Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #67

Anak yang Dikembalikan

Pada awalnya, lorong di dalam gua terasa sempit, cukup untuk satu badan orang dewasa dengan tubuh besar melintas dengan jarak tipis di kanan kiri. Dindingnya halus, dingin, seperti telah digosok laut selama bertahun-tahun.

Perlahan, lorong melebar. Kontur jalurnya menanjak dengan kemiringan yang nyaris tak terasa. Air laut mulai tertinggal di belakang. Suaranya berubah, dari desiran terbuka menjadi gema teredam. Sensor tekanan menunjukkan penurunan stabil. Sebuah indikasi yang jelas bahwa lorong itu bergerak ke arah daratan.

Di ujung lintasan, robot keluar ke sebuah ruang terbuka.

Sebuah pantai kecil tersembunyi terbentang di dalam perut tebing. Dasarnya berupa pasir basah bercampur serpihan karang, sementara dinding-dinding batu menjulang tinggi membentuk kubah alami. Ruang itu benar-benar kering. Dari lantai gua ke lengkungan tertingginya, jaraknya sekitar tujuh meter sebelum bayangan menelan bagian atas kubah. Lapisan-lapisan batu kapur terlihat padat dan tua, tersusun rapi seperti arsip geologi yang tak pernah dibuka manusia.

Koordinat yang muncul di layar membuat tim di permukaan terdiam.

Posisi gua itu berada tepat di bawah tebing Parangtritis, tak jauh dari lokasi Queen of the South Beach Resort berdiri. Tempat Cakra dan sahabatnya menginap sebelum segalanya berubah. Sebuah kemungkinan yang, secara geologi, masih masuk akal. Gua karst pesisir. Terbentuk oleh erosi laut dan tekanan air tanah selama waktu yang panjang.

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa struktur itu baru saja tercipta. Oleh teknologi bangsa lain. Melampaui bangsa mana pun di atas permukaan. Bagi tim pencari, gua tersebut hanyalah satu dari sekian banyak rongga alam yang selama ini tersembunyi di bawah tebing selatan Jawa. Tidak ada alasan untuk mencurigai apa pun. Teknologi bangsa Porkah telah memastikan setiap permukaan, setiap sudut, setiap kontur meniru pola alam dengan sempurna.

Cukup tua untuk dipercaya. Cukup rapi untuk menyembunyikan keajaiban yang sesungguhnya.

Robot berhenti tepat di batas antara air laut dan pasir. Roda penstabilnya berputar pelan, lalu mati otomatis saat sensor mendeteksi permukaan kering di depannya. Ia memang tidak dirancang untuk menjelajah daratan. Hanya cukup dekat untuk memastikan ruang itu benar-benar ada.

Kamera depan tetap menyala.

Pantai kecil di dalam gua terbentang sunyi. Pasirnya basah di dekat garis air, lalu semakin kering ke arah dalam. Beberapa meter dari tepi laut, terlihat cekungan samar di permukaan pasir. Tidak jelas. Tidak tegas. Namun cukup menyerupai bekas tubuh yang sempat terhempas, lalu diseret arus kecil sebelum air benar-benar berhenti menjangkaunya.

Sensor termal kemudian menangkap sesuatu yang lain.

Sebuah titik panas lemah, nyaris tenggelam di antara dinginnya batu kapur. Letaknya tidak di pantai, melainkan lebih jauh ke dalam gua, sekitar dua puluh meter dari garis air. Terlalu jauh untuk dijangkau robot. Terlalu jelas untuk diabaikan.

Data itu segera dikirim ke permukaan.

Tak ada sorak. Tak ada keputusan tergesa. Tim penyelam teknis langsung disiapkan. Bukan untuk evakuasi, melainkan untuk konfirmasi visual. Karena jika pembacaan itu benar, maka ada kemungkinan yang selama ini tak berani mereka ucapkan dengan suara keras.

Cakra mungkin masih hidup.

Lima menit setelah keputusan diambil, tim penyelam mulai masuk ke air.

Dua orang penyelam bergerak lebih dulu menyusuri celah sempit itu. Lampu helm mereka membelah air keruh yang perlahan memudar, berubah bening seiring langkah yang makin menanjak. Gua itu menanjak tajam, dinding kapurnya kasar dan penuh lekukan, seperti pahatan waktu yang seharusnya memakan ribuan tahun. Padahal rongga ini baru saja lahir.

Arus mati total di satu titik. Air berhenti bergerak, seolah menahan napas. Keheningan turun dengan cara yang aneh, bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang terasa sadar akan keberadaan mereka.

Mereka muncul di sebuah pantai kecil dengan langkah tertahan. Pasir basah berderak pelan di bawah sepatu selam, suaranya menggema pendek di ruang tertutup itu.

Udara di dalam gua terasa lembap dan asin, tapi bisa dihirup. Terlalu mudah untuk dihirup, bahkan.

Salah satu penyelam berhenti sejenak, refleks menarik napas lebih dalam di balik regulator. Ia menoleh, lampu helmnya bergeser tipis.

“Udara di dalamnya normal,” katanya pelan melalui sistem komunikasi. “Bukan gua mati.”

Yang lain mengangguk singkat.

Salah satu penyelam mengangkat lampunya lebih tinggi. Cahaya menyapu dinding, merayap ke langit-langit yang dipenuhi kristal kapur, lalu jatuh ke daratan di hadapan mereka.

Dan di sanalah ia berada.

“Kontak visual,” ucap penyelam pertama.

Suaranya bergetar tipis, nyaris tak terdengar, meski nada profesional masih dipaksakan.

“Satu orang. Remaja. Tergeletak di dalam gua.”

Lampu helm menyentuh sosok itu sepenuhnya.

Tubuhnya terbaring miring, setengah di atas pasir kering. Rambut hitamnya kusut dan melekat di wajah. Pakaiannya basah, penuh pasir, tapi utuh. Dan dada itu jelas terlihat naik turun. Pelan. Teratur. Hidup.

Lihat selengkapnya