NEGERI CICILA

NUN
Chapter #14

Bab 13 : Reality

Beberapa hari yang lalu

Saat Wulan dibawa oleh Putra Mahkota ke rumah Profesor Hatala, bukan hanya Putra Mahkota yang menceritakan keanehan yang dialami Wulan, tetapi Wulan juga menunjukkan keanehan tersebut pada Profesor Hatala.

Wulan kembali memperlihatkan hasil memfokuskan energi asing di tubuhnya yang dapat menyalakan gelang permata giok warisan dari Kakeknya. Profesor Hatala memang sudah memprediksi Wulan telah ditolong oleh Plat Perak Cicila, namun tidak pernah membayangkan Wulan bisa menunjukkannya secara kasat mata seperti sulap. Tak sampai di situ, Wulan juga menceritakan burung buceros yang sudah seperti penguntitnya semenjak ia pergi ke Gunung Api pasca kecelakaan. Hal yang lebih menakjubkan adalah burung itu juga mengiriminya surat.

Dengan wajah yang masih takjub dengan apa yang diperlihatkan dan diceritakan Wulan, Profesor Hatala pun memberi jawaban kepada Wulan dan Danendra yang sudah buntu memikirkan masalah ini.

Profesor pun tidak menyangka ia dapat menjadi saksi hidup legenda terjadi secara nyata.

“Puluhan ribu tahun yang lalu, konon burung buceros digunakan untuk komunikasi makhluk antar dimensi.”

Sontak ucapan Profesor Hatala membuat Wulan dan Danendra bergeming. Masalah ini tidak sesederhana yang mereka pikirkan, bahkan jauh dari apa yang dipikirkan Danendra.

“Kukira semua ini konspirasi politik dari para elitis di luar keluarga kerajaan,” ungkap Danendra.

Ya, Danendra tidak menyangka ini akan berhubungan dengan sejarah para leluhurnya. Ia hanya mengira bahwa ini rencana jahat orang-orang yang ingin menjatuhkan keluarga kerajaan. Banyak politisi yang berada di parlemen yang ingin menyingkirkan keturunan kerajaan agar mereka dapat naik menjadi penguasa.

Profesor Hatala menggeleng pelan dengan senyum meyakinkan, “Tidak. Saya yakin semua ini adalah kekuatan Plat Perak Cicila yang sedang terancam bahaya.”

“Dan Kanigara adalah sumber bahayanya,” desis Wulan tajam.

Meski Profesor Hatala belum mengenal dan mengetahui detail profil seorang Kanigara, tetapi ia sependapat dengan Wulan. Profesor tahu persis, Wulan tak akan menyebut nama jika ia belum yakin dengan informasinya.

“Tapi kenapa? Kenapa Kanigara ingin mengambilnya?” tanya Wulan sulit mengerti. “Bukankah siapa pun yang memegangnya akan mati karena kekuatannya? Jadi untuk apa?”

Baik Danendra maupun Profesor Hatala bergeming dari tempatnya. Mereka berdua pun tak tahu jawaban apa yang tepat untuk menjawab kegamangan Wulan.

Bukan Wulan jika ia tidak memiliki banyak ide dan strategi. Ia berpikir cukup lama sebelum akhirnya menghela napasnya panjang dan merilekskan tubuhnya di tempat duduknya.

Dengan kening yang berkerut Wulan akhirnya kembali membuka suara memecah fokus Profesor Hatala dan Putra Mahkota yang sedang berpikir.

“Aku yakin Kanigara bukan orang yang mudah menyerah. Aku akan membuatnya membuka kedoknya sendiri,” ujar Wulan berseringai.

Jujur saja, Putra Mahkota bahkan merinding dibuatnya. Walaupun ia sudah mengenal Wulan sejak dalam kandungan, tetapi selalu ada saja hal yang mengejutkannya setiap ia semakin mengenal Wulan.

“Jangan buat aku penasaran, Wulan. Katakan rencanamu. Jangan buat kami khawatir,” pinta Danendra sambil meminta persetujuan Profesor.

“Aku akan memancing Kani agar secara terang-terangan melawanku,” ungkap Wulan mengejutkan Danendra.

“Bukankah itu terlalu berbahaya?” tentang Danendra cemas.

Lihat selengkapnya