Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #58

Jantung Anap

“Itu rumah orang tua mendiang suamiku,” ucap Mynhemeni sambil menunjuk ke satu bangunan di kejauhan.

Pandangan Cakra langsung tertarik ke arah yang dimaksud. Bangunan itu menyerupai gelang mutiara raksasa yang disusun bertingkat, menjulang hampir empat puluh lantai melingkar sempurna. Tingginya tak kurang tinggi dari gedung tertinggi di daratan. Jendela-jendela besar membentang tanpa putus mengelilingi tubuh bangunan, masing-masing begitu tinggi hingga satu jendela saja memaparkan dua sampai tiga lantai sekaligus. Kaca-kaca itu terjepit di antara dua sisi mutiara yang melengkung halus, seolah bangunan itu dipeluk oleh cangkang raksasa yang setengah tertutup.

Seluruh struktur itu melayang hampir tiga ratus meter dari dasar, tanpa tiang, tanpa fondasi, tanpa satu pun penopang yang terlihat. Seakan ia berdiri hanya karena memilih untuk tetap berada di sana. Dari salah satu sisinya, sebuah jembatan memanjang dan meliuk seperti tulang punggung dinosaurus purba. Rusuk-rusuknya berpendar dalam warna berbeda, berdenyut pelan mengikuti ritme yang tidak berwujud. Lantai jembatan itu menyerupai sungai bening yang mengalir tenang, lengkap dengan biota laut kecil yang berenang bebas di dalamnya.

Air dari sungai itu meluap di beberapa bagian, tumpah keluar jembatan dan membentuk tirai air terjun bercahaya. Indah, tapi janggal. Airnya tampak jatuh, namun tidak pernah benar-benar mencapai dasar. Beberapa ikan yang ikut terbawa arus justru berbalik arah, berenang naik melawan arus dan gravitasi, seperti tahu bahwa jatuh bukanlah satu-satunya pilihan. Sebuah simfoni gerakan yang membuat logika Cakra tersendat.

Ujung jembatan itu menempel pada bangunan lain berbentuk corong raksasa. Tangkainya menjulur ke bawah, seakan menancap ke tanah, meski yang ada hanyalah dasar laut yang sunyi. Panjang jembatan itu sekitar dua ratus tujuh puluh meter, menghubungkan bagian atas bangunan corong dengan sisi bawah gedung gelang mutiara. Tepat di bawahnya, tiga hamparan luas menyerupai taman kota mengambang di atas terumbu karang, bersanding tenang dengan tiang corong yang menopang bangunan tersebut.

Arsitektur Anap terasa sederhana. Hampir membosankan. Namun justru di sanalah letak keanehannya. Segalanya terlalu terukur, terlalu tenang, terlalu patuh pada aturan yang tidak Cakra pahami. Dan itu membuatnya menakjubkan.

“Bangunannya unik,” gumam Cakra. Matanya tak lepas dari pemandangan itu.

“Indah sekali.”

“Di sebelahnya kantor orang tua mendiang suamiku,” kata Mynhemeni.

“Mereka Ketua dan Wakil Ketua distrik ini.” Ia tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, kosong, seolah bangunan-bangunan itu hanyalah bayangan dari sesuatu yang jauh lebih berat. Cakra mendengar ucapannya tanpa menangkap kekosongan di balik nada suaranya. Ia masih terlalu sibuk mengagumi Anap.

“Siapa yang Ketua dan siapa yang Wakil Ketua?” tanya Cakra sambil memutar kepala ke kanan dan kiri, menyapu panorama kota yang aneh, sunyi, penuh misteri, namun terasa aman.

“Ibu mertuaku Ketuanya,” jawab Mynhemeni.

“Ayah mertuaku wakilnya.” Ia terdiam sesaat.

“Kita sudah sampai.” Suara Chupa, sanvar miliknya, bergema singkat di kepalanya. Dunia di sekitar mereka bergetar ringan, lalu bergeser. Dalam satu kedipan, kaki Cakra sudah menapak di atas taman terumbu karang tepat di bawah gedung mutiara.

Permukaannya terasa padat dan stabil, seperti tanah basah setelah hujan. Pohon-pohon menjulang dengan batang yang memantulkan cahaya warna-warni, sementara dedaunannya bergoyang lembut dalam gerakan yang serempak, seolah mengikuti alunan simfoni yang hanya bisa dirasakan, bukan didengar. Di sekelilingnya, ikan-ikan kecil berenang bebas. Sebagian memancarkan cahaya, sebagian hanya melintas sebagai bayangan hidup.

Bukan hanya ikan.

Di antara terumbu dan cahaya, Cakra melihat makhluk-makhluk asing bergerak perlahan. Bentuknya tak pernah ia jumpai di daratan. Untuk sesaat, ia lupa bahwa dirinya berada jauh di bawah laut.

“Kenapa kita tiba-tiba sudah di luar?” Cakra bertanya dengan dahi berkerut. Jet yang tadi mereka tumpangi lenyap begitu saja, seolah dipotong dari realitas.

“Terus… jetnya ke mana?” Mynhemeni melayang tenang di sampingnya.

“Sama seperti saat masuk kendaraan. Tubuhmu ditarik keluar dengan kecepatan tinggi.” Nada suaranya datar, seakan hal itu sepenuhnya biasa.

“Jetnya sudah aku perintahkan menuju area parkir. Kendaraan yang tidak dipakai tidak boleh dibiarkan sembarangan.”

“Area parkir?” Cakra mengulang, masih berusaha mencerna.

“Aku minta Chupa mencari tempat yang sepi,” lanjut Mynhemeni. “Aku tidak ingin memarkir jet di rumah orang tua almarhum suamiku.”

“Chupa?” Cakra menoleh. Ia kini ikut melayang di atas plitan yang muncul dari permukaan terumbu karang. Struktur itu terasa padat di bawah telapak kakinya, meski mengambang. Dari sela-selanya tumbuh sesuatu yang tampak seperti rumput laut pucat. Ujung-ujungnya bergerak pelan, lalu satu per satu terlepas dan melayang ke arahnya.

“Chupa itu nama Sanvarku,” jawab Mynhemeni. “Kami bisa berkomunikasi langsung. Busanamu tidak bisa, karena kami menonaktifkannya.”

Lihat selengkapnya