NEGERI CICILA

NUN
Chapter #3

Bab 2 : Mega Project

-Satu bulan kemudian-

Wulan terbangun dari tidurnya tanpa aba-aba, ritme napasnya tidak teratur seperti usai berlari maraton. Ia merasakan sakit di dadanya, lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya. Lebih tepatnya ia merasakan nyeri pada jantungnya. Rasa sakit ini selalu menyerang tanpa gejala, tanpa tanda, tanpa sinyal. Rasa sakitnya selalu menyerang tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling. Seperti malam ini, ia terbangun karena rasa sakit itu.

Sejak ia dipulangkan dari rumah sakit karena hasil pemeriksaan keseluruhan menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, bahkan tidak ada satu pun tulang yang patah meski ia jatuh dari ketinggian. Tetapi, sejak itu pula ia mulai merasakan nyeri di jantungnya. Ini pula yang menyebabkannya belum diperbolehkan sang ibu untuk kembali bekerja.

Tidak ingin ini menjadi berita utama lagi di televisi seperti saat ia jatuh ke jurang, keluarganya mengalihkan penanganan dan perawatan dirinya agar lebih privat pada dokter pribadi Keluarga Kerajaan, yaitu Dokter Julian yang tak lain juga adalah teman Wulan. Julian menyatakan kondisi kesehatan Wulan sangat baik. Penyakitnya ini memang tidak ada penyebabnya jika dilihat dari sisi medis, setidaknya sejauh ini teknologi sudah canggih. Tapi tetap, mereka tidak dapat mendeteksi apa yang sebenarnya menyebabkan Wulan kesakitan.

***

Seperti biasanya, Wulan memulai harinya dengan berolahraga lari di atas treadmill. Ia tidak bisa mempertahankan tubuh idealnya tanpa berolahraga. Selain dikenal sebagai satu-satunya cucu perempuan Kerajaan Cicila Das Caspia, Wulan juga terkenal dengan parasnya yang cantik dan kepribadiannya yang anggun. Jika bukan Keluarga Kerajaan, Wulan sepertinya akan bekerja sebagai model dan aktris.

Wulan selalu senang melihat pemandangan asri keluar kediamannya yang penuh dengan bunga. Namun kenyamanan itu selalu terbatasi dengan tugasnya. Di atas mesin treadmill terdapat sebuah tablet yang memuat laporan-laporan pemerintahan.

Siang ini, Wulan harus menghadiri Pengadilan Istana. Setiap pagi sebelum Pengadilan Istana dilakukan, Sekretaris Kerajaan selalu membagikan laporan umum serta agenda Pengadilan Istana melalui surel. Pada isi surel hari ini, topik utama yang akan dibahas di Pengadilan Istana adalah mengenai pembukaan lahan di Gunung Api dan Gunung Batu.

Pengadilan Istana adalah sebuah rapat koordinasi mingguan Pemerintah Cicila Das Caspia yang diselenggarakan setiap hari Senin, sebelum aparat Pemerintah melakukan tugasnya. Pada Pengadilan Istana kali ini Maharani sedang mempertimbangkan proposal pembukaan lahan di wilayah Sepasang Ancala untuk membuka usaha ekowisata. Pada Pengadilan Istana, seluruh jajaran Menteri dan Adipati harus hadir untuk berdiskusi langsung dengan Maharani yang menjabat sebagai Ratu sekaligus Kepala Pemerintahan Cicila Das Caspia.

Saat membaca detail surel tersebut Wulan mengerutkan keningnya lalu menghentikan mesin lari statis ini. Ia menatap layar tablet dengan nanar karena proposal pembukaan lahan di Sepasang Ancala, dengan lokasi khususnya adalah Gunung Api, sudah ia tolak beberapa bulan lalu sebelum ia mengalami kecelakaan. Ia bingung kenapa proposal itu bisa sampai di Maharani. Tak ingin bertanya-tanya sendiri, ia segera bersiap.

Ini kali pertama Wulan kembali menghadiri Pengadilan Istana setelah kejadian jatuh ke jurang. Wulan tidak ingin berleha-leha.

Dengan sigap Wulan mengambil satu set pakaian jas, kaus, dan celana panjang berwarna biru dongker dari barisan lemarinya. Tak lupa ia mengambil anting kecil, sebuah cincin, dan jam tangan bermereknya sebagai pelengkap. Tas yang ia gunakan juga terlihat simpel, tapi sebenarnya cukup berkelas. Satu hal lagi yang melengkapi penampilan Wulan adalah sepatu hak tinggi berbahan bludru berwarna hitamnya. Wulan senang penampilan yang simpel tetapi rapi dan wangi. Selesai mengenakan kosmetik, ia kemudian bercermin.

“Oke!” seru Wulan puas dengan penampilannya.

***

Lihat selengkapnya