NEGERI CICILA

NUN
Chapter #15

Bab 14 : The Truth

Usai menemui Maharani, Wulan keluar dari Istana dan segera bergegas pergi ke kantornya. Ia juga sudah diberi kabar oleh sekretarinya bahwa mereka sudah menerima faks surat kedatangan Komite Regional 1 ke Cicila Das Caspia. Kedatangan mereka kali ini membawa angin segar bagi Wulan karena tugasnya berhasil ia lakukan.

Kunjungan Komite Regional 1 ke Cicila Das Caspia tak lain untuk penandatanganan nota kesepakatan dan peresmian Gunung Api dan Gunung Batu sebagai penyedia oksigen terbaik dan terbanyak se-Regional 1. Mendengar kabar ini amat membuat Wulan bergembira.

Sampai di Kantor Adipati Wilayah Notos, Wulan disambut sekretarisnya yang kini membukakan pintu mobilnya. Ia tersenyum dengan sangat lebar dengan wajah khasnya yang penuh riasan tebal. Namun Wulan mengingatkannya untuk tidak terlalu berlebihan karena penandatanganan kesepakatan masih belum terjadi.

“Agenda di kantor hari ini,” pinta Wulan sambil terus berjalan.

“Sekarang Tuan Putri akan bertemu dengan panitia kecil untuk acara penandatanganan nota kesepakatan perpajakan dengan Komite Regional 1.”

Wulan mengangguk paham dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Walau terkadang Wulan sedikit jengkel dengan kebiasaan sekretarisnya yang sering bolak-balik kamar kecil untuk memperbaiki riasannya saat di kantor, namun kecekatannya memahami keinginan dan instruksi Wulan lah yang membuatnya bertahan dengan kebiasaan sekretarisnya. Terbukti, setelah faks surat diterima, tanpa harus diminta Wulan, dia segera membentuk panitia kecil kemarin sore.

“Oke,” Wulan menjentikkan jarinya. “Jadi ke mana kita sekarang?”

“Ke ruang rapat, Tuan Putri. Waktu persiapan kita hanya dua hari.”

***

Hari ini jadwal Wulan sangatlah padat. Setelah tadi pagi ia menghadiri Pengadilan Istana, lalu bergegas pergi ke Notos untuk mempersiapkan acara penandatanganan nota kesepakatan dengan Komite Regional 1, kini Wulan harus kembali lagi ke Pusat Kota untuk bertemu dengan Julian. Berita buruknya adalah, ia lupa tidak meminta sopir ibunya untuk mengantarnya hari ini. Alhasil ia harus bolak-balik Pusat Kota – Notos – Pusat Kota dengan menyetir sendiri.

Wulan sampai di laboratorium pribadi milik Julian sekitar pukul lima sore hari. Wulan yang tidak sempat makan siang pun hanya membawa nasi kepal yang ia beli di restoran cepat saji dengan lantatur alias layanan tanpa turun atau dikenal drive thru. Sambil menenteng plastik nasi kepalnya, Wulan menyapa beberapa pegawai Julian yang menyebut Julian sudah menunggu di ruang lab nomor satu.

“Halo, Tuan Putri!” sapa Julian riang.

“Sudah makan?” tanya Wulan sambil duduk di sofa bersekat.

Di ruang lab nomor satu ini memang tersedia sofa yang diberi sekat kaca untuk menerima tamu. Jadi meski tamu diberi jamuan minum dan makan tidak akan mempengaruhi kebersihan laboratoriumnya.

Wulan membuka nasi kepalnya dan segera melahapnya. Sementara Julian menghampirinya dengan sebuah pot kecil di tangan.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Wulan di tengah makannya.

“Tuan Putri akan dimarahi jika makan sambil bicara,” peringat Julian.

Wulan menggeleng-geleng kepalanya dan segera menelan nasi yang masih terdapat di mulutnya. “Itu hanya berlaku jika aku makan di Istana atau di depan publik.”

Lihat selengkapnya