NEGERI CICILA

NUN
Chapter #16

Bab 15 : The Dagger

Gelap.

Hal pertama yang Wulan rasakan adalah kegelapan. Matanya tertutup sesuatu yang Wulan tebak adalah kain yang cukup tebal dan saat ini ia sedang digendong bak karung beras oleh seseorang yang kasar. Wulan masih mencoba mengumpulkan kesadarannya sampai ia mencium aroma yang familier di indra penciumannya. Memorinya langsung membawanya mengingat wangi bunga herba yang kemarin diciumnya di laboratorium Julian.

Ia tahu persis dari mana bunga herba itu berasal meski ia melupakan namanya. Bunga itu didapat Julian dari Gunung Api. Ia pun mengingat ia sempat memfotonya untuk keperluan laporan kepada Maharani untuk sanggahan proyek Gunung Api.

Saat kesadarannya kembali penuh, Wulan yakin ia sedang dibawa mendaki ke Gunung Api. Jika ke Gunung Api, maka hal ini pasti … berkaitan dengan Plat Perak Cicila.

Kaldera Biru! jerit Wulan dalam hati.

Wulan kemudian perlahan meraih kalungnya. Tangannya tak diikat sehingga ia bisa bebas meraih kalung dan memencet tombol permata kecil di kalungnya yang ternyata adalah kalung pelacak tercanggih yang dikembangkan oleh tim riset di salah satu perguruan tinggi ternama di Cicila Das Caspia. Beruntunglah Wulan menjadi salah satu pengujinya. Kini ia memiliki harapan. Ia harap, sinyal lokasinya akan terlacak secepatnya.

***

Hampir satu jam Wulan mempertahankan akting pura-pura pingsannya yang sungguh menyiksa ini. Meski debaran jantungnya kian kencang, Wulan mencoba tetap tenang dan berpikir positif bahwa ia bisa keluar dari situasi menegangkan ini dengan aman.

Untunglah tak lama kemudian Wulan diturunkan dari gendongan pria kasar itu. Saat diturunkan, lagi-lagi secara kasar hingga ia hampir mendarat di tanah dengan bokongnya. Namun hal itu tak terjadi sebab dua tangan seseorang segera menyanggahnya dan menahan bobot tubuh Wulan sehingga ia tak terjatuh. Orang ini kemudian membenarkan posisi Wulan dengan menggendongnya, dengan cara yang jauh lebih manusiawi dan jauh lebih lemah lembut dari orang sebelumnya, Wulan ditopang dengan gendongan bridal style.

Entah hanya perasaan Wulan saja yang kini merasa lebih aman, atau memang dampak dari sentuhan pria itu yang terasa hangat di lengannya, tapi yang jelas Wulan merasa lebih tenang saat ini. Meski lebih tenang, anehnya dekapannya justru membuat jantungnya berdebar dengan ritme abnormal.

Saat Wulan memikirkan alasan rasa tenang yang menyeruak pada dirinya, terdengar bisikan yang seringan angin di telinganya, “Aku tahu Tuan Putri sudah sadar, sebentar lagi aku akan menurunkan Tuan Putri.”

Dalam hitungan detik Wulan didudukkan di sebuah batu besar, lalu dibukakan penutup matanya. Wulan mengenal dengan jelas suara bisikan itu. Anehnya, lagi-lagi, bukannya merasa terancam justru Wulan merasa benar-benar lebih aman, Wulan lega. Ini bukan semata perasaan Wulan, tetapi sentuhan dan gerakannya yang lemah lembut, tidak merepresentasikannya sebagai penculik jahat yang Wulan sering lihat di film-film thriller.

Pelan-pelan Wulan mengerjapkan matanya, menyesuaikan maniknya dengan cahaya di sekitar yang ternyata benar seperti terkaannya, ia dibawa ke tepian Kaldera Biru.

Lagi-lagi tebakan Wulan sangat akurat, orang yang baru saja berbisik padanya ia yakini adalah Kanigara. Namun tentunya pria itu tidak sendiri, terdapat beberapa orang bertubuh besar, kekar, dan tegap yang kini menatap Wulan sengit. Wulan pikir itu pasti semacam pengawal atau preman yang disewa Kani untuk menculiknya, singkatnya mereka anak buah Kani.

“Apa maumu?!” bentak Wulan yang berhasil kembali menguasai dirinya.

“Tusuk jarimu dengan jarum ini,” Kani menyerahkan sebuah jarum tajam.

Wulan mengernyit, “Untuk apa?”

Sia-sia saja Wulan merasa lega. Berhasil turun dari gendongan harimau, ia malah jatuh ke genggaman serigala berbulu domba.

Kani mengambil tangan kanan Wulan dan meninggalkan jarumnya di telapak tangan Wulan yang bergetar. Tentunya hal itu tidak lolos dari perhatian Kani.

“Ikuti saja perintahku. Jika kau lebih menyayangi jarimu, maka orang tersayangmu yang akan menanggungnya untukmu,” ucap Kani dingin.

Wulan yang masih mencoba memahami keadaan dan maksud ucapan Kani sontak mendelikkan matanya dengan tajam pada Kani yang menyebut-nyebut orang terdekatnya. Tak masalah jika hanya ia yang diganggu. Tapi jika sudah melibatkan orang tuanya, Wulan pastikan orang itu cari mati dengannya.

Sampai saat Wulan bisa kembali menggunakan matanya setelah berjam-jam ditutupi kain tadi, Wulan masih berharap bahwa Kanigara, si pria yang membuatnya merasa aman akan jadi penyelamatnya. Wulan masih berangan-angan Kanigara adalah orang yang lebih baik dari yang ia duga selama ini. Tapi Wulan tertampar kenyataan, Kani tetaplah Kani yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya.

Wulan memegang jarumnya penuh amarah. Lalu ia tusukkan jarum itu pada telunjuknya dan membesetnya cukup panjang. Tidak ada perasaan sakit yang muncul, yang ada hanyalah kemarahan yang Wulan salurkan pada tusukan jarumnya.

Setetes, dua tetes, tiga tetes, dan seterusnya, darah Wulan berubah menjadi aliran yang cukup banyak. Wulan menatap Kanigara dengan ekspresi wajah yang sulit ditafsirkan oleh Kani. Raut wajah Wulan tidak terbaca. Namun satu hal yang Kani yakini bahwa saat ini Wulan pasti sangat membencinya. Tak kuasa menatap Wulan yang dengan tegar tak menghiraukan rasa sakitnya, Kani memalingkan wajahnya dari Wulan.

Dalam hitungan detik, seluruh pasang mata mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang tiba-tiba menyilaukan mata mereka di waktu menjelang petang ini. Bukan matahari yang terbenam, melainkan Kaldera Biru yang bersinar.

Kaldera Biru seolah menjadi lautan lampu. Semua mata yang melihat bisa tahu dalam sekejap bahwa sinar itu berasal dari dasar kaldera. Hingga saat mereka semua mencari asal sinar itu, sinar itu berkumpul pada satu titik, yaitu tepat di tengah Kaldera Biru.

Lihat selengkapnya