Saljiva mengangguk pelan, nyaris tak terasa. Namun pikirannya jauh melayang, kembali pada sosok Cakra. Ia sudah berkali-kali diyakinkan bahwa anak itu manusia darat, manusia bumi. Meski begitu, di sudut benaknya yang paling sunyi, kecurigaan itu tetap berdenyut. Ada sesuatu pada Cakra yang terasa melenceng, seolah ia bukan berasal dari bumi, bahkan bukan dari galaksi yang sama dengan planet asal mereka, Porkah.
"Kalau begitu, seharusnya ini bukan sesuatu yang diumumkan ke mana-mana,” lanjut Georu heran. Ia benar-benar tidak paham mengapa tim pengembang teknologi analisis justru begitu terbuka soal sesuatu yang seharusnya sensitif.
“Belum perlu dirahasiakan,” katanya Saljiva santai, ia pun menggeleng pelan. Rambutnya bergerak mengikuti aliran air yang halus.
“Kami belum mendapatkan hasil yang pasti.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Kalau nanti memang berhasil dan kami benar-benar menemukan dimensi lain, mungkin kami semua akan diberi alat itu secara bersamaan. Itu pun kalau akhirnya diputuskan harus ditutup dari publik.” Ia menggerakkan lehernya, merasa tenggorokannya kering setelah berbicara panjang. Beberapa detik kemudian, sebuah bola kecil bening terbentuk di udara dan meluncur masuk ke mulutnya. Sensasi sejuk langsung menyebar, membuatnya menghela napas lega, seolah baru saja meneguk air segar setelah berjalan jauh.
“Oh ya,” ucap gadis itu, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit sampai kedua kelopaknya nyaris menyatu.
“Bagaimana rasanya dipukul anak itu? Memangnya dia sekuat itu?”
Georu mendengus pelan, seolah ingatan itu masih terasa di tubuhnya.
“Sangat kuat,” jawabnya jujur.
“Aku sudah mengaktifkan perisai di tingkat maksimal, tapi dia tetap menembusnya. Satu pukulan saja, dan aku langsung terlempar.”
Saljiva mengangkat alis. “Kamu terbang sejauh dua puluh meter,” katanya sambil mengingat sudut ruangan yang masih retak samar.
“Ada yang lecet?”
“Tulang rusukku remuk. Dia memukul tepat di sini.” Georu menunjuk sisi dadanya.
Untuk sesaat, Saljiva hanya menggeleng tak percaya. Rambutnya melayang pelan mengikuti arus, seperti tertiup angin yang malas di daratan. Lalu sudut bibirnya terangkat.
“Atau jangan-jangan kamu saja yang lemah,” ejeknya ringan.
Ejekan itu tidak sepenuhnya bercanda. Mereka berdua tahu, meski kekuatan ditopang oleh Sanvar, teknologi busana itu tetap bekerja mengikuti perintah otak dan kemampuan fisik pemakainya. Hasilnya tidak pernah benar-benar sama. Perbedaannya mungkin tipis, nyaris tak terlihat, tapi dalam satu pukulan, selisih sekecil apa pun bisa menentukan siapa yang terlempar dan siapa yang tetap berdiri.
“Jangan mengejek,” kata Georu tenang, namun sorot matanya menyiratkan tantangan.
“Aku salah satu yang terkuat di angkatanku. Kalau tidak percaya, buktikan saja.” Ia bangkit dari duduknya. Begitu tubuhnya terangkat, sofa di bawahnya seakan mengempis, menciut seperti pasir basah yang ditarik arus. Dalam satu tarikan napas, benda itu lenyap, lantai kembali rata dan kosong, seolah sejak awal tak pernah ada apa pun di sana.
“Serang aku dengan seluruh tenagamu,” lanjut Georu.
Saljiva ikut berdiri. Telapak kakinya menjejak lantai dengan mantap. Ia menarik napas dalam-dalam, dada mengembang, lalu melesat maju. Tinju Saljiva meluncur ke arah perut Georu dengan kecepatan penuh, ototnya menegang, tenaga dikumpulkan tanpa sisa.
Namun pukulan itu berhenti.
Tinju Saljiva tertahan beberapa senti dari tubuh Georu, seolah menabrak dinding tak berwujud. Ia menggeram, memaksa lebih banyak tenaga keluar. Kilatan cahaya menyambar di antara mereka, menyobek air dengan letupan singkat. Detik berikutnya, tekanan berbalik arah.
Saljiva terpental.
Tubuhnya melayang ke belakang dan menghantam lantai sejauh tiga meter. Permukaan keras itu langsung berubah, melunak menjadi matras yang bergelombang, seakan tangan-tangan tak terlihat berusaha menangkap dan meredam jatuhnya. Air di sekelilingnya berdesir pelan, seperti gema benturan di ruangan tertutup.
Georu menatapnya dari tempat semula, nyaris tak bergerak. Senyum tipis terukir di wajahnya.
“Kamu yang lemah,” ejeknya singkat.
“Wajar,” Saljiva mengangkat bahu, napasnya masih sedikit berat. “Pertama, aku bukan pasukan keamanan. Kedua, sudah lama aku tidak melatih fisik.”
Matras di bawah tubuhnya beriak pelan, lalu mengeras, berubah kembali menjadi sofa yang melayang perlahan mendekati Georu. Seolah ruangan itu punya kehendaknya sendiri, mengikuti alur percakapan mereka.
“Ya begitulah... Harusnya anak itulah yang terpental, bukan aku," sahut Georu sambil duduk santai.
Begitu ia menurunkan tubuhnya, lantai kembali bereaksi. Sofa yang sempat lenyap muncul lagi dari permukaan, menyambutnya dengan sempurna, tanpa suara, tanpa bekas. Saljiva hanya mengangguk paham. Tak ada bantahan, tak perlu penjelasan tambahan.
“Kalau begitu aku harus kembali ke pekerjaanku,” kata Saljiva sambil berdiri.
“Aku juga harus bertemu Kak Hemy. Kita bertemu lagi lain waktu.”
“Baik,” jawab Georu. Nada suaranya sedikit lebih serius.
“Semoga anak itu bukan ancaman. Dan semoga kalian baik-baik saja. Aku akan menghubungimu lagi begitu Svalin yang digunakan anak itu sudah sampai di tanganmu.” Saljiva mengangguk sekali lagi. Detik berikutnya, tubuhnya bergetar halus, lalu pecah menjadi gelombang tipis seperti riak air yang tersapu ombak. Dalam sekejap, ia lenyap dari hadapan Georu, menyisakan ruang kosong yang hening.