Pertanyaan itu tidaklah lahir dari sekadar rasa ingin tahu. Saljiva tidak ingin Cakra berakhir sebagai objek, apa pun hasil analisisnya nanti. Ia masih menyimpan harapan tipis bahwa Raja Rumoino dan pusat kekuasaan yang dipimpin Perdana Menteri Kilatuilom akan menolak rencana Rumsun mentah-mentah.
Mynhemeni tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah, menatap dinding bercahaya putih yang berkilau lembut, seperti lapisan mutiara raksasa.
“Kakak sudah memikirkan itu,” katanya akhirnya.
“Kalau memang kenyataannya seperti itu, Kakak akan langsung menteleportasi anak itu ke tempat asalnya. Rencana itu sudah ada jauh sebelum Kakak mengetahui niat Rumsun. Saat ini, rencana itu justru menjadi solusi paling masuk akal. Untungnya, sejak awal tugas ini dilimpahkan pada Kakak. Kalian tahu artinya, kan?” Ia menoleh pada Saljiva, lalu pada Georu. Tak perlu penjelasan lebih lanjut. Keduanya segera mengerti.
Itu berarti sanvar tahanan yang dikenakan Cakra sepenuhnya berada di bawah kendali Mynhemeni. Ia bebas mengutak-atik sistemnya tanpa perlu menautkannya kembali ke Nivar Sanvar Cakra yang berada di Alpam khusus, di dalam gedung pusat pemerintahan Distrik Nor.
“Banyak manusia darat yang mencarinya. Orang tuanya…” Suaranya sedikit melunak.
“Mereka terlihat sangat menderita. Kakak melihatnya sendiri. Kalian juga menyaksikannya.” Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
“Sejak saat itu, Kakak mulai menyusun rencana. Jika Cakra terbukti bukan ancaman, Kakak akan mengembalikannya ke daratan. Ia akan ditemukan secara alami, muncul di dalam gua palung tak jauh dari tempat ia pertama kali tersangkut. Gua itu akan Kakak buat menanjak. Mereka akan menemukannya di sana.”
Nada suaranya mengeras perlahan.
“Kakak tidak menyangka rencana itu justru harus digunakan karena niat Rumsun terhadapnya. Anak itu harus pulang ke rumahnya. Ada orang-orang di daratan yang menunggunya.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang kini sepenuhnya tegas, tanpa sisa keraguan.
“Itulah salah satu alasan Kakak menentang rencana Rumsun sejak awal.”
Mynhemeni kembali berhenti. Menoleh sekali lagi pada Saljiva dan Georu. Perlahan.
“Setelah itu, Kakak akan menghapus ingatannya.”
Keheningan jatuh di antara mereka, berat namun terkendali. Mynhemeni melanjutkan, suaranya stabil, seolah sedang menyusun sesuatu yang sudah lama dipikirkan.
“Bukan hanya ingatan Cakra. Ingatan kita tentang proses teleportasi itu juga akan kakak hapus. Sanvar tahanan tetap akan berada di tubuhnya. Sengaja.”
Georu mengernyit tipis, tapi tidak menyela.
“Mode penyamaran akan Kakak aktifkan,” lanjut Mynhemeni.
“Agar bangsa kita tidak bisa menemukannya. Fungsi lain akan kakak nonaktifkan. Dia tidak akan sadar bahwa dia masih menggunakan Sanvar tahanan. Dan bangsa kita,” ia menegaskan, “tidak akan pernah bisa melacaknya.”
“Oke,” ujar Georu akhirnya.
“Aku setuju. Semoga saja kita tidak mendapat masalah besar karena menyembunyikannya.”
Mynhemeni tersenyum tipis.
“Masalah pasti ada. Paling-paling kita akan terus diinterogasi sampai Rumsun lelah sendiri.” Ia mengangkat bahu ringan.
“Dan pada akhirnya, terpaksa merelakan anak itu pergi.”
Tiba-tiba, sebuah suara memecah percakapan.
“Hei… apakah aku harus begini terus?” Cakra menggerakkan kepalanya sedikit. Ia sudah lama berbaring, tidak merasakan apa pun, tidak sakit, tidak kebas, hanya kosong.
Ia bahkan sudah bersiap jika tubuhnya kembali kaku seperti sebelumnya. Suaranya yang tiba-tiba itu membuat mereka semua tersentak, seolah gelombang tak terduga menghantam ruang hening tersebut.
“Sebentar lagi,” jawab Saljiva sambil mengedipkan mata. Dari balik kelopak matanya, muncul bola kecil berwarna hijau yang melayang pelan sebelum menyatu ke dalam komponen transparan yang dibawa Georu.
Permukaannya berdenyut halus, seperti organisme hidup yang baru saja terbangun.
“Oh. Kirain sudah mulai,” gerutu Cakra. “Kalian dari tadi cuma diam.”
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak beberapa saat lalu, nasibnya sedang dibahas tanpa satu kata pun terucap. Percakapan itu mengalir sunyi lewat svalin, cepat dan padat, tepat di atas kepalanya.
“Kamu sudah siap?” tanya Saljiva, tetap fokus, sama sekali tidak menanggapi rengekan itu.