Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #59

Otak yang Menolak Patuh

“Tentu saja,” jawab Saljiva akhirnya sambil tertawa pendek. Nada suaranya terdengar lega, hampir ceroboh.

“Aku seperti sedang melakukan kriminal.” Ketegangan di bahunya mengendur. Dadanya naik turun dengan ritme normal, tak lagi seperti seseorang yang baru saja menahan napas terlalu lama. Ia menoleh ke arah Cakra, menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu yang terang-terangan.

“Jadi kamu anak remaja daratan itu?” katanya.

“Aku Saljiva. Kamu?” Ia mengulurkan tangan kanannya, telapak terbuka, gesturnya ramah dan spontan.

Cakra menatap tangan itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Gadis di hadapannya berwajah mirip orang Asia Timur, kulitnya cerah dengan sorot mata tajam yang terasa cerdas. Kebingungan masih mengendap di wajah Cakra.

“Kenapa diam saja?” Saljiva mengayunkan tangannya sedikit. “Bukankah cara berkenalan kalian seperti ini?”

“Iya, benar,” jawab Cakra cepat, sedikit tersentak. Ia menjabat tangan Saljiva, cengkeramannya ragu tapi tulus.

“Aku Cakra. Salam kenal.”

“Nama yang terdengar indah,” ujar Saljiva sambil tersenyum.

“Salam kenal juga.” Ia kemudian melayang ringan menyusul Mynhemeni, yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di depan mereka. Kepala Mynhemeni bergerak perlahan ke kiri dan kanan, matanya menyapu ruang kosong di hadapan mereka seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.

“Kamu sudah tahu nama kakak iparku?” tanya Saljiva sambil melayang sejajar dengan Mynhemeni. Ia sampai harus menoleh ke belakang, memastikan Cakra masih di belakang mereka.

Cakra menggaruk tengkuknya.

“Tadi aku dengar dia menyebut aku Hemy,” katanya jujur.

“Jadi aku yakin… namanya Hemy.”

“Namaku Mynhemeni.” Suara itu terdengar tegas, dingin, tanpa emosi berlebih. Mynhemeni tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.

“Hanya orang terdekatku yang memanggilku Hemy.” ucap menoleh kepada Cakra. Mengisyaratkan untuknya mendekat. Cakra refleks meluruskan punggungnya. Kemudian melayang pelan ke arah mereka. Kini ia berdiri di sisi kanan Mynhemeni, sementara Saljiva berada di sisi kirinya, berjarak kurang dari dua meter. Mereka bertiga berada di ujung kiri ruangan persegi panjang itu. Mynhemeni dan Cakra menghadap sisi panjang ruangan, sementara Saljiva berdiri menghadap dinding lebarnya.

Lapisan cahaya tipis muncul di udara, membentuk bidang transparan seperti layar yang hanya bisa dilihat oleh Saljiva dan Mynhemeni. Simbol-simbol geometris bergerak pelan, saling bertaut lalu terpisah. Pilar cahaya yang sebelumnya pasif kini berdenyut lebih cepat. Beberapa bola kristal melayang mendekat, berhenti di sekitar tubuh Cakra, berputar perlahan seperti satelit kecil.

Salah satunya melintas sangat dekat dengan wajahnya. Cakra refleks memejamkan mata, namun tidak merasakan apa pun. Tidak panas. Tidak dingin. Hanya sensasi halus, seperti sentuhan air yang sangat tipis.

Meja transparan di sisi ruangan bergeser sendiri. Permukaannya berubah, menampilkan lapisan cahaya yang terus bergerak, seolah sedang menyelaraskan diri. Cahaya di lantai berpendar lembut, menyusuri tubuh Cakra dari kaki hingga kepala, lalu menghilang.

Saljiva dan Mynhemeni berdiri diam. Kepala mereka bergerak perlahan. Sesekali mereka berkedip serempak, seolah menerima informasi langsung ke dalam pikiran mereka. Detektor di ruangan itu jelas sedang aktif, membangunkan setiap sistem analisis yang ada, mencoba membaca tubuh Cakra dari segala sisi.

Semenit berlalu dalam diam.

Cakra akhirnya tak tahan.

Ia mengangkat tangan sedikit, ragu.

“Aku harus ngapain?” tanyanya.

“Aku nggak tiduran atau... masuk ke tabung gitu?” Suaranya terdengar canggung, nyaris kecil, kontras dengan ruangan yang terasa terlalu besar dan terlalu sadar akan keberadaannya.

“Belum dulu. Sebagian besar data dasar tubuhmu sudah kami dapatkan,” jawab Mynhemeni singkat. Nada suaranya datar, fokusnya tak bergeser sedikit pun dari panel cahaya di hadapannya.

“Kami sedang mencari metode yang memungkinkan untuk menganalisis tubuhmu lebih jauh.”

Cakra mengangguk pelan, meski kebingungan masih menempel di wajahnya.

“Oke… kalau begitu aku boleh duduk?” Ia menelan ludah.

“Aku harus duduk di mana—” Kalimat itu belum selesai ketika tubuhnya terasa ringan, seperti ditarik oleh tangan tak kasatmata. Dalam sekejap, ia sudah duduk di atas sebuah kursi melayang berbentuk setengah lingkaran. Permukaannya empuk, jauh lebih nyaman dari yang ia bayangkan. Bahkan terlalu nyaman.

“Eh—”

Tarikan kedua datang tanpa peringatan. Tubuhnya dipaksa berbaring. Refleks, Cakra hendak protes. Kursi itu jelas tidak cukup panjang untuk tubuhnya.

Namun sebelum suara keluar dari tenggorokannya, kursi tersebut bergerak.

Lihat selengkapnya