Semerbak harum eukaliptus menyergap indra penciuman gadis yang baru saja mengerjapkan matanya, menatap langit-langit berwarna putih. Meski begitu, bau disinfektan sejenis karbol khas rumah sakit tetap tercium olehnya. Ia dapat menebak dirinya pasti sedang berada di salah satu kamar rawat inap sebuah rumah sakit. Setelah memastikan lokasinya, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan dan menemukan Ibunya tertidur di sofa berselimut tipis.
Tak ingin membangunkan ibunya yang dengan sekali lirik pun jelas terlihat gurat lelah di wajahnya, gadis itu segera mencari ponselnya yang ternyata tak ia lihat di nakas. Ia hanya dapat melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari, tebaknya, melihat tirai yang masih ditutup dan kondisi cahaya ruang ini yang masih remang.
Satu hal yang ia belum dapat cerna, mengapa ia bisa sampai di rumah sakit dan terbaring di sini. Ingatan terakhirnya hanya sampai pada agenda mendaki Gunung Api bersama ayahnya.
Rasa lemas dan pegal masih dirasakan tubuhnya, dengan kondisi seperti ini, ia yakin sudah cukup lama ia menghuni kamar ini. Untuk menggerakkan tangannya saja ia masih kesulitan. Dengan hati-hati ia terus menggerakkan tangan kirinya berusaha meraih tombol pengatur ranjangnya. Namun sebelum jarinya sampai pada tombol kontrol, ibunya terbangun.
“Wulan! Sudah bangun, Nak?”
Gadis yang dipanggil Wulan itu hanya tersenyum lemah sembari memperhatikan ibunya yang tergesa bahkan hampir terjatuh karena tersandung selimutnya.
“Ibu …” ucapnya lemah hampir tak terdengar.
“Syukurlah kau mengenali Ibu. Kau sudah tidak apa-apa? Apa yang terasa? Ada yang sakit?” cecar Ibunya dengan wajah cemas.
“Aku tidak apa, Bu. Hanya sedikit pusing dan mual,” ujarnya meyakinkan.