“Jangan sembarangan bicara, Rumsun. Hemy bukan anak seperti itu.” Suara Ratu Huji jatuh tegas, dingin, dan tak menyisakan ruang tawar. Kali ini, amarahnya nyata. Ia tidak lagi memanggil Rumsun dengan sapaan akrab. Tidak ada nada kekeluargaan di sana. Yang berbicara adalah seorang Ratu, berdiri penuh dalam otoritasnya.
Hubungan antara keluarga Huji dan Thungsiruv memang tak pernah benar-benar berjalan seiring. Retakan itu bermula enam puluh tahun lalu, ketika ayah Thungsiruv terpilih menjadi Raja, mengungguli ayah Rumsun dan Huji dalam keputusan rakyat. Sebuah pemilihan yang kala itu mengguncang lingkaran elite Porkah dan meninggalkan luka yang sulit dilupakan bagi Rumsun sekeluarga termasuk Huji.
Waktu berjalan, namun luka tidak sepenuhnya menutup. Dua puluh dua tahun lalu, ayah Thungsiruv wafat di usia senja kekuasaannya. Pada hari itulah estafet tahta berpindah tangan. Suami Huji, yang sebelumnya hanya salah satu kandidat terkuat, muncul sebagai pemenang pemilu dan dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Porkah.
Sejak saat itu, Huji bukan lagi sekadar nama dari keluarga yang pernah kalah. Ia berdiri sebagai Ratu di pusat kekuasaan. Sementara Thungsiruv hidup sebagai anak dari Raja yang perlahan berubah menjadi bagian dari sejarah. Demokrasi memang menjaga kestabilan negeri, tetapi garis-garis lama tidak pernah sepenuhnya lenyap.
Ironisnya, jauh sebelum tahta dan pemilu memisahkan mereka, sebuah pernikahan justru telah lebih dulu menyatukan dua keluarga itu. Thungsiruv menikahi sepupu Huji pada masa ketika ayahnya belum menjadi Raja, di waktu kekuasaan belum mengubah hubungan menjadi kalkulasi dingin. Bagi bangsa Porkah, pertalian darah dan pernikahan adalah fondasi yang dijaga tanpa kompromi. Perbedaan boleh ada, pendapat bisa berseberangan, kecurigaan pun wajar, namun kehormatan keluarga tetap dijunjung tinggi.
Karena itulah, Huji tidak sepenuhnya berpihak pada Rumsun, kakaknya sendiri.
Rumsun menarik napas, lalu menunduk sedikit.
“Maaf, Baginda Ratu,” katanya dengan suara yang lebih terkontrol.
“Rumor itu… mempengaruhi hamba. Membuat hamba tidak berpikir jernih.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, lebih hati-hati.
“Bahkan Ketua Thungsiruv tadi mengatakan bahwa beliau merasakan ada sesuatu yang janggal pada Komandan Mynhemeni.” Suasana ruangan berubah. Kehangatan keluarga yang sempat terasa kini menguap, digantikan ketegangan jabatan dan kepentingan. Rumsun melirik Huji sekilas, seolah berharap dukungan. Bukankah sudah sewajarnya seorang adik berdiri di pihak kakaknya?
Thungsiruv segera angkat bicara sebelum jarak di antara mereka melebar.
“Iya, walaupun begitu,” ucapnya tenang, suaranya berat namun menenangkan, “apa pun yang dilakukan Hemy pasti untuk kebaikan kita semua. Kita harus mempercayakan penuh tindakannya.” Nada bicaranya berbeda. Ia tidak berbicara sebagai Wakil Ketua Distrik, melainkan sebagai suami dari sepupu Huji, sebagai keluarga yang mencoba menjaga keseimbangan.
Huji menghela napas. Amarah di wajahnya mereda, meski belum sepenuhnya hilang.
“Betul, Kak... Walaupun rumor itu benar, aku yakin Hemy melakukannya bukan untuk mengkhianati bangsanya sendiri. Ia pasti berusaha menjaga kita semua,” katanya akhirnya.
Namun pelunakan itu sama sekali tidak menenangkan Rumsun. Di balik wajah tenangnya, kegelisahan justru semakin menguat. Hasratnya untuk menguasai Cakra berdenyut semakin keras. Ia tidak ingin Mynhemeni yang memegang kendali atas anak manusia darat itu. Ia bahkan belum sempat menyampaikan niat dan rencananya kepada Huji. Langkahnya selalu selangkah terlambat, tersalip oleh Thungsiruv, lagi dan lagi.
Padahal, ketika ia hendak berteleportasi menemui adiknya, pesan dari Huji sudah lebih dulu tiba. Sang Ratu berada di Nor dan meminta Rumsun datang secepatnya. Bukan sebagai pemimpin distrik, bukan sebagai Wakil Ketua, melainkan sebagai saudara. Thungsiruv yang memintanya, dengan nada meminta tolong, bukan diplomasi.
Kini, Rumsun hanya bisa menahan semua niat itu di dalam dadanya. Sejak tadi, hanya Thungsiruv yang memaparkan tentang anak manusia darat itu di hadapan Huji. Thungsiruv pula yang meminta agar Huji tidak gegabah, agar perkara ini tidak sampai ke telinga Raja, suaminya atau Perdana Menteri.
Permintaan itu murni datang sebagai keluarga. Jika kabar tentang manusia darat tersebut sampai ke pusat kekuasaan, Huji diharapkan mampu menjadi jembatan. Memberi pengertian pada Raja, meredam kepanikan seluruh bangsa Porkah yang telah lama hidup dalam bayang-bayang ancaman masa lalu.
Rumsun menggenggam tangannya sendiri. Kini kegelisahan itu terasa nyata. Harapannya tinggal satu, Olhuioruik.
Sementara itu, Yermi, kecerdasan penjaga ruang kerja Rumsun yang bernama Mergin, aktif. Tiga puluh tujuh detik setelah Olhuioruik memasuki ruang tunggu kantor Rumsun, suara Mergin bergema.
“Petugas Olhuioruik. Anda diminta oleh Wakil Ketua Rumsun untuk segera menuju ruang kerja Ketua Thungsiruv.”
Tanpa ragu, Olhuioruik bergerak. Tubuhnya melayang cepat meninggalkan ruang tunggu, melesat menyusuri lorong bercahaya menuju sayap seberang, tempat ruang Thungsiruv berada.
Sementara itu, Rumsun menatap kosong ke depan. Permainannya belum selesai.
“Selamat datang, Petugas Olhuioruik. Anda sudah ditunggu oleh Ratu, Ketua, dan Wakil Ketua. Silakan masuk.” Suara Yermi ruang kerja Thungsiruv bergema tenang. Begitu kalimat itu berakhir, dinding berwarna kuning keemasan di hadapan Olhuioruik bergetar pelan. Permukaannya bergerak seperti lapisan mutiara cair, lalu terbelah, menghadirkan gelombang air yang berputar rapi sebelum menyatu kembali menjadi ambang pintu.