NEGERI CICILA

NUN
Chapter #21

Bab 20 : Eventually

Lagi dan lagi hatinya terjatuh melihat pemandangan yang sangat elok bahkan di malam hari dengan sinar rembulan dan kunang-kunang yang beterbangan menyambut kedatangannya. Ia yang sadar betul bahwa ini boleh jadi, menjadi kali terakhirnya melihat pemandangan cantik ini membuatnya tak ingin menyiakannya. Sejenak ia mengambil napas dan memindai Kaldera Biru dengan sepenuh hati. Ketika dirasa sudah cukup, Wulan menaruh lampu elektrik portabelnya di tanah, kemudian mengeluarkan Plat Perak Cicila dari tas selempangnya. Iringan suara burung buceros seolah ikut menyoraki Wulan untuk terus bersemangat.

“Aku akan mengembalikan kekuatan yang kau pinjamkan padaku,” Wulan terisak. “Terima kasih, kau membantuku hidup sedikit lebih lama bersama orang-orang yang kucintai.”

Usai Wulan mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba Plat Perak Cicila bergerak dan mendesak untuk lepas dari genggaman tangan Wulan. Tak lagi terkejut, Wulan membiarkan Plat Perak Cicila untuk terbang bebas. Bersamaan dengan ia melepas plat, Wulan kembali berbisik lirih.

“Ku mohon, dengan nama Tuhan, bantu aku untuk melindungi negaraku. Bantu aku mematahkan kekuatan Belis yang sedang mengganggu tanah airku. Semoga Tuhan menghendaki engkau untuk membantuku.”

Dalam sepersekian detik, Plat Perak Cicila menyilaukan penglihatan Wulan. Rasanya seperti malam yang dengan sekejap berubah menjadi siang, tanpa proses matahari terbit. Kilatan cahaya yang begitu terang benderang itu bahkan melenyapkan kesadaran Wulan yang berderai air mata.

Hanya hewan, tumbuhan, dan saksi bisu lain yang mengetahui dengan persis. Usai Wulan kehilangan kesadarannya, sebuah dentuman besar terdengar keras di langit Kaldera Biru. Sebuah kekuatan jahat yang mencoba memengaruhi dan memperdayai Cicila Das Caspia telah terpatahkan. Mengetahuinya, para saksi bisu ikut bersorak gembira.

Sementara hal luar biasa terjadi di Gunung Api, maka peristiwa kebalikannya justru terjadi di mansion Raja Suku Aristera. Patahnya kekuatan Belis yang ia kirim ke Cicila Das Caspia, memberinya resultan yang cukup besar, dan justru jadi bumerang. Kini tak akan ada lagi yang bisa mengganggu Cicila Das Caspia karena Belis telah terkalahkan, berkat pengorbanan Wulan.

Sejak saat itu pula, Wulan menghilang tanpa jejak. Yang tersisa di Kaldera Biru hanyalah lampu yang lambat laun meredup, yang menemani perjalanan Wulan menuju kemenangannya.

***

"Raja Suku Aristera yang setahun lalu ditangkap dan diadili pada Pengadilan Istana, hari ini akan dieksekusi mati. Ia terbukti melakukan kejahatan hak asasi manusia berupa genosida terhadap rakyatnya sendiri. Eksekusi akan dilakukan pukul lima sore nanti.”

Kani segera mematikan siaran berita di televisi itu. Ia mengembuskan napas panjang. Akhirnya eksekusi dijalankan setelah ia menunggu berbagai proses selama satu tahun. Sidang dan berbagai pembuktian harus dilakukan sesuai prosedur.

Lelah? Pasti. Tetapi rasa lelah Kani telah terbayar hari ini. Tidak akan ada lagi ancaman untuk orang-orang yang ia pedulikan, rakyatnya, dan tentu saja Wulan.

Ya, banyak orang yang menganggap keyakinan Kani sebatas pelipur lara atas meninggalnya Wulan. Tapi Kani menepisnya mentah-mentah, jika Wulan benar-benar sudah meninggal, maka jasadnya seharusnya bisa ditemukan. Namun hingga setahun ini, Kani terus mencarinya, jasadnya tidak pernah ditemukan. Dan selama tubuh Wulan belum ia temukan, Kani masih berharap keajaiban, seperti yang terjadi pada Wulan saat jatuh dari Gunung Api bisa kembali terjadi.

Tak ingin terlarut dalam perasaan gamangnya, Kani kembali meninjau berkas yang ada di hadapannya. Kani yang kini menjabat sebagai Adipati Wilayah Notos menggantikan posisi Wulan sementara sebelum Wulan ditemukan, disibukkan dengan berbagai proyek. Proyek yang Wulan inisiasi yang paling utama adalah meresmikan sanggraloka serta pengembangan kawasan pengolahan obat herbal beserta herbariumnya.

Sebelumnya Maharani sempat menawari Kani untuk menjadi Raja Suku Aristera yang kini menjadi negara persemakmuran dari Monarki Cicila Das Caspia. Namun ia lebih memilih untuk menetap di CDC. Selain untuk memudahkan dirinya mencari keberadaan Wulan, Kani juga ingin membantu mewujudkan visi dan misi Wulan sebagai adipati. Dan Maharani mengizinkan hal itu.

Proyek sanggraloka, herbarium, dan kawasan pengolahan obat herbal, semua Kani kerjakan persis dengan cetak biru dan proposal yang direncanakan Wulan. Semua Kani pimpin dengan prinsip kerja Wulan, “Zero waste, millions asset.”

Fokus Kani yang sedang meninjau laporan-laporan proyek tersebut pun kini terinterupsi ketika pintu ruang kerjanya diketuk.

“Masuk!” sahut Kani sambil mendongakkan kepalanya.

Itu adalah sekretaris Wulan yang kini juga membantu Kani sebagai sekretaris.

“Ini agenda acara untuk besok, Pangeran.” Sekretaris Kani menyerahkan sebuah PC tablet.

“Persiapan di lapangan sudah oke?” tanya Kani sambil terus membaca agenda.

“Persiapan on site sudah oke juga, sudah firm.”

“Baiklah, kerja bagus. Hari ini aku akan laporkan langsung kepada Maharani.”

***

“Sampai kapan kau akan membiarkan Aristera dikelola orang lain?”

Pertanyaan Maharani yang sebelumnya dapat Kani jawab dengan lancar. Hingga tiba pada urusan personal, lidah Kani seketika kelu.

Lihat selengkapnya