Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #51

Delapan Puluh Tujuh Menit

“Lalu bagaimana caranya aku mengabarimu?” pikir Mynhemeni resah.

“Alat ini harus aku kembalikan ke Georu. Itu satu-satunya jalur komunikasiku dengannya.”

Saljiva terdiam sesaat, lalu kesadarannya seperti menepuk dahi sendiri. “Benar juga. Aku lupa kakak sedang dalam pelarian.”

Ada jeda singkat sebelum suaranya kembali terdengar. “Kalau begitu, temui aku dua puluh menit lagi. Aku harus bersiap.”

“Tidak bisa secepat itu,” jawab Mynhemeni. Nada suaranya tetap tenang, tapi pikirannya berlari cepat.

“Aku tidak bisa menteleportasi jet ini sekarang. Status buron membuat semua lompatan berisiko.”

Ia tahu, secara teknis, saat ini Vorna, gerbang antar distrik, tidak sedang diblokir. Semua penyadap dan pelacak di tubuhnya serta di jet sudah ia nonaktifkan. Namun laut di sekitar mereka terasa terlalu sunyi, seolah setiap arus menyimpan mata yang mengintai. Muncul lewat gerbang Vorna tetap seperti menyalakan obor di tengah kegelapan.

Terlalu mencolok.

Satu-satunya pilihan adalah cara lama. Manual. Berkendara sejauh sebelas ribu kilometer ke selatan. Memutari Australia, kembali ke Samudra Hindia. Menembus kedalaman menuju Antartika, dengan kecepatan maksimal. Rasanya seperti menempuh jalan darat panjang tanpa henti, hanya saja roda digantikan arus laut yang menekan dari segala arah.

“Kalau begitu,” suara Saljiva terdengar lebih pelan, “kira-kira kakak sampai kapan?”

Mynhemeni melirik panel kendali di hadapannya. Angka dan grafik bermunculan, berpendar lembut seperti lampu kota di kejauhan. Semua data itu hanya bisa ia lihat. Cakra, yang duduk tak jauh darinya, tetap tak menyadari apa pun selain kebosanan yang mulai merayap di wajahnya.

“Satu setengah jam,” jawab Mynhemeni setelah dua detik diam. “Jet ini bisa membawaku ke Anap dalam waktu kurang lebih satu setengah jam.”

Ia mengangkat pandangan, kembali pada bocah di depannya. Laut tetap terasa seperti daratan yang luas dan tegang. Dan di antara jarak sebelas ribu kilometer itu, ia tahu, terlalu banyak hal bisa berubah.

“Baiklah,” suara Saljiva mengalun di benaknya.

“Aku akan menunggu di depan rumah orang tuaku, satu setengah jam dari sekarang. Pastikan mode penyamaran sudah Kak Hemy nonaktifkan sebelum turun. Aku tidak akan bisa mengenali Kakak kalau penyamaran masih aktif.”

“Ok... Terima kasih, Shiva.” Ada kelegaan yang tak ia sembunyikan. “Aku berutang besar padamu.”

Saljiva terkekeh pelan, hangat dan jujur, seperti pijakan darat di tengah laut dalam. “Itu gunanya keluarga, kan? Lagipula, nasib bangsa kita sedang duduk di samping Kakak...”

Keputusannya bulat. Ia akan membantu kakak iparnya, bukan hanya karena ikatan darah, tetapi karena rasa ingin tahu yang terus menggerogoti pikirannya.  Apakah anak itu benar ancaman, atau justru kunci keselamatan.

Jika memang ancaman, setidaknya mereka bisa bersiap. Menyusun pertahanan. Menahan serangan dari tempat asal Cakra sebelum segalanya terlambat. Dan jauh di balik alasan itu, ada kepuasan sunyi membayangkan dirinya ikut menyelamatkan bumi yang selama ini ia sebut rumah.

Lihat selengkapnya