Seluruh tamu undangan sudah meninggalkan lokasi peresmian Taman Ekowisata Gunung Api, karena acara pertunjukan seni dan budaya dibatalkan akibat hujan deras yang terus melanda kawasan ini. Kani segera mengirim para tamu undangan ke kamar mereka di sanggraloka, terkecuali Maharani dan Putra Mahkota yang harus segera kembali ke Pusat Kota.
Kini yang ada di lokasi peresmian hanyalah staf yang bertugas dan seorang Julian yang sepertinya tidak berniat meninggalkan lokasi tanpa berbicara dengan Kani. Orang yang dibuntuti sama sekali mengabaikan keberadaannya dan memilih untuk memberikan arahan demi arahan dari peranti komunikasinya agar seluruh staf bisa pulang lebih cepat.
Julian yang dongkol dengan ketidakpedulian Kani, akhirnya memutuskan untuk mengadang jalan Kani ketika Adipati Notos itu hendak mengambil tasnya di area belakang panggung. Kani menghentikan langkahnya dan menatap datar Julian.
“Memangnya kau tidak penasaran dengan badai ini?” tanya Julian mendengus kesal. “Di ramalan cuaca CDC tidak pernah ada sejarah salah prediksi sejauh ini. Dari sekian banyak hari, dari 24 jam waktu, kenapa harus tepat saat lagu yang sengaja dipersembahkan untuk Wulan dinyanyikan?”
Kani mensidekapkan tangannya berusaha menghargai Julian yang sangat berapi-api. “Lalu apa maksudmu mengatakan ini semua, Julian?”
Julian lagi-lagi mendengus kesal tidak kepalang. “Kau-”
Kani menyeringai melihat reaksi Julian yang seperti ini. Kani tahu bahwa Julian juga meyakini Wulan bisa kembali, tetapi kadang kepercayaan diri dan usahanya yang hampir saja melebihi usaha Kani dalam mencari Wulan, membuat Kani jengkel. Kani tak ingin terkalahkan Julian. Tetapi bagaimanapun, Kani juga bersyukur ia punya sekutu dalam mencari Wulan. Dua lebih baik daripada satu, kan.
“Hari ini tepat satu tahun setelah Wulan menghilang, Pangeran Kani yang terhormat,” decak Julian tak tertahan.
“Aku tahu,” ujar Kani melenggang pergi. “Aku tahu. Tapi aku tidak tahu harus mencarinya ke mana. Jika tadi aku segera mengelilingi seluruh gunung pun, belum tentu aku akan menemukan dia.” Kani menyibukkan diri membereskan tasnya.
Tak lama Kani terdiam dan menatap jauh tanpa arti. Ucapan lirihnya begitu menunjukkan betapa ia putus asa merindukan Wulan. Hingga tak terasa air matanya seketika memenuhi pelupuk matanya, dan menetes keras satu per satu. Hari ini, Kani benar-benar sangat lemah.
“Lalu kau akan menyerah begitu saja?!” Julian membentak Kani. Seluruh staf yang sedang berada di sekitar mereka tentu langsung memerhatikan mereka berdua.
“Tentu saja tidak! Tahu apa kau soal usahaku, hah?!” Kani mencengkeram kerah Julian.
Julian berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Kani. Beruntunglah Kani tidak terlalu keras menariknya, jika iya, maka kancing kemejanya akan banyak yang lepas dari peraduannya. Julian dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Itu adalah secarik kertas memo.
Buk!
Julian menepuk dada Kani dengan cukup keras. Kani meraih kertas yang baru saja Julian tepukkan pada dadanya.
Kawasan hutan musim, titik koordinat 238o Barat – Barat Daya dari lokasi peresmian.
Kani mengernyit membaca kertas memo itu. Lokasi tersebut adalah tempat di mana ia pernah beberapa kali mencari Wulan di sana. Begitu pun dengan orang-orangnya yang sudah tidak terhitung berapa kali mencari Wulan di lokasi yang sama. Tetapi hasilnya nihil.
“Itu lokasi Wulan pagi ini. Alat pelacak di kalungnya kembali aktif dan mengirim sinyal tadi pagi. Ayahku yang memberitahuku dan meminta agar aku berikan padamu. Terserah, akan kau cek sendiri atau tidak.” Julian merapikan kemejanya lalu kembali menatap Kani sendu. “Tidak usah berterima kasih padaku. Cari saja Wulan, dan segera bawa dia kembali. Aku sudah merindukannya setengah mati.”
Mendengar kalimat terakhir yang Julian ucapkan, sontak membuat kedua bola mata Kani memerah hingga tampak saraf tegangnya.
***
Pada akhirnya Kani memutuskan untuk pergi sendiri ke titik lokasi yang Julian berikan usai badai hanya menyisakan gerimis. Kani sempat lupa, bahwa Wulan selalu menggunakan kalung dengan alat pelacak saat hendak melakukan sesuatu yang berbahaya. Selama setahun terakhir, Kani mulai membenci pemikirannya, bahwa ia mulai mengerti mengapa banyak orang yang menyukai, mengagumi, dan menyayangi Wulan. Sering kali ia tak pantas menaruh rasa pada sang putri.
