-H-1 Pengadilan Istana-
Ini hari Minggu, tetapi Wulan masih ditemani oleh kertas dan komputer jinjing yang penuh dengan sampah ide dan inovasi miliknya. Pagi tadi ibunya mengajak ia pergi untuk berbelanja. Memang sudah lama sejak ia bekerja ia jarang sekali pergi berdua dengan ibunya. Biasanya ia juga ikut ibunya hingga ke acara arisan ibu-ibu sosialita lainnya, alias para nyonya kerajaan. Tetapi dengan berat hati, kali ini Wulan juga harus menolak ajakan ibunya.
Hari menjelang petang dan ia baru saja selesai menyiapkan dokumen yang hendak ia presentasikan besok di depan Maharani dan para Menteri. Sungguh ini pekan yang sangat melelahkan baginya. Beruntungnya, rasa lelahnya terbayar dengan informasi dan hasil penyelidikannya.
Sejak proyek dihentikan sementara, ia benar-benar tidak lagi merasakan sakit di jantungnya. Kini tugas barunya adalah mencari obat yang bisa meredakan rasa sakitnya ketika proyek tetap harus berlanjut. Wulan hanya memiliki waktu kurang dari 24 jam sampai ia “kemungkinan” besar akan merasakan kembali sakit di jantungnya.
***
-Hari H-
Balai Pertemuan, tempat di mana Pengadilan Istana diselenggarakan, suasananya saat ini sangat hening. Lima menit yang lalu Wulan sudah selesai mempresentasikan argumentasinya tentang proyek di Gunung Api. Kini seluruh pasang mata mengalihkan fokusnya dari Wulan pada Maharani yang sedang membaca laporan Wulan cukup lama dan saksama.
Dalam laporannya, Wulan menekankan kata-kata seperti sakral, penuh sejarah, serta penuh kekayaan alam. Vegetasinya sangat beragam, tentu dari kacamata Wulan, tanaman yang ada di Gunung Api juga dapat disulap menjadi uang.
Alternatif kedua yang Wulan utarakan adalah Cicila Das Caspia merupakan negara dengan hutan terlebat di wilayah Regional 1 buana. Wulan menyarankan agar Cicila Das Caspia dapat menarik pajak untuk negara yang berada di Regional 1 buana yang menghasilkan karbon melampaui ambang batas. Kedua alternatif ini Wulan pastikan akan mendatangkan pendapatan yang berlipat dari rata-rata yang didapatkan biasanya.
“Apakah Tuan Putri Wulan mengambil foto-foto ini sendiri?” Maharani akhirnya mengucapkan sesuatu.
“Benar, Yang Mulia,” jawab Wulan dari kursinya. “Hamba pergi sendiri ke Gunung Api untuk mengambil fotonya secara langsung, sekaligus memastikan apakah benar tanaman-tanaman yang disebut di buku memang ada di Gunung Api,” imbuhnya.
“Hasil fotonya seperti hasil jepretan fotografer profesional,” puji Maharani.
Wulan tersenyum puas. Kerja kerasnya mengambil ratusan foto sambil mendaki setidaknya di-notice Maharani.
“Tapi, Putri Wulan,” ucap Maharani pelan.
Jujur saja, karisma dari seorang Maharani Nareswari sangatlah kuat. Terkadang diamnya saja bisa membuat bulu kuduknya tegang. Saat ini, itulah yang sedang terjadi. Jika ia adalah granula cokelat, maka Wulan akan segera melarutkan dirinya di kubangan kapucino dan menghilang tanpa jejak.
“Apa yang ditawarkan investor di mataku lebih menguntungkan dalam segi ekonomi bagi negara kita. Kelestarian alam pun masih dapat terjaga karena pembukaan lahan tidak dilakukan dengan brutal. Penebangan hutan dilakukan dengan tebang pilih,” jelas Maharani kemudian berdiri.
Pergerakan Maharani cukup mengejutkan seluruh manusia yang hadir di Balai Pertemuan ini. Suasananya sungguh berbeda dari Pengadilan Istana biasanya, meskipun lokasinya tidak berubah. Bahkan seorang Pangeran Arhan- adik dari Mendiang Kakek Wulan yang saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri merangkap Ketua Dewan Pembina Kerajaan, ikut berdiri mengikuti pergerakan Maharani.