NEGERI CICILA

NUN
Chapter #17

Bab 16 : Palace Court

“Tuan Putri!” seru seorang tim pencari.

Tim SAR, polisi, hingga tentara kerajaan telah disebar untuk mencari Wulan. Bukan hanya puluhan orang, tetapi ratusan personel dikerahkan untuk mencari keberadaan Wulan yang hilang sejak pagi tadi.

Tak hanya para kapten tim, Panglima Jenderal Tentara Kerajaan- Pangeran Pertama Wajendra juga ada di sini dengan wajah yang kentara lega saat melihat timnya sudah bertemu Wulan.

“Dokter!” panggil Pangeran Wajendra. “Segera periksa kondisi Putri Wulan,” titahnya cemas melihat kondisi Wulan yang kacau.

Wulan kemudian dibawa oleh dua dokter siaga untuk diperiksa. Wulan pun ikut tanpa mengucap sepatah satu kata pun.

“Dan ajudan, amankan dia! Bawa ke panser sekarang juga!” perintah Wajendra tak terbantahkan.

Wulan menoleh ke belakang melihat Kani telah diborgol dan sedang dikawal menuju ke truk panser khusus tahanan. Wulan hendak membuka mulutnya untuk memprotes pamannya, tetapi Kani yang juga sedang menatap Wulan seketika menggeleng perlahan dan tersenyum meyakinkan. Sorot matanya meyakinkan Wulan bahwa ia baik-baik saja.

***

Orang tua Wulan benar-benar terkejut bukan main saat mendapat telepon dari sopir mereka pagi tadi. Seharian ini mereka tidak bisa tenang memikirkan nasib putri tunggalnya yang sulit dilacak keberadaannya. Niat orang tua Wulan, terutama ibunya, untuk menyusul ke Gunung Api digagalkan oleh Maharani.

Maharani memberikan perintah untuk orang tua Wulan agar memantau dari Istana. Meski Diah terus mengoceh dan tidak sabaran, tetapi pada akhirnya Diah tak lagi punya pilihan selain menuruti titah dari Maharani dan memercayakan pencarian Wulan pada kakak iparnya- Pangeran Wajendra.

Kini Wulan sudah kembali ke hadapan Diah dengan kondisi yang sangat kacau. Berlari berjam-jam menuruni gunung, tentu saja menyebabkan tampilannya tidak karuan.

Sejak Wulan diperiksa oleh Julian, Diah tak henti-hentinya mengucap syukur sambil sesekali menggerutu soal tidak diperbolehkannya dia memantau pencarian dari Gunung Api. Namun Wulan paham betul, keputusan Maharani ini sangatlah berdasar. Orang tuanya yang masuk kategori VVIP nasional harus diutamakan keselamatannya. Akan tetapi, jika orang tuanya hadir di Gunung Api, personel pencari bukannya fokus mencari Wulan dan menangkap penculik, justru akan terbagi tugasnya untuk mengawal Pangeran Brata dan Diah.

Setelah Diah cukup tenang dan Julian selesai membalut luka di kaki dan tangannya, Wulan meminta ibunya untuk pinjamkan ponselnya.

“Buat apa, Nak?”

“Aku harus laporan kepada Maharani, Bu,” terang Wulan tergesa-gesa.

Diah mengerucutkan bibirnya, kesal karena Wulan yang lebih mementingkan laporan pada Maharani daripada keselematannya sendiri, namun terjadi lagi, ujungnya Diah tetap memberikan ponsel miliknya kepada Wulan.

Wulan terus mengucap terima kasih pada ibunya seraya memasukkan nomor pada kotak panggilan, angka yang sepertinya sudah ia hapal di luar kepala, yang tak lain adalah saluran darurat sekretariat negara.

“Halo, ini dengan Wulan,” ujar Wulan setelah teleponnya tersambung. “Izin untuk melapor langsung kepada Yang Mulia Maharani.” Wulan mendengarkan suara seseorang yang mengangkat sambungan teleponnya cukup lama hingga Wulan kembali berkata, “Baik.”

Usai menutup telepon dan mengembalikan ponsel kepada ibunya, Wulan bersicepat mencabut selang infus dari lengan kirinya. Tanpa menghiraukan panggilan ibunya dan Julian, Wulan bergegas keluar Klinik Istana meski kakinya terpincang-pincang karena banyaknya luka di kakinya.

Saat Diah berhasil menyergah tangan Wulan, ia langsung menatap ibunya meyakinkan. Wulan mengusap halus punggung tangan ibunya.

Beginilah rasanya menjadi ibu. Saat seorang ibu hendak egois terhadap keinginan anaknya, kejujuran dan ketulusan hati anaknya yang mudah dipahami seorang ibu hanya lewat sinar matanya, seketika membuat sang ibu mengalah. Itulah yang sedang terjadi pada Diah.

“Aku akan kembali ke klinik dalam lima belas menit, Bu,” janji Wulan meyakinkan ibunya.

***

Hari sudah semakin malam dan situasi di Istana semakin intens. Masalah Kani dan Wulan telah berubah menjadi masalah nasional yang menjadi prioritas Istana untuk diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan di ruang kerja Maharani lah, Wulan mencoba menyelesaikannya.

“Yang Mulia, Kanigara tidak bersalah,” ungkap Wulan gelisah.

Maharani yang awalnya menatap jauh keluar jendela, kini beralih menatap lekat keponakannya, Wulan.

Lihat selengkapnya