dari kata-kata yang diucapkan. Ia butuh keyakinan, bukan dugaan.
“Sejauh ini, tidak,” jawab Mynhemeni segera. Ada kejujuran yang dipaksakan di sana, seperti seseorang yang menahan diri agar tidak terdengar terlalu berharap.
“Dia tidak pernah berniat mencelakaiku. Kamu sudah melihat sendiri caranya menyanderaku. Tidak ada kekerasan yang disengaja. Tidak ada dorongan untuk membunuh.”
Saljiva mengingat kembali adegan itu. Gerak Cakra yang ragu, keputusan-keputusan yang diambilnya seperti orang yang terpojok, bukan predator. Mynhemeni menangkap keraguan di benak Saljiva dan terus mendorongnya, berharap celah itu melebar.
“Aku tahu kamu berpikir jauh,” lanjutnya pelan. “Tapi ingat, Rumsun juga musuh politik keluargamu.”
Kalimat itu tidak pernah dilontarkan tanpa alasan. Mynhemeni tahu betul posisi Saljiva dalam peta kekuasaan Porkah. Ayah dari suaminya adalah salah satu kandidat Raja, sebuah kebenaran yang jarang disebut, nyaris tak pernah dibicarakan dengan suara keras, namun selalu hadir.
Saat ini, delapan nama telah diumumkan ke seluruh penjuru negeri. Delapan figur yang membawa sejarah masing-masing, ambisi yang berbeda, dan barisan pendukung yang siap bergerak kapan saja. Mereka muncul melalui dua jalur. Ada yang maju atas kehendak sendiri, dan ada pula yang lahir dari dorongan suara rakyat, didorong naik oleh gelombang harapan bangsa.
Namun dari delapan nama itu, tiga paling berusaha untuk menggema.
Ketiganya maju melalui jalur mandiri, mendorong diri mereka sendiri ke pusat panggung kekuasaan. Kilatuilom, sahabat Rumsun yang kini menduduki kursi Perdana Menteri. Ia licin, terlatih, dan tahu persis kapan harus tersenyum serta kapan harus menusuk dari balik kata-kata.
Lalu Rumsun sendiri. Sosok yang bayang-bayang kekuasaannya selalu tiba lebih dulu daripada langkahnya, seolah Porkah telah lama mengenali namanya bahkan sebelum ia berbicara.
Nama ketiga adalah Jikiuhosbu, ayah dari suami Saljiva dan Ketua Distrik Lguih. Distrik itu terletak jauh di barat laut Distrik Nor, membentang di laut lepas yang dalam dan dingin, tak jauh dari kawasan barat Afrika. Letaknya terpencil namun strategis, hanya sekitar dua ribu kilometer dari Madeira, pulau milik Portugal yang berdiri sendiri di tengah samudra.
Lima nama lain yang diajukan langsung oleh rakyat Nor menggema nyaris bersamaan, seperti gelombang yang saling bertubrukan di perairan dalam.