“Kak… ini komponen yang kalian butuhkan.” Suara Georu tidak terdengar di udara, melainkan langsung bergema di kepala Mynhemeni. Ia muncul begitu saja di ruang kerja pribadi milik orang tua Saljiva, seolah dilahirkan dari cahaya biru kehijauan yang memenuhi ruangan itu.
Dinding berkilau lembut seperti bagian dalam cangkang mutiara, memantulkan sinar yang bergerak pelan, menyerupai arus laut yang tak pernah benar-benar diam. Georu tetap berbicara melalui Svalin, menjaga agar suaranya tak sampai ke telinga Cakra.
Remaja itu, yang semula duduk di atas kapsul transparan yang kini telah berubah bentuk menjadi kursi goyang, langsung tersentak. Matanya melebar. Napasnya terhenti sesaat ketika sosok yang paling ia kenali dalam ingatan buruknya muncul begitu saja di ruangan supercanggih itu. Sosok yang beberapa jam lalu menyiksanya, saat ia pertama kali sadar setelah dihantam ombak Parangtritis.
Tanpa berpikir panjang, Cakra melompat turun dan berdiri tepat di depan Mynhemeni dan Saljiva. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya, membentuk posisi menghadang secara naluriah. Kedua tangannya mengepal, bahunya menegang, seluruh sikapnya menyiratkan kesiapan untuk melindungi mereka dari Georu yang terus melangkah mendekat.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa kursi yang semula menopang tubuhnya telah lenyap seketika, seolah keberadaannya tak lagi dianggap penting dibanding ancaman di hadapan mereka.
“Tenang,” ucap Mynhemeni cepat, suaranya tegas namun menenangkan.
“Dia adikku.”
Cakra membeku.
Sebaliknya, Georu justru berhenti melangkah. Alis peraknya terangkat, matanya meneliti Cakra dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan. Ada kekaguman di sana. Bukan kagum yang berlebihan, melainkan sesuatu yang tulus, seperti seorang prajurit melihat keberanian mentah yang belum diasah.
Dengan santai, Georu mengacungkan jempol kirinya ke arah Cakra. Tangan kanannya menyerahkan komponen yang dibawanya. Benda itu melayang sendiri, berkilau singkat, lalu melesat masuk ke salah satu tabung transparan yang mengambang di sisi kiri Saljiva. Gerakan jari kiri Georu sedikit berputar, seolah memberi isyarat bahwa aksi Cakra barusan cukup heroik. Wajahnya ikut berbicara. Alis peraknya yang tebal bergerak naik turun, diakhiri senyum puas yang nyaris jahil.
“Adikmu?” tanya Cakra pelan, nyaris tak percaya.
Ketegangan di wajahnya mulai runtuh. Tatapan bertahan itu bergeser menjadi bingung. Lalu, tanpa alasan yang benar-benar ia pahami, Cakra turut tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Ia sendiri tak tahu kenapa. Mungkin, pikirnya, ini memang cara bangsa Porkah saling menyapa.
“Maaf,” ucap Georu, kali ini dengan suara yang terdengar jelas.
“Aku harus membuatmu pingsan waktu itu.” Ia melangkah lebih dekat dan merentangkan tangan ke arah Cakra.
“Aku Georu. Salam kenal.”
Di saat yang sama, Mynhemeni dan Saljiva sudah kembali tenggelam dalam pekerjaan mereka, bertukar data dan cahaya holografis, meninggalkan Cakra sendirian dengan kebingungannya.
Cakra melirik tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah Georu. Wajah yang cantik dengan cara yang asing baginya. Wajah orang yang pertama kali menyakitinya, tepat setelah ia terbangun dari bencana ombak yang menyeretnya dari dunia manusia ke negeri bawah laut ini.
“Aku kira tadi kamu mengacungkan jempol karena mau ngajak kenalan,” ucap Cakra ragu, membiarkan tangan Georu tetap melayang di udara.
“Bukannya itu cara kalian memberi tahu seseorang kalau dia kelihatan keren?” balas Georu ringan.
Tangannya sedikit diayun, sabar, menunggu.
“Oh.” Cakra terkekeh kecil, canggung.
“Aku Cakra.” Ia akhirnya menerima uluran itu. Jemarinya bertaut dengan tangan Georu yang hangat dan nyata, seolah menegaskan bahwa ia masih ada di dunia ini. Untuk sesaat, ingatan tentang rasa sakit dan ketakutan mereda. Bahkan sengatan listrik yang beberapa jam lalu dilepaskan sosok di hadapannya terasa menjauh, seperti gema yang perlahan ditelan keheningan.
Cakra masih menggenggam tangan Georu beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Pandangannya menelusuri setiap guratan di wajah pria itu, dari garis rahang yang tegas hingga mata yang berkilau pucat seperti cahaya yang menembus air laut dalam. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari kemiripan yang tak mungkin kebetulan. Georu dan Mynhemeni serupa bayangan yang dipisahkan waktu. Wajah mereka bagai pinang dibelah dua.
Perbedaannya baru terlihat ketika Cakra mengamatinya lebih saksama. Di bagian tengah kerongkongan Georu, jakun itu menonjol jelas, memberi kesan maskulin yang kasar dan tak disamarkan. Lengan dan bahunya lebar, pahatan ototnya tegas meski terbungkus sanvar yang melekat rapat seperti kulit kedua. Rambut peraknya dibiarkan panjang dan tergerai, bergerak perlahan mengikuti arus halus yang nyaris tak terasa. Seluruh kombinasi itu membentuk sosok yang sulit didefinisikan. Georu tampak cantik dengan cara yang tak lazim, keras dan lembut berpadu dalam satu tarikan napas.
“Kalian mirip banget,” kata Cakra spontan.
“Kembar, ya?” Ia melepaskan genggaman setelah Georu memberi isyarat ringan, nyaris tak kentara.
“Bukan... Usia kami terpaut jauh,” jawab Georu cepat. Ia melirik Mynhemeni sekilas, senyumnya melebar nakal.
“Tapi banyak yang salah kira. Yang jelas, dia bakal menua lebih cepat daripada aku.” Mynhemeni mendengus, tapi tak membalas. Georu sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Ia membiarkan dirinya jatuh bebas, dan tepat sebelum menyentuh lantai, sebuah kursi melayang muncul dari cahaya tipis. Tubuhnya mendarat empuk di atasnya. Cakra refleks menoleh ke belakang. Kursi yang tadi ia duduki sudah tak ada. Ia ragu sepersekian detik, lalu meniru Georu. Tubuhnya jatuh, dan kursi lain muncul tepat waktu, menahan punggungnya. Sensasinya aneh, seperti duduk di atas udara yang memutuskan untuk menjadi padat.