“Kita tidak tahu apa lagi yang mampu dilakukan anak itu,” desak Rumsun. Suaranya meninggi, nyaris memantul di dinding bercahaya ruangan.
“Ia menyembuhkan diri dengan cepat. Kekuatan fisiknya jauh melampaui standar apa pun. Itu baru yang sudah kita lihat. Kita tidak tahu kekuatan apa lagi yang dimiliki anak itu...”
Ratu Huji menyipitkan mata, jemarinya menekan sandaran kursi.
“Apakah kemungkinan sejauh itu masuk akal?” tanyanya pelan, ragu namun waspada. Ia tidak menoleh ke Olhuioruik yang berdiri kaku di dekat pintu masuk, seolah keberadaan petugas itu sengaja dibiarkan menjadi bayangan di sudut ruangan. Rumsun dan Thungsiruv pun tampak tak terusik. Hanya Thungsiruv yang menggeleng pelan. Bukan penolakan, juga bukan persetujuan. Sebuah sikap menggantung yang jauh lebih berbahaya.
“Pokoknya kita datang dulu ke sana,” kata Rumsun, nadanya dipaksa tenang.
“Amankan semuanya. Setelah itu baru kita minta penjelasan dari Hemy. Kita dengar langsung darinya.” Hening turun, berat seperti tekanan air laut dalam. Ratu Huji akhirnya menoleh ke Thungsiruv, menatapnya lama, seolah keputusan itu sengaja diletakkan di pundaknya.
“Baiklah,” ucap Thungsiruv akhirnya. Suaranya mantap, meski matanya menyimpan keraguan.
“Kerahkan pasukan keamanan tingkat tinggi. Kita berkumpul di ruang pertemuan utama.” Ia menarik napas singkat.
“Aku akan ikut. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Hemy.”
Rumsun segera berbalik ke arah Olhuioruik. “Kamu dengar keputusan Ketua, kan?”
Tanpa sepatah kata, Olhuioruik langsung bergerak. Langkahnya cepat dan presisi saat ia meninggalkan ruangan, tangannya sudah aktif mengirim panggilan. Tak lama, proyeksi casvet menyala dua meter di depannya, menampilkan sosok Bzarrmu.
“Ada apa lagi?” tanya Bzarrmu, suaranya terdengar berat. Ia tampak enggan, namun jelas tak punya pilihan selain menjawab panggilan itu.
“Aku sudah menemukan Komandan Mynhemeni dan anak itu. Wakil Ketua memerintahkanku untuk mengumpulkan seluruh petugas keamanan tingkat tinggi di balai pertemuan utama.” Kalimat itu dilontarkan dengan senyum kemenangan yang tak berusaha disembunyikan.
Ada kepuasan yang licin di wajahnya. Kepuasan seseorang yang akhirnya bisa membuktikan bahwa keraguan atasannya selama ini keliru. Ia melesat pergi begitu saja, tubuhnya memotong arus cahaya seperti anak panah, membuat beberapa petugas yang melayang di jalurnya terkejut saat ia menyalip tanpa peringatan.
“Petugas keamanan gedung pusat, atau keamanan distrik, atau pertahanan nasional?” tanya Bzarrmu, suaranya ragu, pikirannya sudah bekerja cepat menghitung skala perintah itu.
“Aku rasa semuanya,” jawabnya ringan. Ia menoleh sebentar saat ingin menyalip seseorang, senyumannya makin lebar.
“Kalau begitu, itu termasuk aku, kan?” Statusnya berada dua tingkat di bawah Bzarrmu, cukup tinggi untuk membuatnya otomatis masuk dalam jajaran yang dipanggil. Bzarrmu mendengus pelan, lalu mengangguk.
“Baik. Kita bertemu sekarang.” Tanpa menunda, ia langsung mengaktifkan perintah panggilan massal. Seluruh pasukan aktif diarahkan ke balai pertemuan utama.
Saluran khusus dibuka ke komandan keamanan Distrik Nor dan komandan pertahanan nasional. Jaringan komunikasi Porkah berdenyut serempak, seperti organisme besar yang tiba-tiba terbangun.
Sementara itu, di pusat jantung Distrik Anap, ruang analisis utama berdenyut pelan seperti makhluk hidup. Cahaya kebiruan merambat di dinding transparan, beriak lembut menyerupai gelombang yang membeku. Udara terasa padat namun nyaman, seolah laut memilih untuk menahan dirinya sendiri.
“Gimana?” tanya Cakra, suaranya nyaris tak bisa menyembunyikan antusiasme.
“Sudah bisa mulai menganalisis aku lagi?” Ia sudah kembali ke kursinya, lalu melayang turun, kemudian berhenti tak jauh di atas Mynhemeni. Jarak mereka tak lebih dari lima meter. Membuat Mynhemeni harus mendongak.
“Sudah aman,” jawab Mynhemeni sambil mengangkat dagunya sedikit.