NEGERI CICILA

NUN
Chapter #11

Bab 10 : Archive to Dinner

Keesokan harinya

Kanigara sudah siap masuk ke Museum Sejarah CDC. Ia memasuki kawasan Istana dari pintu masuk belakang kawasan perkantoran Istana.

Istana Kerajaan CDC memang sangat luas. Istana Utama yang jadi kediaman Maharani dikelilingi kantor-kantor pusat pemerintah, terutama oleh empat Kementerian.

Kini waktu telah menunjukkan pukul 15.30 karena urusannya di Notos ternyata menyita waktu cukup lama. Tanpa menunda lagi, Kani segera masuk ke museum.

Di Museum Sejarah CDC, ada satu peraturan yang diterapkan dan harus ditaati jika tak ingin diusir oleh petugas museum, yaitu dilarang memotret. Alasannya adalah karena dapat mempercepat kerusakan koleksi museum. Tetapi selain itu yang lebih krusial adalah alasan keamanan informasi yang terdapat di museum.

Larangan tersebut tidak menggentarkan Kani. Sambil berjalan memasuki museum ia membuka sebuah kotak kacamata dan segera memakainya. Ia menyentuh batang sebelah kiri kacamatanya. Lalu ia bertanya pada pria yang menemaninya yang kemarin melaporkan museum ini padanya, “Apa aku terlihat tampan?”

Pria itu pun tersenyum dan menjawab, “Selalu, Pangeran.”

Usai mendengar jawabannya, Kani tersenyum puas.

***

Pukul 18.50

Wulan sudah tiba di tempat parkir bagian belakang Istana. Ia sudah bersiaga di mobilnya sampai ia mendapat kabar dari Galang. Tak lama, Galang memberinya kabar bahwa ia sudah berhasil membuat pingsan sekretaris ibunya.

Galang

Aku tidak mengerti kenapa Kakak harus senekad ini.

Masuklah.

Wulan Gayatri

Akan aku ceritakan setelah yakin. Terima kasih, Galang. Doakan aku.

Waktu Wulan untuk memeriksa hanya 20 menit. Saat ini sudah pukul 19.00, Wulan menyetel alarm di pukul 19.17 agar jam tangannya bergetar saat waktu habis, dan ia punya tiga menit untuk keluar.

Wulan yang sudah berhasil masuk tanpa hambatan langsung menuju ke komputer pencarian. Ia mengetikkan beberapa kata kunci seperti, Kerajaan Cicila; Legenda Cicila; dan yang terakhir, yang paling misterius adalah Plat Perak Cicila. Hasil pencarian Plat Perak Cicila hanya ada satu. Itu adalah arsip kasus 100 tahun yang lalu. Firasatnya mengatakan ia harus membaca arsip tersebut. Ia pun segera menuju ke lemari arsip dengan nomor panggil arsip yang dimaksud.

Setelah menemukan nomor panggil yang tertera di lemari arsip, Wulan segera memutar tuas lemari yang didesain khusus untuk arsip ini.

Pada satu lemari besar, hanya ada satu kotak arsip. Melihat hanya ada satu kotak arsip, Wulan semakin yakin ini akan memberinya petunjuk besar. Wulan segera memakai sarung tangan karetnya. Meski ia menyelinap, tetapi prosedur di ruang arsip tetap ia laksanakan. Tanpa leha-leha, Wulan memfoto berkas berlabel “resume” yang merupakan inti dari arsip beratus-ratus halaman ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.15, dan Wulan butuh waktu untuk keluar. Ia hanya berharap apa yang ia butuhkan sudah terfoto. Ia pun memohon ampun dalam hati karena ia terpaksa memoto arsip ini menggunakan cahaya kilat padahal itu dilarang karena akan meningkatkan zat asam pada kertas lama, dan memudahkannya rapuh.

Mohon ampun, Tuan Putri Kedua.

Untunglah Wulan selesai memfoto bagian resumenya. Ia bergegas mengembalikan kotak arsip itu ke lemarinya, memutar tuasnya kembali untuk merapatkan lemari, lalu berlari ke arah komputer dan mematikannya. Tak lupa ia menonaktifkan kembali aliran listriknya.

Wulan menarik napas sejenak. Ia membenarkan posisi topinya lalu bergegas keluar setelah mendengar seseorang berjalan di koridor telah menjauh. Sepertinya itu satpam yang sedang berpatroli. Untunglah Wulan tidak mengeluarkan suara yang bising hingga satpam tidak curiga.

Lihat selengkapnya