“Saya sangat yakin, Komandan. Georu tahu di mana keberadaan Komandan Mynhemeni. Kakaknya.” Petugas berambut biru itu berdiri tegak, rahangnya mengeras menahan desakan keyakinan. Rambut Turquoise Blue miliknya berkilau lembut di antara cahaya hologram berpendar. Nama Olhuioruik tertera jelas di bawah dadanya. Ia tidak bergeming, bahkan ketika tatapan Komandan Bzarrmu menajam.
Bzarrmu tidak serta-merta percaya. Ia telah cukup lama memimpin pasukan keamanan Distrik Nor untuk tahu bahwa keyakinan pribadi bukanlah bukti. Terlebih, kecurigaan itu diarahkan pada Georu, seorang petugas yang selama ini dikenal disiplin. Bahu Bzarrmu sedikit menegang, tangannya berhenti di atas panel kendali.
Olhuioruik memang sengaja memilih jalur ini. Ia langsung menghubungi Bzarrmu lewat Sanvarnya, memotong prosedur resmi. Saat itu, Bzarrmu baru saja hendak menghubungi seluruh ketua tim di bawah pengawasannya, ketika getaran halus merambat di kesadarannya.
Sanvarnya aktif.
Suara internal bergema di dalam kepalanya, dingin dan terukur. Permintaan sambungan dari Olhuioruik. Informasi penting. Bzarrmu mengizinkan, dengan dugaan awal bahwa ini berkaitan langsung dengan pelacakan Mynhemeni atau tentang anak manusia darat yang kini menjadi pusat kekacauan Distrik Nor. Namun yang ia terima justru rangkaian kesimpulan yang membuat alisnya mengerut.
“Coba Komandan perhatikan posisi terakhirnya sebelum dia pergi bertugas,” lanjut Olhuioruik, nadanya menurun namun tetap tegas. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Olhuioruik memaksa transfer data. Sebuah kepingan memori berbentuk bola kecil mengalir masuk ke kesadaran Bzarrmu melalui Sanvarnya. Cahaya data menyala dalam benaknya. Jalur aktivitas Georu selepas rapat tim kecilnya terurai satu per satu, rapi dan mencurigakan.
“Dia kembali ke rumahnya.” Desakan hasut keluar lancar dari mulutnya.
“Saat aku mencoba mengakses sistem pengamat untuk melihat apa yang terjadi di sana, tidak ada apa pun. Rumah itu seolah menutup diri dari sistem pengawasan,” tambahnya. Informasi itu tersusun cepat, terlalu rapi untuk diabaikan. Membuat Bzarrmu sekali lagi mencetak kerutan di dahinya. Dan di balik semua logika yang ia miliki, Bzarrmu merasakan sesuatu yang tidak ia sukai. Sebuah firasat halus bahwa mereka mungkin sedang mengejar bayangan, sementara kebenaran bergerak satu langkah lebih dulu.
Bzarrmu sama sekali tak memahami obsesi Olhuioruik. Bagi sang komandan, tudingan bahwa gadis yang kini bersama Saljiva dan Cakra itu sengaja membiarkan dirinya dibawa paksa oleh remaja manusia darat terdengar berlebihan. Terlalu dipaksakan. Namun rumor terlanjur menyebar seperti arus liar di antara petugas keamanan tingkat satu gedung pemerintahan Distrik Nor. Bisik-bisik itu menyebut Mynhemeni telah dihipnotis. Dipatahkan kehendaknya. Dijadikan sekutu oleh anak manusia yang seharusnya menjadi tahanan. Sebagian bahkan meyakini lebih jauh. Mereka percaya Mynhemeni telah berpihak pada musuh dan kini bersembunyi, menyusun rencana untuk menyerang negeri Porkah dari dalam.
“Dia sengaja mengaktifkan mode penyamaran, Komandan!” Olhuioruik menyela dengan suara meninggi. Gestur hologramnya bergetar, seolah emosi ikut mengganggu kestabilan proyeksi.
Bzarrmu menghela napas pelan. Ia mengangkat satu tangan dan menggerakkan kepalanya sedikit. Tayangan yang ditampilkan Olhuioruik lenyap seketika. Kini yang tersisa hanyalah bayangan hologram bawahannya, melayang di udara, tanpa kejelasan ia sedang berada di gedung apa atau area mana.
“Kamu tahu, setiap dari kita berhak mengaktifkan mode penyamaran demi privasi. Itu legal. Diatur. Dilindungi hukum.” Ucap Bzarrmu tenang namun tegas. Ia melangkah sedikit, lantai bercahaya di bawah kakinya memantulkan siluet tubuhnya yang tampak matang, nyaris di puncak usia produktif.
“Lagipula,” lanjutnya, “apa yang dilakukan Komandan Mynhemeni bukan tindak kejahatan. Dia jelas sedang berada dalam situasi tidak menyenangkan. Prioritas kita adalah menemukannya. Memastikan dia kembali dalam keadaan sehat.” Nada suaranya menunjukkan satu hal yang jelas. Ia tidak tertarik pada spekulasi.
Kalaupun rumor itu benar, solusinya sederhana dan telah tertulis dalam protokol. Jika Mynhemeni bersikeras melindungi anak itu, maka nyawanya boleh diambil. Perintahnya sudah ada. Namun jika ternyata ia hanya berada di bawah pengaruh, maka seluruh kekuatan Distrik Nor akan dikerahkan untuk menyelamatkan salah satu dari kaum mereka sendiri.
“Sekarang fokus,” potong Bzarrmu.
“Kerjakan tugas yang sudah diberikan ketua timmu.”
Olhuioruik ragu sejenak.
“Mohon izin, Komandan. Tolong sampaikan kecurigaanku kepada Wakil Ketua.” Bzarrmu menatap lurus ke arah hologram itu. Tatapannya tajam, lelah, dan penuh batas.
“Aku tidak tertarik menyampaikan hal yang tidak penting. Kalau kamu mau, sampaikan sendiri. Katakan aku sudah mengizinkan,” katanya dingin.
Secara fisik, ia tampak seperti pria di penghujung tiga puluhan. Bahunya tegap. Wajahnya tenang. Namun di balik itu, usia biologisnya telah melewati tujuh puluh tahun. Dan pengalaman selama itu mengajarkannya satu hal. Tidak semua kecurigaan layak dipercaya.
“Tapi seperti yang kita ketahui, Wakil Ketua sedang berada di Istana,” ujar Bzarrmu, nadanya sedikit diturunkan.
“Jadi…” Ia tidak melanjutkan kalimat itu, karena semua orang di Distrik Nor paham konsekuensinya. Jika Wakil Ketua sudah memasuki Istana Kerajaan Porkah, ia nyaris tak tersentuh. Setidaknya tiga hari. Kadang lebih. Urusan di sana selalu berlapis, selalu berlarut, dan jarang berakhir cepat.
Olhuioruik justru menegakkan bahunya, seolah menunggu momen itu.
“Beliau tidak jadi ke Istana Ketua,” katanya cepat. Ada nada puas yang gagal ia sembunyikan.
“Ratu beberapa menit lalu, tiba di Nor.” Bzarrmu sedikit mengernyit.
“Awalnya hanya kunjungan pribadi,” lanjut Olhuioruik, semakin bersemangat.