Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #53

Kecepatan yang Tidak Terasa

“Oh, iya… paham.” Cakra mengangguk kecil, matanya berbinar.

“Wah, bagus juga ya. Kalau lagi ingin hiburan, bisa benar-benar fokus tanpa terganggu.” Ia terkekeh pelan, lalu dahi­nya berkerut.

“Tapi kalian bisa terlena dong dengan hiburan?”

“Tidak,” jawab Mynhemeni cepat. Bahunya tetap tegap, nada suaranya tegas seperti sedang melaporkan sesuatu.

“Kami tetap harus menjalankan tugas. Lagi pula, ada batasan waktu untuk berada di dunia virtual.”

“Batasan?” Cakra memiringkan kepala.

“Maksimal dua kali tiga jam dalam sehari,” lanjut Mynhemeni.

Cakra berkedip. “Dua kali tiga jam itu maksudnya bagaimana?”

“Kami hanya bisa akses dunia hiburan selama tiga jam dalam satu waktu. Setelah itu, sistem otomatis mengeluarkan kami. Kami baru boleh masuk lagi setelah jeda minimal satu jam. Dalam dua puluh empat jam, hanya boleh akses dunia hiburan sebanyak dua kali,” jelas Mynhemeni. Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan.

 

“Aturan ini dibuat supaya hidup kami tetap seimbang. Pekerjaan, keluarga, dan kehidupan di luar dunia virtual tetap berjalan.” Kalimat terakhirnya terdengar lebih pelan, hampir seperti pengingat untuk dirinya sendiri.

 

Mynhemeni menutup mulut rapat, menahan kantuk yang tiba-tiba menyerang. Kelopak matanya sempat merendah sesaat. Ia menggerakkan kepalanya kecil, lalu sebuah bola mungil nyaris tak terlihat masuk ke mulutnya. Beberapa detik berlalu. Sorot matanya kembali jernih. Cakra sama sekali tidak menyadari apa pun.

 

“Tapi kalau film atau gimnya belum selesai bagaimana? Masa harus nunggu besok?” tanya Cakra.

 

“Tidak perlu, avatarmu yang akan melanjutkannya. Kamu akan menyaksikannya saat tidur. Lewat mimpi.”

 

“Wah…” Cakra tersenyum lebar.

 

“Dunia kalian seimbang dan teratur sekali. Aku iri.” Ia tertawa kecil, lalu menambahkan dengan jujur, “Aku jadi ingin merasakan hidup di dunia kalian.”

Mynhemeni membeku sepersekian detik.

“Kamu ingin tinggal di Porkah?” tanyanya, suaranya nyaris tak menyembunyikan keterkejutannya. Pikirannya berlari cepat. Jika Cakra tidak berbahaya dan memang ingin menetap, semuanya bisa selesai. Ia tidak perlu terus bersembunyi. Tidak perlu lagi melarikan diri dari Rumsun. Namun jika Cakra adalah ancaman, keinginan itu tidak pernah benar-benar menjadi pilihan.

“Sempat terpikirkan,” jawab Cakra, nada suaranya merendah.

“Tapi aku tidak mungkin tinggal di tempat yang tidak bisa dijangkau ayah dan ibuku. Mereka pasti ingin menjengukku. Lagipula… aku masih harus melanjutkan kuliah.” Senyumnya menipis.

Mynhemeni mengangguk pelan.

“Hm...” Ia berusaha terdengar ringan.

“Kamu boleh berkunjung, sesekali.” Ada kalimat lain yang hampir terucap di bibirnya. Kalimat yang menyiratkan syarat kalau Cakra bukan merupakan ancaman. Kalimat itu berhenti tepat sebelum menjadi suara. Ia memilih menelannya kembali.

Untuk saat ini, diam terasa jauh lebih aman.

“Betulkah...?” Mata Cakra berbinar. Pikirannya langsung melayang, membayangkan negeri Porkah terbentang luas dengan bangunan-bangunan asing yang terasa akrab, teknologi yang begitu canggih namun seolah bernapas seperti makhluk hidup.

Ia membayangkan dirinya berjalan bebas di sana, mempelajari mesin-mesin yang tak pernah ada di buku pelajaran manusia darat. Bahkan sempat terlintas keinginan yang membuatnya tersenyum sendiri. Bagaimana kalau ia melanjutkan kuliah di Porkah saja, bukan di MIT.

Bayangan itu berkembang semakin liar. Ia melihat dirinya mengajak ayah dan ibunya berkunjung, menunjukkan negeri bawah laut itu seperti seorang pemandu wisata yang bangga. Sahabat-sahabatnya akan ternganga, tentu saja. Siapa yang tidak akan kagum.

“Andai saja manusia darat bisa hidup di sini…” gumam Cakra pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh denyut halus ruang jet Porkah yang bergetar lembut, seperti tanah yang bernapas di bawah kaki. Ia membayangkan orang-orang yang ia cintai berjalan bersamanya, tertawa, berwisata, tanpa rasa takut.

“Sebenarnya bisa,” jawab Mynhemeni.

Cakra menoleh cepat. “Apa?”

“Manusia darat bisa hidup di sini,” ulang Mynhemeni tenang.

“Kami punya teknologinya. Mereka akan menggunakan Sanvar khusus yang memungkinkan tubuh manusia beradaptasi sepenuhnya dengan lingkungan Porkah.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Itu yang kami lakukan pada manusia darat yang hanyut di laut dan masih sempat kami selamatkan.”

Cakra terdiam, lalu menelan ludah.

Lihat selengkapnya