Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #55

Sekadar Memastikan

“Untuk kami, Nivar Sanvar ada di hampir setiap tempat yang digunakan untuk mengistirahatkan tubuh,” jelas Mynhemeni.

“Sofa, bangku, tempat tidur, bahkan lantai. Semua tergantung kamu ingin berbaring di mana.” Mata Cakra langsung menyala. Ia menepuk sofa di bawahnya, merasakan permukaan itu sedikit menghangat, seolah merespons kehadirannya.

“Berarti sofa ini juga bisa jadi Nivar Sanvarku?” tanyanya antusias.

“Artinya aku bisa lepasin bajuku, dong?” Mynhemeni menarik napas pendek.

“Maaf. Punyamu tidak bisa dilepaskan begitu saja. Karena Sanvarmu itu—”

“Sanvar tahanan,” sela Cakra cepat. Nadanya ia buat serendah dan sesedih mungkin, seperti anak kecil yang harapannya dipatahkan.

“Aku paham.” Mynhemeni menggeleng pelan.

“Itu salah satunya. Tapi bukan cuma itu. Nivar Sanvarmu hanya ada di ruang tahananmu. Ruangan yang kamu hancurkan. Masih ingat?” Sekejap, ingatan tentang ruang Alpam khusus menyergap kepala Cakra. Cahaya putih, tekanan di pelipis, amarah yang meledak tanpa kendali. Mulutnya sempat terbuka, lalu tertutup lagi.

Ia menghela napas.

“Yah…” katanya lirih.

“Berarti aku harus balik ke ruangan itu cuma buat nunjukin bekas luka operasiku, ya?”

“Memangnya kenapa dengan bekas lukamu?” tanya Mynhemeni heran.

“Kenapa kamu sangat ingin menunjukkannya padaku?” Padahal, ia tahu betul betapa mudahnya bagi Cakra untuk melakukannya. Anak itu hanya perlu memberi perintah pada pikirannya, dan Sanvar bisa dibuat transparan di bagian tertentu. Tapi alih-alih melakukan itu, Cakra malah sibuk menarik ujung pakaian yang jelas tidak akan terlepas.

“Aku cuma mau memastikan,” jawab Cakra akhirnya, nada suaranya turun.

“Apa cuma luka di kakiku aja yang hilang tanpa bekas.”

“Oh,” gumam Mynhemeni, lalu tertawa kecil. Tawanya ringan, tidak mengejek, lebih ke arah gemas.

Cakra mendengus.

“Kenapa sih kamu ketawa terus tanpa sebab?”

Ia bangkit dari posisi rebahnya. Tanpa ia sadari, sandaran di belakangnya ikut bergerak, menyesuaikan postur tubuhnya dengan halus, seperti makhluk hidup yang paham bahasa tubuh. Cakra berhenti sejenak, melirik sofa itu dengan tatapan curiga.

Kamu lucu… dan menggemaskan…” ucap Mynhemeni ringan. Tidak ada nada menggoda di sana, hanya kejujuran yang meluncur begitu saja.

Justru itu yang membuat Cakra panik.

Ia mendadak kaku, seolah kursi tempatnya duduk berubah lebih keras. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Panas merayap ke wajahnya, cepat dan memalukan, sementara jantungnya berdegup lebih cepat, seperti genderang kecil yang ditabuh terlalu bersemangat.

Kenapa aku lucu?” tanyanya, berusaha terdengar biasa saja. Ia menatap lurus ke depan, menahan diri agar tidak terlihat terlalu terusik oleh satu kalimat sederhana itu. Mynhemeni memiringkan kepala, rambutnya melayang ringan, seakan air laut di sekitar mereka bergerak malas mengikuti pikirannya.

Tingkahmu.” Ia tersenyum kecil.

Kamu jelas cerdas, cepat menangkap sesuatu. Tapi di saat yang sama, kamu seperti anak kecil yang polos, yang masih perlu diberi tahu banyak hal. Kontrasnya itu yang… lucu.

Maksudnya…?” Cakra melirik sekilas, ragu.

Alih-alih menjawab, Mynhemeni justru bertanya balik, suaranya tenang namun penuh selidik.

Kamu ingin menunjukkan apa kepadaku?” Ia lalu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi kendaraan.

Di luar, cahaya biru kehijauan khas laut menembus jendela transparan, beriak pelan seperti langit yang bernapas. Mynhemeni sempat berpikir perjalanan satu jam ini akan terasa menyiksa. Biasanya ia hanya perlu berteleportasi atau menggunakan Vorna, sekejap dan selesai. Namun anehnya, berbincang dengan manusia darat yang berpotensi menjadi ancaman justru membuat waktu bergerak lebih ramah.

Bekas lukaku,” jawab Cakra akhirnya. “Waktu operasi usus buntu.

Lihat selengkapnya