“Belum,” jawab Mynhemeni pelan namun tegas.
“Maroz dan kejut listrik sudah tidak mempan padanya.” Ia berhenti sejenak, seolah membiarkan makna kalimat itu meresap.
“Sekarang kamu bisa membayangkan sendiri seberapa kuat anak itu.”
Kulit tengkuk Georu terasa merinding.
“Kami akan menganalisis kekuatannya setelah ada kepastian dia bukan ancaman. Itu sebabnya aku butuh komponen itu segera,” lanjut Mynhemeni.
“Baik, Kak,” sahut Georu cepat.
“Aku ke kantor kakak sekarang. Yermi sudah diberi akses untukku, kan?” Yermi adalah penjaga ruangan. Sebuah sistem keamanan yang menyatu dengan ruangan, memiliki kesadaran terbatas, dan mampu menampilkan diri dalam berbagai bentuk.
Kadang berupa hologram transparan, kadang berwujud tiga dimensi yang nyaris menyerupai makhluk hidup. Sistem itu terhubung langsung dengan Sanvar pemilik ruangan, memungkinkan ruang kerja diakses dari mana pun selama otoritas masih berlaku.
Jika pemilik berganti, serah terima dilakukan oleh otoritas yang lebih tinggi. Ada kalanya pemilik lama me-reset Yermi, setidaknya bagian personalnya, karena hubungan antara Sanvar dan Yermi sering kali tumbuh menjadi sesuatu yang nyaris emosional.
“Sudah... Kamu tinggal masuk saja. Segera ke kantor kakak,” jawab Mynhemeni tanpa ragu. Sesaat kemudian, ruang di sekitar Georu berlipat seperti kaca cair. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di hadapan pintu ruang kerja Mynhemeni.
“Sudah, Kak,” ucapnya.
“Aku di depan ruang kerja Kakak. Yermi sudah menungguku.”
Meski bangsa Porkah mampu berteleportasi, akan tetapi tetap ada batasan di mana mereka boleh muncul. Mereka tidak dapat muncul begitu saja, terutama untuk ruang-ruang personal, hunian pribadi, dan gedung pemerintahan. Gedung pusat Distrik Nor adalah salah satunya. Hanya mereka yang memang menjadi bagian gedung itu. Atau bagi mereka yang memiliki izin khusus yang dapat langsung hadir di dalamnya. Sisanya akan terhenti tak jauh dari lobi utama.
“Sekarang aku sudah di ruang kerja Kak Hemy,” ujar Georu lagi. Ruangan itu kosong. Tak tampak seperti ruang kerja sama sekali.
“Baik,” suara Mynhemeni terdengar di benaknya. “Aku kirim instruksi ke Yermi.”
“Siap, Kak.”
Begitu Mynhemeni mengedipkan mata di tempatnya berada, ruangan di hadapan Georu bergerak. Lantai bergeser, dinding berpendar, dan dari kehampaan bermunculan meja melayang, panel data, serta perangkat analisis yang tersusun rapi. Semua hadir seolah ruangan itu baru saja terbangun dari tidur panjang.
Georu mengamati sekeliling, lalu matanya tertumbuk pada sebuah kapsul yang terlepas perlahan dari salah satu meja.
“Yang ini, Kak?” tanyanya sambil menunjuk kapsul itu.
“Iya,” jawab Mynhemeni. “Tunggu sampai kanopinya terbuka.”
Permukaan kapsul itu terbelah halus, tanpa suara, memperlihatkan bagian dalamnya.
“Nah,” lanjut Mynhemeni.
“Sekarang ambil komponen Rizr Gp78. Bentuknya seperti ini.”
Contoh visual langsung muncul di benak Georu.
“Oke.” Ia meraih komponen kecil itu. Tidak sulit melepaskannya dari inangnya. Benda itu terasa hangat di telapak tangannya, berdenyut lembut seperti masih hidup.
“Aku menuju tempat Shiva sekarang,” ucap Georu.
“Undangannya sudah kuterima.” Beberapa detik kemudian, tubuhnya memudar dan lenyap. Yang tertinggal hanyalah jejak gangguan energi yang halus.
Jejak yang kini tidak lagi luput dari perhatian Olhuioruik.
Olhuioruik tak membuang waktu. Begitu transfer seluruh data wawancara selesai, ia langsung melayang keluar dari ruang ketua timnya. Cahaya dinding berlapis kristal berpendar lembut saat ia melesat di koridor, arus energi di sekeliling tubuhnya mengikuti gerakan cepatnya. Ada satu hal yang mengganjal pikirannya sejak beberapa saat lalu. Georu.
Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan juniornya itu sekarang.