Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #54

Kaum yang Memilih Mengalah

Mynhemeni sempat mematung. Pertanyaan Cakra datang terlalu cepat, terlalu tepat. Ia tidak mengerti bagaimana anak itu bisa sampai pada kesimpulan tersebut. Apakah karena keceplosannya soal pesawat luar angkasa? Namun bukankah manusia darat pun sudah memilikinya. Terakhir yang ia dengar, mereka bahkan sibuk merancang koloni di planet yang mereka sebut Mars.

Konyol.

Planet itu tidak layak huni. Bahkan bagi bangsa Porkah sendiri.

Mereka telah menjelajahi dan menganalisis jutaan planet. Dari semuanya, hanya satu yang benar-benar mampu menerima mereka dengan sempurna. Bumi. Meski planet asal Porkah dan Bumi sama-sama berada di lengan spiral Galaksi Bima Sakti, jaraknya terpisah empat puluh ribu tahun cahaya dari sistem tata surya. Perjalanan itu memakan waktu puluhan ribu tahun. Namun semua terbayar ketika mereka menemukan planet dengan gravitasi ringan dan molekul air yang jauh lebih ramah dibanding planet asal mereka.

Yang tidak mereka duga adalah satu hal. Bumi sudah berpenghuni.

Saat pertama kali tiba, peradaban manusia masih rapuh dan primitif. Bangsa Porkah sempat bimbang. Pergi dan kembali mencari planet kosong, atau menetap sementara sambil menyusun rencana baru. Mereka memilih bertahan sejenak. Sejenak yang berubah menjadi hampir seratus ribu tahun.

Mereka tidak pernah berniat ikut campur. Selama mungkin, mereka menghindari pergerakan manusia darat. Hingga suatu masa, manusia mulai bermigrasi besar-besaran. Daratan menyempit. Wilayah baru ditemukan. Dan setiap kali manusia menemukan tempat yang telah berpenghuni, perang selalu menjadi jawabannya.

Porkah tidak menyukai konflik. Mereka memilih mundur.

Maka mereka turun ke dasar laut.

Sejak saat itu, mereka hidup tersembunyi. Sesekali naik ke daratan. Diam-diam membantu manusia bertahan hidup. Menyumbangkan pengetahuan, lalu kembali menghilang.

Beberapa Raja Terdahulu bahkan menjadi pelindung bagi manusia di daratan. Nama mereka diingat sebagai dewa. Nama-nama planet yang kini dikenal manusia pun diambil dari sosok-sosok Raja Terdahulu.

Termasuk Mars.

Lucu, nama aslinya bukan Mars. Raja Terdahulu itu bernama Marezhgik. Namun lidah manusia kala itu tak mampu mengucapkannya dengan benar. Yang tertinggal hanyalah bunyi sederhana yang kemudian diwariskan sepanjang zaman.

Bangsa Porkah tidak pernah berniat merebut Bumi. Mereka sadar diri. Mereka hanyalah tamu yang tak diundang. Bahkan mungkin lebih buruk. Parasit yang menumpang hidup di planet orang lain.

“Aku? Alien…” Mynhemeni terkekeh pelan, nada ejekannya sengaja dibuat ringan. Ia menarik napas, menenangkan pikirannya. Ia tidak boleh terlihat goyah.

“Tentu saja bukan,” lanjutnya tenang.

“Kami lahir dan tumbuh di Bumi. Di dasar laut.” Itu bukan kebohongan. Leluhurnya mungkin datang dari bintang jauh, tapi Mynhemeni adalah penduduk Bumi. Begitu pula seluruh bangsa Porkah yang hidup hari ini.

“Tapi asal kalian dari mana?” Cakra menyipitkan mata, pikirannya bekerja cepat.

“Aku baru tahu ada manusia yang hidup di dasar laut, tapi bentuk fisiknya sama persis dengan manusia darat. Seharusnya tubuh butuh adaptasi ekstrem. Harusnya ada perubahan fisik, kan?” Nada suaranya tajam, setengah menantang, setengah ingin dibenarkan oleh logika sendiri. Alih-alih tersinggung, Mynhemeni justru tertawa pendek. Tawa yang terdengar mengejek.

“Kenapa kamu malah ketawa?” Cakra mendengus, merasa ucapannya diremehkan.

Mynhemeni menoleh, matanya berkilat nakal. “Coba rasakan tubuhmu sendiri. Ada yang aneh?”

Ia mengamati Cakra dari ujung kepala sampai kaki.

“Tiba-tiba tumbuh insang, mungkin?”

Cakra hendak membalas, tapi kata-katanya tertahan. Ia terdiam. Ia merasakan tubuhnya. Tidak ada sisik. Tidak ada insang. Tidak ada perubahan bentuk. Namun ia bisa bernapas di laut. Bisa bertahan di tekanan kedalaman. Bisa menyembuhkan diri dalam hitungan detik. Dan kekuatannya jelas bukan milik manusia biasa. Mynhemeni tersenyum kecil, puas. Alis tebalnya yang rapi naik turun seolah merayakan kemenangan kecil.

“Ya,” Cakra menghela napas. “Aku paham maksudmu.”

Ia mendongak lagi.

“Tapi tetap saja. Kenapa kalian memilih hidup di laut?”

“Nenek moyang kami yang memulainya,” jawab Mynhemeni lebih serius.

“Mereka menemukan teknologi adaptasi laut setelah menerima petunjuk dari Gruzva. Pada masa itu, kami terpaksa meninggalkan daratan dan membangun peradaban di dasar samudra.”

Lihat selengkapnya