- Satu tahun kemudian -
Hari ini prakiraan cuaca menyebut cuaca di Ibu Kota dan Wilayah Notos akan cerah berawan. Itulah yang membuat pelaksana Adipati Wilayah Notos ini memutuskan untuk mengendarai sepeda motor sport-nya yang akhir-akhir ini sering ia gunakan untuk mencari angin segar di malam hari.
Wajah menawannya kini tertutup oleh full face helmet-nya. Jaket kulit dan sepatu boots yang juga menambah kesempurnaan tampilannya. Usai memakai sarung tangan kulit yang sempat viral karena menjadi tren para pemotor di seluruh CDC, kini ia menyalakan mesin motor dengan cc besar ini. Suaranya yang gagah sontak memicu adrenalin dirinya dan orang di sekitar yang mendengarnya.
Sebentar ia biarkan hangat mesinnya, untuk kemudian ia lajukan dengan mulus membelah jalanan Ibu Kota Cicila Das Caspia menuju ke Wilayah Notos.
Sesampainya di Notos, ternyata ia tidak langsung menuju ke kantornya, melainkan ia memilih menyambangi lokasi proyek sanggraloka Gunung Api yang dapat dilihat bahwa pengembangan dan pembangunannya hampir selesai.
“Bagaimana kemajuannya?”
“Bangunan vila dan hotel sudah siap, Pangeran. Sementara taman dan wahana eksplorasi hutan sudah 90% . Persentase kemajuan dari target yang ditetapkan capai 120%.”
“Baiklah. Lanjutkan kerja bagus ini. Kita akan segera resmikan pembukaannya.”
Setelah mendapat laporan kemajuan proyek, ia hendak berkeliling namun seseorang memanggilnya.
“Pangeran Kanigara!” panggil seseorang.
Merasa dirinya dipanggil, ia menoleh. “Ada apa?” tanyanya datar. “Apa ada kabar baru soal pencarian?”
Orang yang menghampiri Kani adalah orang yang sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu asistennya. Asisten Kani sempat akan dijatuhi hukuman oleh Pengadilan CDC karena dirinya terlibat dalam skema rencana Raja Aristera. Namun berkat Kani yang membantunya menyewa pengacara dan memberikan bukti bahwa asistennya ini sangat setia kepada Kani, bukan kepada pamannya, maka asisten Kani tidak dijatuhi hukuman penjara. Ia hanya diminta wajib lapor satu kali per satu pekan kepada pihak yang berwajib selama kurang lebih enam bulan.
“Bukan, Pangeran. Saya mohon maaf karena pencarian kembali tidak membuahkan hasil,” terang asistennya lirih.
Seolah terbiasa dengan laporan yang membosankan tanpa hasil ini, Kani mengangguk paham dan kembali melanjutkan langkahnya. Meski Kani tidak menunjukkan ekspresinya kepada sang asisten, namun di balik itu, rahang dan urat pada lehernya dalam sepersekian detik menegang. Sudah setahun pencarian dilakukan tetapi tidak jua berhasil.
Selama apa pun pencariannya, Kani akan selalu menempuhnya.
***
Hari datang silih berganti. Tak terasa pekan sudah kembali dimulai dan Kani kini bergegas memasuki Balai Pertemuan untuk menghadiri Pengadilan Istana.
Banyak orang menyapa Kani, namun Kani hanya menganggukkan kepalanya tanda hormat. Senyumnya semakin hari semakin memudar. Kani yang dahulu dikenal para pejabat sebagai pribadi yang ramah, kini berubah menjadi lebih pendiam.
Kani telah duduk di kursinya dan tak lama Putra Mahkota masuk bersama dengan Maharani.
Satu per satu laporan disampaikan oleh para adipati. Dimulai dengan Putra Mahkota sebagai Kepala Pusat Kota, Pangeran Bhanu sebagai Adipati Dexia, Pangeran Giandra sebagai Adipati Disi, dan kini tiba giliran Kani sebagai Adipati Notos.
“Jadi, peresmian Taman Ekowisata Gunung Api bisa dilaksanakan bulan ini?”
“Ya, Yang Mulia,” jawab Kani.
“Baiklah, teruskan kerja kerasmu,” Maharani memungkas laporannya.
Tiba-tiba Pangeran Galang yang duduk di samping Kani berbisik, “Keren, Kak!”