NEGERI CICILA

NUN
Chapter #19

Bab 18 : Sacrifice

Selepas memberikan kesaksian, Wulan langsung diboyong ibunya kembali ke kediaman Pangeran Brata. Mereka pulang karena kondisi Wulan yang butuh istirahat total. Julian pun menyarankan Wulan untuk istirahat selama sepekan penuh. Namun bukannya beristirahat, Wulan kini justru mondar-mandir di kamarnya, gelisah menunggu kabar putusan Pengadilan Istana Darurat yang belum selesai hingga larut malam.

Ayah Wulan yang belum kunjung kembali semakin membuat Wulan gamang, ia tidak tahu harus bertanya pada siapa tentang hasil sidang khusus Kani.

Merasa sesak, Wulan berjalan keluar kamarnya dan duduk di beranda Paviliun Anyelirnya. Bulan dan bintang malam ini yang terlihat elok, justru dirasa Wulan sedang mengolok-oloknya. Bulan dan bintang bagai tertawa indah di saat Wulan merasa sebaliknya, sedih, sedu sedan, patah hati, hingga rasa tidak berdaya sedang melingkupi Wulan.

Entah apa yang sebenarnya dilihat Wulan selama ia membaca ingatan Kani, namun kini perasaannya benar-benar hancur berkeping.

Sembari terus menghitung berapa banyak bintang yang menertawakannya, Wulan pun tertidur. Rasa lelahnya tak dapat dielak lagi.

“Sudah waktunya kita berpisah, Nak. Tolong kembalikan lagi kekuatan inti spiritual, sepenuhnya, pada Plat Perak Cicila. Maka, dunia akan damai kembali.” Wanita paruh baya yang berparas cantik itu kemudian menghilang.

***

Sejak dini hari hujan terus mengguyur Ibu Kota Cicila Das Caspia. Peringatan hujan dan angin kencang disebarkan kepada seluruh penduduk ibu kota. Wulan menganggap ayahnya tidak pulang hingga pagi ini juga karena cuaca yang cukup ekstrem.

Anggapan Wulan ternyata salah, karena justru kini Wulan lah yang dipanggil oleh Maharani ke Istana. Ya, lagi pula jarak dari kediaman Wulan ke Istana cukup dekat. Jadi kepulangan ayahnya tertunda bukan semata-mata karena hujan badai, tetapi karena rapat internal kabinet yang dilakukan hingga dini hari tadi.

Wulan yang kembali dijemput oleh ajudan Maharani pun, bergegas mengganti pakaiannya.

Nyonya Diah sangat khawatir hingga ia memilihkan baju yang tebal dan hangat untuk Wulan. Mantel kulit berlapiskan bulu halus di dalamnya menjadi pilihan Nyonya Diah dan segera memakaikannya pada putri kesayangannya.

Wulan terkikik saat ibunya memakaikan mantel kulit itu.

“Ibu, aku akan menjadi pusat perhatian jika memakai mantel ini,” ucap Wulan di tengah tawanya.

“Sejak lahir kau memang sudah ditakdirkan menjadi pusat perhatian banyak orang, Wulan. Lagi pula, sejak kau masuk Majalah Buana dan terkenal hingga seluruh penjuru dunia, tidak memakai mantel mencolok pun kau akan diperhatikan banyak orang.”

Wulan meraih tangan halus ibunya, lalu mengelus punggung tangannya yang kini sudah selesai memakaikan dan menutup rapat mantel berwarna merah cabai yang dikenakannya.

“Ibu,” panggil Wulan lembut. “Ibu akan selalu mendukung setiap keputusanku kan, Bu?” Wulan menatap ibunya lemah lembut.

Diah menelengkan kepalanya sejenak. Pertanyaan Wulan yang tiba-tiba seperti ini membuat hatinya tak tenang.

“Ibu akan mendukung setiap keputusan yang membuat anak ibu bahagia,” jawab Diah dengan senyum keibuannya.

“Terima kasih, Bu …”

***

Wulan telah sampai di lobi Balai Pertemuan tanpa basah sedikit pun. Pesan Diah yang terus diulang hingga meneror ponsel para pengawal kerajaan, nyatanya benar-benar ampuh dan membuat para pengawal melakukan tugasnya dengan baik. Mereka ketakutan karena Diah sangat mewanti-wanti mereka, maka jika tidak dilakukan, sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka.

Sungguh, Diah tidak biasanya protektif sedemikian rupa. Hanya saja, insiden yang beberapa bulan terakhir terjadi telah memberinya pelajaran bahwa ia harus lebih melindungi dan memantau setiap kegiatan anaknya. Mungkin hal ini akan terus dilakukannya hingga ada seseorang yang akan membantunya menjaga putri tunggalnya kelak.

Setelah masuk ke Balai Pertemuan, pandangan Wulan langsung tertuju pada seorang Pangeran Kanigara Pradipta yang hari ini terlihat jauh lebih baik dibanding kondisinya kemarin. Kani tak lagi berbaju tahanan. Spontan helaan napas lega terdengar dari Wulan.

Penampilan Kani lebih rapi. Hari ini ia mengenakan kemeja putih polos dibalut jas hitam yang terlihat cukup mahal itu, sudah seperti anggota kerajaan dan para anggota parlemen yang hadir saat ini. Kani yang mengambil tempat duduk di jajaran para menteri yang tak lain adalah keturunan kerajaan, membuatnya semakin terlihat lebih baik lagi.

Akan tetapi, Wulan menangkap sesuatu yang lain. Meski Wulan melihat kondisi Kani lebih baik, namun ekspresi Kani terlihat lebih murung daripada kemarin. Hal ini cukup mengganggu Wulan, tetapi ia memilih untuk terus melanjutkan langkahnya menuju kursi yang biasa ia duduki.

Tak hanya Wulan yang mengamati penampilan Kani, sebaliknya Kani juga mengamati setiap gerak-gerik Wulan saat ini. Wulan yang sedang membuka mantel merahnya sebelum duduk, entah bagaimana terlihat sangat memesona dengan riasan tipisnya.

Saat mantelnya telah seutuhnya lepas dari tubuh Wulan, tampak lah gaun selutut berwarna putih yang begitu pas pada tubuhnya menambah pesona dan kecantikan Wulan. Rambut Wulan yang hari ini tidak dicepol seperti hari kerja biasanya, dan hanya dibiarkan tergerai tanpa jepit, tanpa aksesoris, semakin memperkuat kesan feminin Wulan. Tak heran jika Wulan sempat terpilih menjadi duta kecantikan Cicila Das Caspia tiga tahun lalu, saat ia masih berusia 22 tahun.

Kegiatan saling mengamati pun terputus ketika petugas Pengadilan Istana menyerukan kedatangan Maharani Nareswari ke dalam ruangan.

Setelah menyamankan dirinya di singgasana, Maharani langsung memindai orang-orang yang hadir, dan mencari keberadaan Wulan. Usai memastikan kehadiran Wulan yang sengaja dipanggilnya pagi ini, Maharani segera membuka pertemuan ini.

Lihat selengkapnya