NEGERI CICILA

NUN
Chapter #23

Epilog

Paviliun Anyelir tidak pernah terasa sehidup ini sejak ditinggal sang penghuni setahun yang lalu. Wangi kopi kembali menyeruak, mesin lari statis yang kembali berderu, angin semilir yang menyentuh setiap benda di paviliun kala dibuka jendelanya dengan lebar, kini telah kembali. Persis seperti sebelum sang empu terlibat banyak intrik yang hingga saat ini masih sulit untuk dipercayai.

Sebulan sudah paviliun ini kembali hidup.

Wulan kembali memulai harinya dengan berolahraga, mandi, dan kini sudah siap dengan gaun tak berlengan dengan panjang yang menjuntai hingga menutupi kakinya. Belahan gaun di sisi kanan sangat memberikan kesan elegan, anggun, dan seksi dalam satu waktu. Wulan juga selesai dirias oleh para makeup artistyang sengaja diminta datang oleh sang ibunda. Wulan harus terlihat sempurna, itu pesan Nyonya Diah.

“Sudah selesai!” seru sang perias.

“Terima kasih,” ujar Wulan. Kemudian ia segera beranjak dari kursi dan berjalan menuju kursi dekat jendela besar kamarnya.

Wulan meraih sepatu hak tinggi dan mungkin paling tinggi yang pernah Wulan kenakan. Seseorang kemudian menghampiri Wulan dan mengambil alih stiletto Wulan.

“Biarkan aku memakaikan sepatumu.”

Wulan tersenyum simpul, “Silakan, Pangeran.”

Bukan hanya Wulan yang terlihat sempurna, tetapi juga pria tampan nan gagah yang ada di hadapannya juga terlihat sempurna.

“Kau terlihat sangat sempurna, Tuan Putri.”

Wulan terpaku. Mendengar pujian yang begitu merdu yang dilantunkan manusia terindah dengan tatapan yang mampu membius Wulan, sungguh, Wulan akan menyesalinya jika ia tak kembali hidup-hidup kali terakhir.

“Kau juga,” ujar Wulan menatap kagum.

Uluran tangan kekar yang hanya diberikan untuk Wulan itu, kini disambut hangat. Tak lagi ragu menggenggamnya erat.

“Siap pergi?”

“Tentu!”

***

Suasana meriah begitu kental terasa meski baru keluar dari Kediaman Pangeran Brata Jaya. Mobil yang melaju terpaksa mengurangi kecepatan mereka. Seluruh rakyat Cicila Das Caspia ikut merayakan kebahagiaan keluarga kerajaan.

Sesampainya di kawasan Istana, kedatangan Wulan disambut langsung oleh bibi tertuanya, Maharani negara ini.

“Kau terlihat sangat cantik!” serunya di detik ia melihat Wulan.

“Terima kasih, Yang Mulia,” Wulan balas dengan memeluk Maharani Nareswari.

“Kau juga sangat tampan, Kani!”

“Terima kasih, Yang Mulia,” ujar Kani sembari membungkuk.

“Di mana Putra Mahkota, Yang Mulia?”

Maharani menunjuk ke arah dalam di mana keberadaan Putra Mahkota berada. Tepatnya, di antara salah satu ruangan di belakang aula terbesar di Istana.

Wulan dan Kani pamit sebentar pada Maharani untuk menemui Putra Mahkota. Hari ini hari bersejarah dalam hidup Putra Mahkota. Wulan yang tahu persis karakter Pangeran Danendra, sudah bisa membayangkan bagaimana groginya Sang Pangeran.

“Nendra!”

Wulan seketika berseru saat memasuki ruang rias Danendra. Wulan mengangkat ke belakang kakinya lalu meraih ujung gaunnya yang terbelah dengan lihai dan berjalan cepat menuju Danendra. Caranya mengambil ujung gaunnya dengan lihai dan anggun, ditambah dengan kaki mulusnya yang terekspos, sontak menghipnotis seluruh pasang mata di ruangan ini. Para perias, ajudan Putra Mahkota, dan beberapa pelayan yang bertugas tak luput dari efek hipnotis Wulan.

Andai Wulan tahu, pria yang mengekorinya kini tengah berdengus kesal melihat Wulan yang seperti itu. Kani kesal setengah mati karena kini semua lelaki yang berada di ruangan ini menatap Wulan dengan tatapan yang menurut Kani menyebalkan! Ini sungguh rawan.

Wulan kini sudah memeluk sepupunya itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku tidak pernah membayangkan hari ini akan tiba!” Wulan terisak. “Aku bangga padamu. Kuharap pernikahanmu akan bertahan selamanya. Dan cepat berikan aku keponakan, supaya aku tidak bosan jika berkunjung ke kediamanmu. Jangan lupakan aku!”

