NEGERI CICILA

NUN
Chapter #7

Bab 6 : Katangsari

Selepas Proyek Gunung Api resmi diizinkan oleh Maharani, maka seluruh kegiatan pembangunan akan kembali dilanjutkan, dan hari ini akan menjadi awal jalannya kembali proyek itu.

Peletakan batu pertama akan menandai dimulainya kembali proyek secara resmi. Namun dikarenakan Maharani berhalangan hadir karena ada agenda yang lebih penting, kedatangannya diwakili oleh putra satu-satunya, yaitu Putra Mahkota Negeri Cicila Das Caspia.

Berita datangnya Putra Mahkota ke kawasan Gunung Api tersebar dengan sangat cepat sehingga banyak remaja perempuan dan ibu-ibu yang hadir untuk menyaksikan prosesi peletakan batu pertama. Ini karena ketampanan Putra Mahkota sudah diketahui oleh seluruh rakyat Cicila Das Caspia. Kesempatan langka itu pun dimanfaatkan mereka untuk melihat idola mereka dari jarak dekat.

Kondisi ini mungkin menyenangkan bagi warga yang menonton, tetapi tidak bagi Wulan yang harus mengerahkan dan mengarahkan anak buahnya untuk berjaga semaksimal mungkin di lapangan. Ketika VVIP datang, seluruh kota akan ada pada status siaga.

“Kenapa hari ini banyak sekali tim gabungan?” bisik Putra Mahkota pada Wulan yang duduk di sampingnya.

“Salahkan ketampanan Yang Mulia. Kami kesulitan mengendalikan para wanita di sana,” Wulan menunjuk ke arah kerumunan warga yang menonton.

“Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu, Wulan. Panggil saja namaku,” pinta Putra Mahkota.

“Tidak, Yang Mulia. Saat ini Yang Mulia sedang bertugas, begitu pun dengan Wulan. Hari ini Wulan duduk sebagai Adipati Wilayah Notos,” tolak Wulan tegas.

Mendengar penolakan Wulan, Putra Mahkota tersenyum sambil menggeleng-geleng kepalanya. Jika diberi ranking, ketegasan Wulan ada pada nomor urut kedua setelah ibundanya.

“Mari,” Wulan mengarahkan Putra Mahkota.

Acara simbolis peletakan batu pertama Proyek Gunung Api selesai dilakukan. Tepuk tangan meriah bergemuruh. Di antara tamu undangan dan rombongan orang yang melakukan peletakan batu secara simbolis, Wulan melihat Kani. Kani hanya tersenyum dari jauh, dan seperti biasa Wulan hanya membalasnya dengan anggukan tipisnya.

Setelah rangkaian acara selesai dan Wulan memberikan arahan penutup untuk tim penyelenggara, Wulan segera kembali mengantar Putra Mahkota sampai ke mobilnya. Saat sampai Putra Mahkota justru mengajak Wulan untuk naik ke mobilnya.

“Ayo, aku antarkan kau kembali ke kantormu,” kata Putra Mahkota.

Meski sempat ragu, namun Wulan akhirnya naik di mobil yang sama dengan Putra Mahkota. Lagi pula ia sudah beri arahan penutup pada panitia sehingga ia sudah bisa kembali ke kantornya.

Sesampainya di kantor Wulan, Putra Mahkota kembali bertanya, “Apa akhir pekan ini kau senggang, Wulan?”

“Sepertinya iya, aku senggang. Ada apa Nendra? Mau mentraktirku makan siang?” goda Wulan.

“Baiklah, aku akan mentraktirmu. Tapi di rumah Profesor Hatala. Jumat malam acara ulang tahunnya.”

“Ah, benar! Aku lupa,” Wulan menepuk jidatnya. “Seperti biasa?”

“Ya, seperti biasa.”

Wulan dan Nendra- panggilan kecil Wulan untuk sepupunya, Putra Mahkota Danendra, akhirnya sepakat untuk pergi bersama di akhir pekan nanti. Wulan memang sepupu yang paling dekat dengan Putra Mahkota. Panggilan Nendra pun hanya bisa diucapkan oleh Wulan dan Maharani.

Selain sepupu terdekat Putra Mahkota, Wulan juga sangat disayangi oleh Maharani. Ada yang bilang Wulan adalah putrinya Maharani. Ini pula lah yang sering menyebabkan sepupu lain iri padanya. Namun Wulan tidak peduli karena baginya, Putra Mahkota bukanlah Putra Mahkota jika ia tidak sedang bertugas. Putra Mahkota adalah Danendra, sahabat sejak bayinya yang sangat ia andalkan. Usia mereka yang sama juga sangat berpengaruh pada kedekatan mereka karena mereka selalu berada di kelas yang sama ketika bersekolah.

Wajah Wulan dan Putra Mahkota yang sangat mirip pun terlihat sangat jelas hingga orang yang tidak kenal mereka bisa saja menganggap mereka sebagai saudara kandung.

***

Sejak awal pekan, Wulan sangat sibuk. Setelah menyelesaikan seremoni peresmian Proyek Gunung Api, kini Wulan disibukkan dengan mempersiapkan berkas syarat dan ketentuan pendaftaran pengenaan pajak dan retribusi negara-negara Regional 1. Berkas ini nantinya akan diserahkan kepada Komite Regional 1.

Apa itu Komite Regional 1? Mereka adalah dewan yang beranggotakan kepala negara, wakil dan/atau utusan khusus negara yang ada di wilayah- kawasan Regional 1 buana. Mereka menyebut seluruh bumi dan isinya dengan nama resmi Buana. Komite Regional 1 juga menjadi tempat Mahkamah Internasional dan konferensi-konferensi lain terkait politik dan diplomasi dibahas. Termasuk untuk regulasi internasional.

Untuk dapat mewujudkan pengenaan pajak bagi negara-negara yang menyumbangkan karbon lebih dari ambang batas wajar, maka Wulan sudah tentu harus banyak mobilisasi.

Tahap penyiapan berkas ini, Wulan berkoordinasi dengan Kantor Biro Hubungan Luar Negeri atau disingkat KBHLN.

Lihat selengkapnya