NEGERI CICILA

NUN
Chapter #4

Bab 3 : First Impression

-Keesokan harinya-

Wulan kembali terbangun dengan napas tersengal, bukan karena bau disinfektan rumah sakit, bukan pula karena rasa sakit di dadanya. Wulan terbangun karena mimpi buruk yang berulang, yang terjadi dalam kurun waktu yang hampir bersamaan dengan rasa sakitnya. Mimpi yang tak pernah Wulan ingat pernah mengalaminya di dunia nyata, tetapi rasanya terlalu nyata untuk dianggap sebagai mimpi belaka.

Angin kencang menyapu wajah pucat Wulan, seiring bertambahnya kecepatan ia terjun bebas dari tebing yang curam dan terjal. Wulan terjatuh dengan cepat tapi seolah tiada berujung. Kecepatan jatuh seharusnya mencapai 200 km/jam, tetapi kapan ini akan berakhir? Di mana sebenarnya dasar jurang ini?

Wulan pasrah, ia menutup matanya perlahan. Setelah matanya tertutup rapat ia merasakan punggungnya menyentuh sesuatu yang keras tetapi bukan batu, sesuatu yang empuk tetapi bukan kasur atau karpet berbulu. Hingga tangannya menyentuh dasar itu dengan mata yang masih tertutup, Wulan sadar, itu adalah pasir.

Wulan memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan dan cahaya kuning lembut seketika memenuhi pandangan Wulan. Namun tak lama cahaya itu berubah menjadi putih dan terdengar benda yang terjatuh dari langit, memekakan telinga. Entah berapa desibel, tetapi Wulan yakin itu bisa terdengar bahkan oleh penghuni satu pulau besar. Ternyata benar saja, sebuah benda sedang menuju ke arahnya dengan sangat cepat seperti kecepatan kedipan mata. Hingga sesaat sebelum menancab pada dadanya, Wulan menangkap sekilas visual benda yang jatuh itu. Benda itu adalah sebuah belati.

Dengan napas yang ritmenya acak, Wulan meraih ponselnya di atas nakas lalu menelepon seseorang dan berkata, “Julian, izinkan aku keluar.”

***

Ruangan yang bernuansa feminim dengan wangi bunga anyelir menjadi kekhasan yang Wulan ciptakan di ruang kerjanya sejak hari pertama ia ditugaskan. Ini adalah kantornya, Kantor Pemerintah Wilayah Notos, bagian selatan negara Cicila Das Caspia. Wulan ditugaskan sebagai Adipati Wilayah Notos sejak ia lulus kuliah. Kini seluruh kantor adipati yang ada di Cicila Das Caspia dihuni oleh anak keturunan kerajaan. Ya, bukan hanya Wulan saja yang menjabat sebagai adipati, tetapi juga para sepupunya.

Jika diulas secara runut, Wulan adalah cucu kerajaan nomor empat. Kakeknya adalah Mendiang Maharaja yang meninggal saat ia berada di bangku sekolah menengah. Kakeknya memiliki lima anak yaitu Maharani Nareswari, Putri Malikah, Pangeran Wajendra, Pangeran Brata Jaya, dan Putri Marina.

Maharani Nareswari adalah anak pertama dari Kakek Wulan dan kini menjabat sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Meski sempat ditentang banyak kalangan, tetapi Maharani Nareswari mampu membuktikan bahwa ia adalah kepala negara yang bijak, welas asih, dan tegas. Selain sebagai Sosok Maharani dengan kepribadian rendah hati, ia juga dikenal sebagai sosok ibu tunggal yang tangguh. Itu semua yang membuat dirinya dikenal oleh seluruh dunia, ia adalah ibu negara dan ibu seorang putra yang sangat sukses.

Putri Malikah adalah anak kedua Mendiang Maharaja, dipanggil juga dengan sebutan Tuan Putri Pertama. Selain dikenal dengan namanya, Putri Malikah juga dikenal dengan ketelitian dan keuletannya mengelola keuangan negara. Benar, dia adalah Menteri Keuangan. Menteri yang begitu mendukung Pangeran Brata Jaya untuk menghasilkan lebih banyak uang bagi negara. Bau uang sangat melekat pada otaknya. Tapi patut diakui, berkatnya pula lah negara tidak pernah mengalami defisit keuangan dan menjadi negara dengan kesejahteraan ekonomi yang cukup tinggi di buana.

Pangeran Wajendra atau dikenal juga dengan sebutan Pangeran Pertama kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan alias Jenderal tertinggi kedua di negara ini setelah Maharani. Pangeran Wajendra terkenal dengan sifat tegas dan galaknya. Ia tidak kenal ampun, sekali pun ia melatih anaknya sendiri, ia tidak pernah melonggarkan sedikit pun beban pelatihan. Berkatnya, tentara dan pasukan khusus Cicila Das Caspia dikagumi, disegani, dan ditakuti di Regional 1, bahkan di seluruh dunia.

Anak keempat kerajaan tak lain dan tak bukan adalah ayah dari Wulan, Pangeran Brata Jaya yang kini menjalankan tugasnya sebagai Menteri Pembangunan. Lulus dari jurusan arsitektur dan teknik sipil sekaligus menjadikan Pangeran Kedua akhirnya dipercayai sebagai Menteri Pembangunan. Brata juga menjadi satu-satunya orang yang memberikan Mendiang Maharaja cucu perempuan yang cantik dan cerdas, hingga menjadi cucu kesayangannya. Meski sesekali tampak menyebalkan, tetapi Brata selalu mengedepankan pembangunan akses transportasi dan fasilitas umum bagi rakyat. Ini juga yang Wulan kagumi dari sosok ayahnya.

Tuan Putri Kedua atau Putri Marina adalah putri bungsu kerajaan yang kini tugasnya mengurus segala administrasi dan kesekretariatan kerajaan. Ia adalah Menteri Sekretariat. Meski ia anak bungsu, tetapi justru dikenal wataknya paling mirip dengan Maharani, tegas dan disiplin. Wulan juga sering ditegur jika telat mengirimkan laporan maupun berkas atau dokumen yang butuh stempel Maharani.

Cukup dengan perkenalannya, dan mari kembali ke masalah yang saat ini harus Wulan selesaikan. Wulan masih berkutat dengan setumpuk dokumen di mejanya. Sudah hampir dua jam sejak ia datang ke kantornya. Tugasnya benar-benar tidak tertolong lagi, sangat menumpuk.

Rasa sakit di dadanya sebenarnya kembali terasa, Wulan pun segera meminum obat penahan nyeri yang diberikan Julian sebelum ia pergi dari Klinik Kerajaan tadi pagi. Meski begitu, hari ini rasa sakitnya tidak sampai mengganggu pekerjaannya. Ia masih dapat menahannya.

Akhirnya setelah berjam-jam berjibaku dengan dokumen yang harus ia periksa dan tanda tangani, ia meraih telepon dan memencet beberapa tombol pada bodi telepon kantor. Setelah tersambung, ia segera bertanya tentang cuaca di Wilayah Notos ini khususnya di Gunung Api. Ia ternyata menelepon Biro Meteorologi Wilayah Notos.

Lihat selengkapnya