Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #66

Jejak yang Dihapus

“Komandan Mynhemeni telah menteleportasi subjek, Wakil Ketua,” lapor Olhuioruik dengan suara yang sengaja dikeraskan. Kalimat itu dilempar seperti api ke tengah ruangan.

“Komandan Mynhemeni!” Thungsiruv membentak. Amarahnya akhirnya pecah.

“Apa yang sudah Anda lakukan?” Ia melangkah maju, napasnya berat, tatapannya bergetar antara marah dan tak percaya. Anak perempuannya. Komandan terbaiknya. Telah bertindak sejauh ini tanpa satu kata pun padanya.

Tanpa diskusi.

Tanpa izin.

Namun di balik kemarahannya, ada keraguan yang menggerogoti. Beberapa detik terakhir terus berputar di kepalanya. Tidak masuk akal jika Mynhemeni dikendalikan anak manusia darat itu. Tidak mungkin ia mengkhianati Porkah. Tidak mungkin ia mempertaruhkan bangsanya demi makhluk yang bahkan statusnya belum jelas.

“Maaf, Ketua.” Suara Mynhemeni tenang, terlalu tenang untuk situasi setegang ini.

“Saya harus melakukannya. Demi melindungi Kerajaan Porkah.” Ia berdiri tegak, menatap satu per satu wajah yang kini memandangnya seperti orang asing.

“Kami sudah menganalisis anak itu. Tidak ada detektor. Tidak ada ancaman. Tidak ada satu pun indikasi yang membahayakan bangsa kita.”

Bisik-bisik langsung menyebar, cepat dan tajam.

“Karena dia bukan ancaman,” lanjut Mynhemeni.

“Maka saya mengembalikannya ke tempat asalnya. Sesuai prosedur standar Kerajaan Porkah. Dipulangkan ke daratan. Ingatannya tentang kita dihapus. Selesai. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.” Ia melangkah mendekati Thungsiruv. Seketika pasukan di sekeliling Ketua bergerak serempak, membentuk barisan pelindung. Senjata aktif. Sistem pertahanan menyala. Mereka bersiaga, seolah Mynhemeni adalah bahaya yang harus dijatuhkan saat itu juga.

Melihat pemandangan itu, Mynhemeni tertawa pendek. Bukan tawa gembira. Lebih mirip napas pahit yang lolos tanpa bisa ditahan.

Georu dan Saljiva tetap berdiri di tempat mereka. Tubuh kaku. Pikiran kosong. Bahkan untuk sekadar berkomunikasi tanpa suara pun mereka tak berani. Apa pun yang terjadi selanjutnya, berada di luar kendali mereka.

“Kalian,” suara Mynhemeni merendah, matanya menyapu pasukan yang mengarah padanya.

“Menganggapku ancaman?” Pertanyaan itu melayang di udara, berat, dan tak seorang pun langsung menjawab.

“Baiklah. Kalau begitu, saksikan sendiri hasilnya,” kata Mynhemeni. Ia menutup mata sejenak, lalu mengedipkannya sekali.

Udara di ruangan itu bergetar halus, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari. Cahaya putih muncul di hadapannya. Lebih besar dari apa pun yang pernah ia proyeksikan sebelumnya. Bola cahaya itu berdenyut, memancarkan kilau bersih yang membuat bayangan di dinding berlapis kristal tampak berlipat-lipat. Lalu, tanpa suara ledakan, cahaya itu pecah.

Bukan hancur, melainkan terurai.

Ratusan serpihan cahaya melesat ke segala arah, terbang lurus dan presisi, menembus ruang tanpa hambatan. Setiap serpihan menempel di dahi para pasukan, Rumsun, dan Thungsiruv. Seketika tubuh-tubuh itu menegang, mata mereka kosong, napas tertahan. Data mengalir masuk, kasar dan jujur, tanpa penyaring emosi.

Hanya dua orang yang luput.

Georu dan Saljiva tetap berdiri tanpa tersentuh cahaya. Wajah mereka tegang, rahang mengeras. Mereka sudah tahu apa yang akan muncul. Mereka telah hidup bersama data itu jauh sebelum mereka. Di benak setiap yang menerima proyeksi, rangkaian anatomi Cakra terbuka. Struktur tubuhnya. Aliran energinya. Setiap lapisan diperlihatkan tanpa celah. Tidak ada sinyal asing. Tidak ada pemancar tersembunyi. Tidak ada pola yang mengarah pada ancaman eksternal. Tidak ada apa pun yang bisa diklasifikasikan sebagai bahaya bagi Porkah.

Kesunyian menyebar.

Di tengah sunyi itu, suara Saljiva muncul, bergetar, bergema langsung di benak Mynhemeni dan Georu. “Kak… sekarang kita harus bagaimana? Mereka akan percaya, kan?”

Kekhawatiran itu jujur. Tak disembunyikan. Rasa takut yang manusiawi, meski mereka bukan manusia. Mynhemeni menarik napas pelan. Ia tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.

“Tenang,” jawabnya melalui sambungan batin.

“Mereka tidak punya alasan untuk menangkap kita.” Nada suaranya mantap, nyaris keras kepala.

“Ini alat ciptaanmu. Data ini lengkap. Bersih. Dan kamu tahu itu.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan namun penuh keyakinan.

“Teknologi kita tidak bisa dimanipulasi.”

Lihat selengkapnya