Pekan ini Wulan akan sangat disibukkan dengan tugas sebagai koordinator proyek negara. Dimulai dari hari ini, Wulan harus segera berangkat ke luar negeri untuk menghadiri Konferensi Komite Regional 1. Ibunya yang masih khawatir dengan kondisi Wulan, secara khusus meminta Maharani untuk mengizinkan Dokter Julian ikut dengan Wulan. Ya, yang mendampinginya haruslah Julian karena memang penyakit aneh Wulan hanya diketahui oleh Julian dan orang tuanya.
Di luar negeri …
Konferensi berjalan dengan lancar, ini sudah hari ketiga konferensi diselenggarakan. Wulan juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan pengenaan pajak karbon yang akan segera berlaku di Regional 1. Tentunya tidak semua perwakilan negara setuju, terutama negara-negara yang memang gencar menerima investasi di bidang industri manufaktur. Tetapi ini tidak serta merta menggetarkan niat Wulan dan CDC untuk membatalkan pengajuannya.
Usai berpidato dan Wulan kembali duduk ke kursinya, tiba-tiba rasa sakit kembali menyeruak di dadanya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya untuk permisi ke toilet. Wulan usahakan untuk berjalan dengan tegak, namun pada akhirnya ia harus membungkuk untuk menahan rasa sakit.
Julian yang siaga di luar ruang konferensi pun melihat Wulan yang sedang berjalan sempoyongan. Julian segera menyusulnya dan meraih lengan Wulan.
“Ayo duduk dulu, Tuan Putri.” Julian membawa Wulan duduk di kursi yang tersedia untuk panitia.
Julian berlari untuk mengambil sebotol air mineral. Ia juga mengeluarkan obat dari saku jasnya yang tanpa jeda langsung Wulan minum.
“Sebaiknya kita pulang Tuan Putri,” saran Julian. “Kondisi Tuan Putri semakin parah dari kemarin.”
Sebagai dokternya, Julian sangat mengetahui bahwa rasa sakit hari ini lebih tak tertahankan dibanding kemarin.
Wulan yang mengakui hal itu akhirnya mengangguk setuju. “Antar aku untuk pamit ke panitia setelah rasa sakitku berkurang,” putus Wulan.
***
Sesampainya di Cicila Das Caspia, kondisi Wulan benar-benar memburuk. Wulan sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya hingga harus menggunakan kursi roda. Mendengar kabar ini, Pangeran Brata dan istrinya segera menjemput Wulan dari bandara.
“Wulan, apakah ini terlalu sakit, Nak?” Tanya Diah sangat cemas.
Dengan mata yang tertutup dan bibir bawah yang ia gigit untuk menahan nyeri, wulan mengangguk samar dari joknya. Bukan hanya pikiran Wulan yang kacau balau tetapi juga orang tuanya. Jalanan yang tak biasanya macet juga menambah tingkat kecemasan Pangeran Brata dan Diah.
Melihat kondisi Wulan seperti ini, Pangeran Brata tidak tega dibuatnya. Tak lama ia berkata, “Berikan Wulan obat bius, Dokter Julian. Biarkan dia tidur sejenak.”
Dengan wajah yang cukup terkejut, Julian mulai mengeluarkan obat bius dan jarum suntik dari toolkit-nya. Ia kemudian benar-benar menyuntikannya pada Wulan. Hanya dalam hitungan detik, Wulan sudah tertidur pulas.
“Siapkan cuti untuk Wulan.”
***
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang hari, dan Wulan akhirnya terbangun dari tidurnya. Sejak semalam ia sampai di kediamannya, Wulan belum sadarkan diri. Ternyata obat bius yang diberikan Julian cukup kuat hingga Wulan bisa beristirahat cukup lama.
Rasa sakit yang Wulan rasakan pun kini sudah menghilang sehingga ia dapat memulai aktivitasnya tanpa halangan.