Tapi jika dibandingkan, tentu saja hanya dirinya, satu-satunya yang mencintai Wulan tanpa mengenal lelah. Di saat semua orang mulai menyerah mencari Wulan, hanya dirinya yang keyakinannya selalu penuh akan keberadaan Wulan yang masih hidup.
Tanpa merasa lelah telah menyelenggarakan acara peresmian tadi, Kani terus menelusuri jalan yang sudah familier ini baginya. Sudah dua jam Kani berjalan dari lokasi peresmian tadi, saat ini Kani sudah memasuki bagian gunung yang merupakan kawasan hutan musim, atau tepatnya di bagian belakang Gunung Api yang mengarah ke laut.
Di penghujung musim kemarau ini, dedaunan meranggas dari pohonnya menyebabkan lautan daun kering sepanjang jalan yang Kani jejaki.
Tak berapa lama, Kani menghentikan langkahnya. Ia kembali mengecek GPS-nya dan mencocokannya dengan lokasi yang tertulis pada memo.
Ini dia lokasinya.
Ini benar lokasinya. Namun Kani tidak melihat adanya tanda-tanda manusia. Yang ada hanyalah pohon yang mulai gundul, daun kering yang berserakan, dan bebatuan besar yang jaraknya tidak jauh satu sama lain. Lelah secara psikis membuatnya terduduk di tanah, kakinya melemas seiring dengan harapan palsu yang semesta kirimkan padanya beberapa saat yang lalu.
Apakah Julian menipuku? Pikir Kani. Namun ia segera menggelengkan kepalanya. Menampik hal itu, karena ia tahu tidak mungkin Profesor Hatala menipunya.
Pada akhirnya, Kani kembali terisak. Kini keringatnya telah tercampur dengan air mata dan rintik hujan yang konsisten turun dengan ringan sejak keberangkatannya.
Kani menepuk-nepuk dadanya dengan keras. Sesak yang ia rasakan sudah tak lagi tertahan. Mata dan telinganya memerah menahan emosi yang bergejolak selama ini. Kani berharap pukulan di dadanya bisa mengeluarkan sesak yang ia rasa. Tapi salah, ia justru semakin larut dalam rasa ketidakmampuannya untuk menemukan seorang Wulan.
Deru napas Kani semakin tidak karuan hingga ia berteriak, “WULAN GAYATRI!!!!!”
Nama itu ia teriakkan sekencang-kencangnya dengan seluruh kekuatannya yang seketika habis hanya karena meneriakkan satu nama. Kani benar-benar meluruh, ia bahkan tak sanggup menahan bobot tubuhnya lagi dan kini terkapar lemah. Pandangan matanya yang mengabur berkat air mata yang terus mendesak keluar pun, tak lagi Kani hiraukan.
Saat Kani mulai kehilangan kesadaran karena kehabisan energi, semilir angin yang sejuk menerpa wajah Kani, mencoba menyadarkan Kani. Merasa dirinya dibelai oleh angin, Kani mengerjapkan matanya membiarkan seluruh cairan di matanya terjatuh agar ia bisa melihat dengan jelas.
Ketika Kani masih mengerjapkan matanya yang tak mau bersih dari bulir air mata, tiba-tiba telinganya mendengar langkah kaki yang bergesekan dengan dedaunan yang berguguran. Langkah kaki itu semakin jelas terdengar kemudian berhenti saat dua kaki tanpa alas milik seseorang terlihat oleh Kani. Dua kaki yang indah, menurut Kani, meski tanpa sandal.
Kaki itu kemudian mengambil posisi berjongkok dan menampakkan gaun warna putih yang corak bunga-bunga samarnya cukup familier bagi Kani.
Ini seorang wanita.
“Pangeran Kanigara?”
Suaranya. Kani tidak mempunyai keberanian yang besar untuk memastikan wajah wanita itu. Ia tahu bisa saja itu adalah orang yang ia cari selama ini, namun Kani takut, Kani takut jika tebakannya pada kenyataannya justru akan menampar dirinya dengan keras, dan membuatnya kembali terjatuh pada jurang rindu yang tiada berujung. Ia takut ini hanya ilusi semata.
Untuk sesaat, Kani menutup matanya rapat dan mengambil napas dalam. Sambil meyakinkan diri, Kani coba menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah wanita itu.
Di saat Kani menatap wanita itu, sang wanita tiba-tiba kembali bertanya. “Sedang apa kau di sini?”
Wajah wanita itu seketika menekuk saat tak kunjung mendapat jawaban. Ia pun menggerakkan tangannya untuk menyentuh kening Kani. Benar saja, tubuh Kani sangat panas. Saat tangannya kembali ia tarik, dan mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekitar, ternyata tidak ada orang sama sekali.
“Kau kemari sendirian?” tanya wanita itu lagi.