NEGERI CICILA

NUN
Chapter #18

Bab 17 : Witness

Sejak pagi Wulan tersadar dari pingsannya, Wulan sudah merengek ingin pergi dan hadir ke Pengadilan Istana Darurat. Ia tahu hari ini akan diadakan sidang khusus untuk Kani. Namun Diah dan Julian terus menahannya di Klinik Istana. Kondisi Wulan yang masih lemah dengan kaki dan lengan penuh luka pun menjadi alasan Wulan harus istirahat dan dirawat oleh dokter.

“Ibu, biarkan aku hadir,” ucap Wulan memelas.

Namun ibunya tak acuh dan lebih memilih untuk terus mengupas buah apel.

Saat Wulan sudah mulai lelah memohon kepada ibunya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar rawat inapnya. Setelah disilakan masuk oleh Diah, ternyata orang yang mengetuk adalah salah satu ajudan Maharani.

“Tuan Putri Wulan, Nyonya Diah,” sapa ajudan yang cukup tampan itu. “Yang Mulia Maharani meminta Tuan Putri Wulan untuk datang ke Balai Pertemuan.”

Wulan tersenyum lega mendengarnya. Kebalikan Wulan, ibunya justru kini tengah bersungut tak mengerti jalan pikiran kakak iparnya dan juga putrinya.

“Aku akan mendampinginya,” putus Diah ketus.

***

Wulan berdiri gontai, tengah memandangi kondisi Kani yang sudah mirip seperti orang gila menahun. Wajahnya kusam, janggutnya tumbuh dalam semalam seperti Ayah Wulan, dan yang paling membuat Wulan cemas adalah luka di lengan Kani akibat pelarian mereka di hutan ternyata belum dibalut dan diobati sama sekali. Padahal luka itu cukup besar dan butuh jahitan. Sejak kapan negaranya sejahat ini pada seorang tahanan? Wulan miris melihatnya.

“Kanigara mengatakan, Putri Wulan memiliki bukti bahwa ia tidak lagi memihak Rajanya,” Maharani memulai sidang kembali.

Pernyataan Maharani justru membuat Wulan yang masih mengenakan pakaian pasien itu kebingungan. Bukti apa yang dimaksud Kani.

Kani melihat dengan jelas wajah nanar Wulan yang duduk di deretan kursi adipati, di sebelah kiri atas posisi kursi Kani.

Lihat selengkapnya