Waktu pinjam buku yang sangat singkat khusus untuk buku Legenda Negeri Cicila membuat Wulan harus pulang lebih cepat hari ini dan segera meluncur ke Perpustakaan Istana yang tutup di jam 4 sore. Untunglah Wulan bisa tiba tepat waktu, saat pustakawan hendak mengganti label buka menjadi tutup, Wulan memanggilnya. Jadi Wulan masih sempat mengembalikan bukunya hari ini. Jika tidak, maka dendanya sangat luar biasa, bisa mencapai ratusan dolar CDC.
Entah karena lelah lepas tadi berlari dari tempat parkir yang sebenarnya sangat dekat dengan gedung perpustakaan, atau memang penyakit anehnya kambuh, sakit bukan hanya di dada tapi juga di kepala kini dirasakan Wulan. Ia yang akhir-akhir ini dapat mengendalikan rasa sakitnya, mendadak tidak tahan hingga pandangannya perlahan menghitam. Sebelum seluruh pandangannya kabur, Wulan sempat melihat seorang pria sedang bertelepon di tempat parkir. Namun saat pria itu berjalan ke arahnya, Wulan sudah tidak sadarkan diri.
***
Wulan merasakan sesuatu di punggung tangannya. Rasa ngilu tepatnya. Perlahan ia pun terbangun karena rasa ngilu itu. Ternyata dirinya sedang disuntik seorang dokter yang matanya terlihat sangat cemas.
Itu adalah Julian.
“Dok, apa yang kau suntikkan?” tanya Wulan lemah.
“Pereda nyeri,” ucap dokter singkat.
“Aku tidak perlu infus kan, Dok?” Wulan bertanya sambil beranjak dari tidurnya.
Dokter Julian menggeleng. Teman sekolah sekaligus dokter keluarganya itu kini membuka maskernya. Ia berwajah sangat masam.
“Kau tidak membawa obatmu?”
“Aku meminumnya tepat waktu. Tidak perlu membawa-bawanya,” ujar Wulan bangkit dari posisi tidur.
Saat mata Wulan sibuk mencari sepatu haknya, tiba-tiba muncul sosok yang tidak disangka-sangka membawa sandal bertuliskan nama sebuah hotel di Wilayah Notos. Wulan tak dapat memasang wajah pokernya. Matanya sudah membulat sempurna melihat tamu tak diundang ini.
“Sedang apa kau di sini?” Wulan mengernyit.
“Membantu Tuan Putri,” sahutnya asal.
“Apa kau bilang?”
Sepertinya pria itu tidak menghiraukan ucapan Wulan. Ia malah mendorong pelan Julian menjauh dari Wulan lalu berjongkok memakaikan sandal itu pada Wulan.
“Di mana sepatuku?” Wulan menarik kakinya, lalu berdiri menjauh.
“Sepatu Tuan Putri sepertinya terlalu murah. Haknya patah sesaat sebelum Tuan Putri pingsan tadi,” terangnya menjengkelkan.
Wulan menatap tak percaya. Sepatu mahalnya dikatai sepatu murahan? Wulan kini beralih pada Julian yang juga tercengang dengan perilaku pria ini. Wulan meminta penjelasan dari Julian.
“Tadi dia yang membawamu kemari,” ucap Julian membenarkan.
Wulan yang masih sedikit merasa sakit tak ingin menghabiskan sisa energinya untuk memperpanjang percakapannya. Setelah berterima kasih dan menolak tawaran Julian untuk mengantarnya pulang, Wulan segera keluar dari Klinik Istana dan segera menuju ke parkiran mobilnya yang untungnya masih terdapat di area yang berdekatan dengan Klinik Istana.
Setelah sampai di parkiran, kunci yang baru saja dikeluarkan dari saku jas Wulan direbut secepat kilat.
“Tuan Kanigara Pradipta,” geram Wulan.
“Ya? Ini kali pertama Tuan Putri menyebut nama lengkapku,” ucapnya semangat mendekat pada Wulan.
Tinggi tubuh Wulan yang berbeda sekitar 25 cm dengan Kani membuat Kani sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah Wulan. Refleks tangan Wulan terangkat kemudian mendorong pundak Kani agar menjauh dan menjaga jarak darinya. Wajah Wulan pun berpaling.
Untuk beberapa detik Kani tak berbicara, sementara Wulan juga tidak berdaya untuk memindahkan kedua kakinya. Gawat! Sepertinya Wulan harus lebih banyak berolahraga. Berat badannya bertambah banyak hingga kedua kakinya tak lagi bisa diajak berlari.
“Biar aku yang mengemudi,” putus Kani.
Pria itu kemudian membukakan pintu penumpang dan mempersilakan Wulan untuk naik. Wulan benar-benar tidak tahu di mana sebenarnya rasa malu Kani. Bukankah rasa malu seharusnya terpampang jelas di wajahnya?
Wulan cukup paham kondisinya saat ini tak akan memungkinkannya menang dari Kani. Dengan sangat terpaksa dan bersumpah dalam hati tak akan lagi lemah di hadapan Kani untuk kedua kalinya, Wulan memutuskan naik ke mobilnya.
***
Sikap Tuan Putri yang terlalu sederhana lah yang membuat Tuan Putri dianggap miskin,” ucap Kani tiba-tiba.