Permukaan laut berkilau keemasan, seolah matahari sendiri sedang menatap balik. Tandu itu muncul perlahan di antara gelombang, bagian tubuh manusia yang terbungkus rapat, dibawa naik dari tempat yang seharusnya menjadi rahasia. Di atas superyacht medis, alat penarik sudah siap. Rangka besi itu terlihat seperti tangan raksasa, siap meraih sesuatu dari dasar laut dan membawanya kembali ke dunia orang hidup.
Penyelam-penyelam bergerak dengan koordinasi yang menenangkan, tidak terburu-buru, seolah mereka sedang menari dengan ritme yang hanya mereka dengar. Mereka menempatkan tandu pada posisi stabil, memastikan setiap kait terpasang sempurna.
Tandu itu tidak diangkat secara langsung.
Ia digeser pelan ke samping lambung kapal, lalu ditahan oleh lengan mekanis yang menunggu di dek. Setiap gerakan terasa berat dan hati-hati, seperti membawa benda rapuh yang sekaligus bernilai tinggi.
Ayah Cakra menatap tanpa berkedip. Ia tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ketegangan di dadanya tetap tidak bisa ia sembunyikan. Suara tali yang ditarik, bunyi mesin, dan desah air yang menetes dari tandu memenuhi udara. Seolah-olah seluruh kapal menahan napas, menunggu hasil dari kerja yang telah berlangsung selama beberapa jam.
Tali demi tali ditarik. Tandu perlahan naik, naik, mengikuti irama mesin yang bekerja seperti napas. Setiap sentimeter yang terangkat terasa seperti jarum jam yang berjalan terlalu lambat. Ayah Cakra merasakan waktu seakan memanjang, menunda setiap detik yang ia ingin percepat.
Ketika tandu akhirnya menyentuh dek, suara logam beradu dengan air memenuhi ruang. Air yang menetes dari permukaan tandu membentuk genangan kecil yang cepat diseka. Para dokter sudah berdiri rapi, masker terpasang, tangan siap mengamankan setiap titik vital. Mereka tidak bicara banyak. Mereka tidak boleh salah.
Di samping tandu, monitor masih menyala. Detak jantung, saturasi oksigen, tekanan darah, dan pernapasan ditampilkan dalam angka-angka yang bergerak pelan, stabil. Seperti napas yang tidak ingin membuat kegaduhan, namun tetap memberi tahu bahwa ada kehidupan di dalamnya.
Ayah Cakra mendadak bergerak. Satu langkah. Dua langkah. Lalu ia berlari, seperti orang yang baru menyadari betapa rapuh batas antara kehilangan dan menemukan.
Sebelum ia sempat menyentuh tandu, seorang dokter yang paling dekat menahan lengan ayahnya. Tangan itu menahan dengan tegas, tetapi tidak kasar. Ada batas yang jelas, dan batas itu harus dijaga.
“Maaf, Pak,” kata tenaga medis itu cepat, lembut tapi tegas.
“Belum boleh. Kami harus memastikan stabilitas dulu.”
Ayah Cakra menatap dokter itu dengan mata yang tampak kosong, seperti menatap tembok yang tak bisa dipindahkan. Suaranya pecah ketika ia akhirnya berbicara, tetapi tetap tegas, seolah ia sedang menuntut kepastian dari dunia yang tidak pernah memberikannya.
“Saya harus memastikan dia hidup,” katanya.
“Saya harus tahu sendiri.”
Dokter itu tidak meninggikan suara. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menunjuk ke layar monitor kecil yang terpasang di samping tandu. Layar itu memantulkan cahaya dingin, penuh angka yang biasanya hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang telah lama terbiasa melihat hidup dan mati.
“Kami sudah memeriksa semuanya,” ujarnya.
“Detak jantungnya stabil. Pernapasannya ada.” Ia berhenti sejenak, memastikan kata-katanya tidak meleset.
“Tekanan darahnya rendah, tapi normal untuk kondisi seperti ini.”
Ayah Cakra menahan napas, matanya melebar ketika melihat angka-angka itu. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menolak, karena logika manusia seharusnya tidak mampu menerima kabar seperti ini.
Ia menelan ludah, seperti mencoba menelan kenyataan yang terasa terlalu besar untuk ditelan.
“Ini keajaiban, Pak,” dokter itu menambahkan, suaranya bergetar tipis seperti berusaha menahan haru.
“Kami tidak menemukan luka, tidak ada trauma yang berarti.”
Ayah Cakra tetap diam. Hatinya berdebar, tetapi air mata tidak kunjung datang. Tubuhnya seolah masih menolak memberi ruang pada kelembutan, karena ia sudah terbiasa menjaga diri agar tidak hancur terlalu cepat.
Perlawanan itu akhirnya melemah. Ia mengangguk pelan.