Seperti biasanya Wulan menghadiri Pengadilan Istana setiap awal pekan. Ia masih dan selalu terlihat elegan mengenakan dress selutut berbahan jas dengan warna salem. Baju yang hanya menutup ¾ lengan Wulan itu menunjukkan dengan jelas kulit mulus Wulan berhiaskan gelang rantai yang pas di pergelangannya. Aksesoris sederhana itu nyatanya justru yang membuat penampilan Wulan terlihat sempurna.
Agenda hari ini adalah menyampaikan laporan kemajuan proyek sanggraloka di Gunung Api yang sudah pada tahap pertama pembangunan. Semua berjalan dengan lancar karena ayahnya selalu meninjau progres ke lapangan bersama dengan investor. Sementara Wulan tanpa sepengetahuan ayahnya dan Kani, juga sering ke lapangan saat mereka berdua tidak di sana. Ia ingin memastikan pembangunan dilakukan dengan prinsip hijau dan Kani tidak melanggar janji untuk membangun semua bangunan mengikuti kontur gunung.
Laporan kedua yang disampaikan Wulan adalah terkait pengajuan pengenaan pajak karbon. “Pendaftarannya sedang diproses Komite Regional 1. Pekan lalu sudah kami kirimkan melalui faks. Selanjutnya menunggu kabar dari komite untuk pembahasan secara langsung.”
“Siapkan transportasi khusus untuk Tuan Putri Wulan. Selama mobilisasi mengurus pengajuan ini, pastikan pengawal selalu ada. Banyak orang yang keberatan dengan wacana ini,” perintah Maharani.
Pembahasan pun berlanjut pada agenda dari adipati lainnya. Ya, yang menjadi adipati bukan hanya Wulan melainkan juga para sepupunya.
Pertama, Putra Mahkota Danendra, Kepala Ibu Kota sekaligus Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Negara. Ini menjadi tugas latihannya sebelum ia menggantikan Maharani.
Kedua, Pangeran Bhanu adalah putra Tuan Putri Malikah, kakak Ayah Wulan. Pangeran Bhanu adalah Adipati Wilayah Dexia di bagian timur negara.
Ketiga Pangeran Giandra, kakak sepupu Wulan dari Pangeran Wajendra. Pangeran Giandra ditugaskan menjadi Adipati Wilayah Disi di barat negara. Informasi tambahan, Giandra dan ayahnya cukup menyebalkan. Pengeran Wajendra juga kakak ayah Wulan yang paling tidak ramah.
Keempat tentu adalah Wulan Gayatri, berlaku sebagai Adipati Wilayah Notos di selatan negara, wilayah yang paling kaya dengan sumber daya alam.
Terakhir adalah Pangeran Galang. Pangeran Galang adalah putra dari Tuan Putri Marina, adik Ayah Wulan. Galang ditugaskan sebagai Adipati Wilayah Voras di utara negara.
Tentu saja mereka selalu hadir di Pengadilan Istana setiap hari Senin sebelum mereka bertugas di kantornya masing-masing. Meski begitu, Wulan tetap senang karena setiap Senin ia dapat bertemu dengan Putra Mahkota dan adik kesayangannya, Galang. Jangan ditanya kenapa, karena mereka terlalu sibuk bahkan untuk sekadar nongkrong di kafe.
***
Setelah Pengadilan Istana selesai kemudian saling menyapa dengan Putra Mahkota dan Pangeran Galang, Wulan kini menuju ke Kantor Kementerian Keuangan Negara. Ia hendak menyerahkan daftar anggaran belanja secara langsung kepada Tuan Putri Pertama, Putri Malikah. Meski tadi pagi ia sudah mengirimkannya via surel dan sekretarisnya sudah mengirim rinciannya melalui fax, tapi Wulan rasa belum afdol sebelum ia datang langsung ke kantornya.
Kantor para menteri yang memang berada di kawasan Istana memudahkan mereka untuk saling berkoordinasi. Jaraknya saling berdekatan, cukup dengan 10 menit berjalan kaki, atau 5 menit dengan angkutan khusus istana yang biasa disebut andong listrik. Bentuknya unik seperti kereta kencana, tetapi menggunakan mesin listrik. Jika ada yang baru melihat mungkin akan mengira kendaraan itu seperti wahana kereta kencana yang ada di arkade.
Sesampainya di kantor Putri Malikah, Wulan langsung masuk. Semua orang yang berpapasan menyapa Wulan. Ia langsung menuju ke ruangan Putri Malikah.
Dipersilakan masuk setelah mengetuk pintu, Wulan disambut dengan senyum gembiranya Putri Malikah.