“Tentu aku tidak menginginkan itu,” ucap Cakra cepat, nyaris refleks. Tatapannya meredup, bukan karena takut, melainkan karena ia paham betul posisi dirinya sekarang. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan dorongan gegabah yang biasanya muncul saat emosinya naik. Untuk pertama kalinya sejak terbang di lautan bersama Mynhemeni, ia memilih diam dan menimbang.
“Aku akan mematuhimu,” lanjutnya lebih pelan.
“Sampai aku benar-benar terbukti bukan ancaman. Sampai kalian mau menerimaku.” Ia menelan ludah, lalu memaksa bibirnya membentuk senyum tipis.
“Lagipula, baru sepuluh jam aku terpisah dari duniaku. Itu… belum lama, kan?” Kalimat terakhir itu terdengar seperti usaha meyakinkan diri sendiri. Di baliknya, pikirannya bekerja keras menyusun sugesti. Ayah dan ibunya pasti baik-baik saja. Dunia di atas sana tidak runtuh hanya karena ia menghilang sehari.
Keheningan menyusup di antara mereka, tipis namun terasa. Cahaya biru kehijauan dari dinding kabin beriak lembut, seperti sinar matahari yang teredam lapisan air laut. Samar terlihat cumi-cumi raksasa melesat menjauhi mereka. Cakra sempat menangkap itu. Cukup lama ia mengalihkan pandangan ke luar kabin yang beberapa kali berubah.
Transparan, lalu menutup kembali, transparan lagi, lalu menutup kembali. Ia akhirnya membiarkan seluruh dinding tertutupi, ornamen dinding yang sering berubah, bercahaya dan bergerak itu, lebih menarik untuk diamati. Dibanding dengan lautan gelap yang sunyi. Walaupun otaknya dapat memanipulasi penglihatannya, namun tetap saja. Di luar sana terasa kosong. Tak lama setelah menikmati berbagai macam ragam hias yang terselimuti seluruh sisi jet itu, Cakra kembali menoleh pada Mynhemeni. Seolah baru teringat sesuatu yang lebih ringan.
“Hei,” katanya, mencoba menggeser suasana. “Balik ke topik sebelumnya.”
Mynhemeni mengangkat alis. “Topik yang mana?”
“Yang soal hantu manusia darat,” jawab Cakra.
“Kenapa kamu bisa tahu tentang sundal bolong?” Nada herannya jujur. Pertanyaan itu sebenarnya sudah mengganjal sejak lama, sejak ia memamerkan sosok itu dengan setengah bercanda. Namun kekagumannya pada Sanvar kala itu terlalu besar hingga melelehkan rasa ingin tahunya sendiri.
Mynhemeni tersenyum kecil, ekspresinya berubah lebih santai.
“Tentu kami tahu,” katanya.
“Pertama, di sekolah kami mempelajari budaya kalian. Bukan cuma sejarah besar, tapi juga mitos dan cerita rakyat.”
"Semuanya?" Mynhemeni mengangguk pelan, bibirnya sedikit maju. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih ringan.
“Kedua, kami menonton film-film buatan manusia darat. Beberapa di antaranya… aku suka.” Ia mengedipkan mata, dan seketika udara di depan mereka bergetar halus. Sebuah layar casvet muncul, membentang selebar tiga puluh dua inci, bercahaya jernih di tengah kabin. Cakra refleks menyeringai.
“Ini beberapa daftar film manusia darat favoritku,” ujar Mynhemeni ringan sambil mengedipkan mata.
Setiap kedipan memicu perubahan pada layar casvet. Tampilan bergeser mulus, seolah mengikuti arus yang tak terlihat. Poster-poster film bermunculan satu per satu. Beberapa langsung dikenali Cakra, judul yang pernah ia tonton sendirian di kamar dengan lampu dimatikan. Atau ia saksikan dengan keluarganya. Serta beberapa ia tonton bersama para sahabatnya. Sisanya asing, menampilkan wajah-wajah dan simbol dari berbagai belahan dunia yang tak pernah ia jamah.
Ia sempat mengernyit. Tulisan di poster-poster itu jelas bukan bahasa yang ia kenal. Namun sebelum sempat bertanya, sanvar di pelipisnya berdenyut hangat. Huruf-huruf yang tadinya terasa jauh tiba-tiba terbaca, seolah otaknya memang selalu tahu arti kata-kata itu.
“Eh,” Cakra menunjuk salah satu poster. “Kamu nonton ini juga?”
Judul Kutukan yang Kupanggil Cinta terpampang jelas. Wajah perempuan bergaun pengantin adat Jawa hitam menatap dari layar, senyumnya kaku, matanya kosong. Aksesori emas berlapis di kepalanya berkilau suram, kontras dengan latar gelap di sekelilingnya.