Mynhemeni hanya mengangguk, matanya mengikuti setiap perubahan yang dilakukan Cakra tanpa banyak komentar. Cakra kembali bermain dengan busananya. Ia memilih tampilan yang lebih santai, hampir seperti ingin menegaskan bahwa semua ini hanyalah selingan kecil baginya.
Kaos hijau polos yang tadi menempel di tubuhnya memudar, berganti warna krem lembut tanpa motif. Celana pantai yang ia kenakan saat terseret ombak Parangtritis tetap ia pertahankan, kainnya terlihat sudah jauh lebih bersih dari seharusnya. Sepatu sneakers kebanggaannya berubah wujud menjadi sandal elegan dengan buckle klasik cokelat, tampak terlalu mewah untuk suasana jet militer, seolah Cakra sengaja bercanda dengan realitas.
Setelah puas, ia kembali duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
“Bukan cuma itu,” ucap Mynhemeni tiba-tiba. Ia tampak tersentak oleh pikirannya sendiri, seperti seseorang yang baru menemukan kembali potongan memori yang sempat tercecer. Tubuhnya bergerak maju. Kaki yang semula berselonjor di atas sofa ia turunkan, kakinya kini menapak lantai jet yang dingin dan halus. Getaran halus mesin terasa samar, konstan, seperti detak jantung raksasa di bawah mereka.
“Alat itu juga bisa menampilkan bentuk sosokmu seperti yang kamu inginkan,” lanjutnya, lalu berhenti sejenak. Matanya menajam.
“Kamu masih ingat pertanyaanmu?” Cakra mengerjap. Ia butuh waktu untuk memilah satu pertanyaan di antara ribuan yang ia lontarkan sejak menculik Mynhemeni.
“Pertanyaan yang mana?” tanyanya jujur, sedikit bingung. Mynhemeni tersenyum kecil. Kakinya bergerak naik turun, jelas menahan antusiasme.
“Tentang kami yang menolak jodoh pilihan Ravin karena bentuk fisiknya tidak sesuai selera.”
“Oh.” Cakra mengangguk pelan. “Tapi kamu bilang bentuk fisik cuma sampul identitas. Nggak berpengaruh ke penilaian kalian, kan?”
“Itu benar,” jawab Mynhemeni cepat.
“Tapi ada jawaban lain. Dan ini jauh lebih menyenangkan.” Ia menepukkan tangannya sekali, seperti anak kecil yang tak sabar membuka hadiah.
“Apa?” Cakra langsung condong ke depan.
Cakra mengernyit dan menengadah ke langit-langit jet. Wajah-wajah berkelebat di benaknya. Teman sekolah. Sosok samar dari ingatan masa kecil. Lalu Mia muncul sejenak, cukup lama untuk membuat dadanya menghangat. Namun bayangan itu perlahan memudar, tergeser oleh satu wajah lain yang jauh lebih jelas. Wajah yang terasa akrab meski tak pernah benar-benar ia kenal. Penyanyi perempuan pendatang baru asal Inggris, nama yang belakangan ini tak pernah absen dari obrolan teman-temannya dan kini sedang merajai tangga lagu dunia.
“Sudah?” tanya Mynhemeni tak sabar. Cakra menoleh dan mengangguk.
“Oke. Perhatikan baik-baik.”
Mynhemeni menarik napas, bahunya mengendur, tangannya terangkat lalu turun perlahan, seolah melakukan pemanasan sebelum aksi nekat. Dalam hitungan detik, perubahan itu terjadi. Rambut perak panjangnya yang semula terurai mulai menggelap, memendek, berubah menjadi pirang kecokelatan dengan gelombang halus. Potongannya menyerupai bob, sedikit berantakan, ujungnya menggantung santai di atas bahu yang kini tampak lebih ramping. Wajahnya bergeser perlahan, tulang pipi, mata, bibir, semuanya menyusun ulang diri mereka dengan presisi yang mengerikan.
Cakra menahan napas.
Tidak sampai lima detik berlalu, sosok di hadapannya telah berubah sepenuhnya. Wujud Mynhemeni lenyap, digantikan oleh sosok gadis yang tengah digandrungi remaja seusianya. Gadis asal Inggris itu duduk tenang di sofa jet militer. Ia menatap Cakra tanpa berkedip, dengan wajah yang terlalu sempurna untuk sekadar ilusi.
Dan Cakra menyadari satu hal dengan jantung berdebar. Di Negeri Porkah, bahkan identitas pun bisa dinegosiasikan.
“Wow…” Cakra benar-benar kehabisan kata. Ia menatap sosok di hadapannya tanpa berkedip, seolah takut bayangan itu akan lenyap jika ia lengah sedetik saja. Penyanyi dunia duduk di hadapannya, nyata, bernapas, bahkan memiringkan kepala dengan cara yang terlalu familiar untuk disebut kebetulan. Tangannya sempat terangkat, jari-jarinya bergerak ragu, tergoda untuk memastikan bahwa wajah itu bukan sekadar proyeksi cahaya. Namun niat itu ia tahan. Ada batas tak tertulis yang tiba-tiba terasa perlu dihormati.
Tak lama kemudian, tubuh di hadapannya kembali bergerak. Garis wajahnya melunak, dalam sekejap, Mynhemeni kembali hadir, hanya saja potongan rambutnya kini masih menyerupai gaya idola dunia tersebut, memberi kesan asing yang ganjil.
“Kamu jadi kelihatan sedikit berbeda dengan potongan itu,” ujar Cakra akhirnya, suaranya jujur. Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa rambut perak panjang Mynhemeni jauh lebih memikat, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Seakan membaca itu, Mynhemeni kembali berubah. Rambut pirang kecokelatan itu memudar, memanjang, lalu kembali menjadi rambut awalnya.
Perak berkilau.
Cakra menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Sekarang aku paham. Pantes saja kalian nggak mungkin menolak jodoh cuma karena selera fisik. Kalian bisa menyesuaikan diri dengan selera siapa pun.”
“Betul,” jawab Mynhemeni santai.