Di lain tempat pada waktu bersamaan …
Ruang penuh kertas dokumen dan perangkat komputer ini tiba-tiba terasa suram dengan kehadiran Kanigara.
Dari tempat duduknya, Kani memperhatikan dengan saksama layar yang sedang menampilkan peta lokasi yang cukup familier bagi penduduk Cicila Das Caspia, yaitu peta Wilayah Notos.
“Kapan analisisnya akan selesai?” Kani melipat kedua tangannya di dada dengan mata yang terus memperhatikan peta. “Kapan wilayah pencarian bisa dipersempit?” lanjutnya.
Dengan wajah yang sedikit takut, seseorang menjawab, “Tiga hari, Pangeran. Paling lambat satu pekan.”
Kani kembali berkontemplasi. Ia memijit kening dan pelipisnya, entah kenapa akhir-akhir ini tekanan pekerjaannya memusingkan Kani berkali lipat dari biasanya. Lalu tangan Kani mengisyaratkan meminta sesuatu. Paham apa yang Kani minta, pria yang tadi menjawab pertanyaan Kani langsung menyerahkan sebuah buku.
Bukan hanya Wulan yang bolak-balik membaca dan mencoba memahami buku legenda ini, Kani juga melakukan hal yang sama. Namun anehnya, Kani malah teralihkan pikirannya pada sakit yang diderita Wulan. Kani mengingat saat di Klinik Istana, Wulan begitu kesakitan hingga rintihannya masih tergambar jelas di benaknya.
Sebenarnya Wulan sakit apa? Kini menjadi pertanyaan yang terngiang di kepalanya. Tentu saja ia merasa aneh karena saat ia mengecek profil dan riwayat Wulan, tidak ada satu pun catatan bahwa Wulan menderita sakit kambuhan, bahkan Wulan tergolong wanita yang menerapkan gaya hidup sehat. Lalu kenapa?
Akhirnya Kani memutuskan untuk beranjak dari duduknya. Ia menaruh buku legendanya di meja dan bergegas pergi keluar ruangan itu.
“Pangeran pergi ke mana?”
“Jalan-jalan dengan motorku.” Kani melambaikan tangannya tanpa menoleh. Ia butuh mencari udara segar agar bisa membebaskan pikirannya dari seorang Wulan.
***
Kantor Adipati Notos pagi ini masih terpantau sepi. Hanya ada beberapa orang petugas keamanan yang memang berjaga selama 24 jam. Tetapi yang berbeda pagi ini adalah Wulan yang sudah sampai di kantor. Tidak seperti biasanya, kali ini ia datang dua jam lebih awal.
Setelah menyapa beberapa petugas keamanan sambil memberikan sarapan burger dan susu panas, Wulan segera menuju ke ruangannya yang berada di lantai tiga gedung kantor ini.
Saat mencapai ruangannya, Wulan segera menyalakan lampu dan komputer kerjanya. Lalu duduk dengan sorot mata yang bertekad.
Semalam ia dibawa oleh Putra Mahkota Danendra ke rumah Profesor Hatala. Seperti biasa, Wulan diberikan minum air batang katangsari. Bagaimana pun itu satu-satunya cara agar ia bisa sedikit meredakan sakitnya.
Wulan yang baru tersadar di tengah malam membuat Profesor Hatala dan Danendra terjaga. Mereka takut Wulan akan kembali kesakitan. Sadar Wulan tertidur bukan di rumahnya, ia segera bangun. Kontan Danendra dan Profesor Hatala menatapnya penuh cemas.
“Maaf aku tidak membawamu pulang. Hanya saja, aku yakin kau ingin mencari tahu apa yang sebenarnya kau alami. Dan, gelang itu …”
Danendra merasa bersalah, tetapi Wulan langsung menepisnya. Wulan melambaikan tangannya ringan sembari berkata, “Tidak apa Yang Mulia. Terima kasih.”
Usai Wulan dijamu makan oleh Profesor Hatala, sikapnya yang tidak tahan dengan rasa penasarannya langsung mendorongnya untuk bertanya. Tentu saja saat Wulan tertidur, Danendra telah menceritakan semuanya kepada Profesor.
Profesor Hatala menduga bahwa Wulan bisa selamat dari ambang kematian adalah berkat pertolongan dari Plat Perak Cicila. Kini sebagian kekuatan dari Plat Perak Cicila terdapat pada tubuh Wulan. Saat sebagian kekuatan lainnya mencari sinyal keberadaan kekuatan yang ada pada Wulan lah yang menyebabkan rasa sakit di jantung Wulan sebagai pusat peredaran darah. Di mana Profesor Hatala juga menduga jantung menjadi pusat kekuatan plat bersemayam.
“Lalu kenapa Profesor tidak mengatakan ini sebelumnya?” tanya Wulan heran.
“Keluarga Tuan Putri dan Pangeran Brata sangatlah rasionalis. Jika saya mengatakan ini dengan yakin, apakah keluarga Tuan Putri akan percaya?”
Wulan terdiam. Profesor Hatala benar, dengan sifat dan cara berpikirnya yang logis ini, bagaimana bisa ia percaya.
“Baiklah,” Wulan mengatakan itu untuk dirinya sendiri. “Lalu, apa yang memicu sebagian kekuatan itu untuk memanggil kekuatan yang ada di tubuhku?”
“Bahaya.”
Danendra dan Wulan saling menatap penuh tanya, saling mencari jawaban.
“Plat Perak Cicila sedang berada dalam bahaya jika mereka saling memanggil sinyal,” ucap Profesor Hatala penuh sesal.
Wulan menopang dagu dengan tangan kanannya pada pinggiran sofa. Terdapat satu hal lagi yang tidak Wulan pahami. “Lalu di antara banyak orang, kenapa harus aku yang ditolong Plat Perak Cicila?”
Sembari menautkan kedua jari tangannya, Profesor Hatala sejenak berpikir. “Waktu dan tempat Tuan Putri Wulan terjatuh lah yang kebetulan bersamaan dengan Plat Perak Cicila mendedahkan kekuatannya, sekali dalam seabad.”
Wulan akhirnya menyadari, kesamaan antara kasusnya dan kasus 100 tahun lalu adalah saat Plat Perak Cicila mendedahkan kekuatannya. Dan itu terjadi setiap matahari tegak lurus pada salah satu di antara Gunung Api dan Gunung Batu.