Ada nada sarat kesedihan pada kalimat terakhir yang terucap dari bibir Wulan. Putra Mahkota mengelus kepala Wulan penuh kasih.

“Bagaimana aku bisa melupakanmu? Kau adik perempuanku satu-satunya. Aku akan selalu ada untukmu, sampai kapan pun.”

Danendra tersenyum pada Kani sekilas lalu kembali berkata, “Kau tahu Wulan, aku menunda lama pernikahan ini hanya untuk menunggumu kembali. Jika kau tidak kunjung kembali, aku pasti akan terus menjadi bujang lapuk.”

Wulan mengurai pelukannya, “Aku sungguh merasa terhormat karena begitu berarti untuk Pangeran!”

Wulan terisak sambil tertawa. Melihat itu, dengan sigap seorang pelayan segera menghampirinya menyerahkan tisu.

“Aku akan selalu mengawasimu, Wulan,” ujar Danendra. “Dan kau! Aku juga akan mengawasimu. Jika kau membuat Wulan menangis, tak akan kubiarkan kau hidup nyaman sepanjang umurmu,” Danendra menunjuk tepat di wajah Kani.

Suasana haru seketika berubah tegang saat ultimatum Danendra layangkan. Namun Wulan segera menangkap tatapan ngeri dari orang-orang yang masih ada di ruang ini. Baru saja Wulan hendak kembali membuka suara, tapi Kani sudah mendahuluinya.

“Tenang saja, Yang Mulia. Aku akan menjaga dan membahagiakannya seumur hidupku. Sampai aku mati,” ucap Kani bersungguh-sungguh.

Tatapan mata tajam Kani menunjukkan betapa ia bertekad untuk membahagiakan Wulan. Ia sudah pernah kehilangan Wulan, dan ia jamin, selama dirinya masih bernapas ia tidak akan pernah mengingkari janjinya.

Sontak para penonton tak diundang di ruangan itu berseru pelan. Mereka yang notabene adalah pekerja di Istana, tentu mengetahui jalan cerita cinta mereka. Itulah yang membuat mereka juga ikut terhanyut pada haru yang Kani datangkan lewat janjinya.

“Kau bersumpah?” Danendra masih kukuh menelisik.

“Aku bersumpah, Yang Mulia.”

Kini giliran Danendra yang memeluk erat Kani. Ia terkekeh pelan sambil berbisik, “Kau terlalu lebay.”

Kani yang baru saja menyadari bahwa ini akal-akalan Sang Putra Mahkotanya saja untuk menggodanya di hadapan banyak orang, dengan refleks Kani menepuk keras punggung kekar Danendra. Wajahnya sudah semerah tomat mengingat akan menjadi bahan gosip di acara pernikahan orang lain.

Bagaimana bisa Danendra meragukan perasaan Kani pada sepupunya. Danendra adalah saksi hidup Kani yang berjuang keras mencari Wulan selama setahun penuh. Menjaga hati dan memelihara rindu secara konsisten bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, Danendra yakin Wulan akan bahagia bersama Kani.

***

Upacara pernikahan penyatuan janji suci Putra Mahkota Kerajaan Cicila Das Caspia, Pangeran Danendra telah usai. Pun dengan penobatan Istri Putra Mahkota yang kini menjadi gelar baru bagi wanita bernama Adinda Hanum. Wanita yang sebenarnya tidak Wulan sangka bisa bersanding dengan Danendra. Bukan tanpa alasan, sebenarnya mereka berdua terkenal rival sejati sejak awal masuk kuliah. Hanum yang saat itu juga merupakan pentolan kampus, tidak pernah lelah berusaha mengalahkan prestasi Danendra di ajang-ajang penghargaan nasional dan internasional. Balapan prestasi, begitulah Wulan menyebutnya.

Tentu ketika keduanya bersatu, ada rasa heran di benak Wulan, tetapi juga tidak begitu terkejut. Bagaimana pun sepasang kekasih harus merupakan orang dengan getaran frekuensi yang sama, bukan? Dan keduanya, jangan ditanya lagi, mereka cocok. Sama-sama pemikir ulung pikir Wulan.

Now, it’s time to celebrate!

Saatnya pesta dimulai. Bukan hanya keluarga kerajaan yang hadir memeriahkan, tapi seluruh rakyat yang tinggal di Ibu Kota Cicila Das Caspia, ikut memeriahkan. Sederhananya ini seperti pesta rakyat. Semua penduduk Cicila Das Caspia ikut merayakan bahkan hingga pelosok. Isi berita nasional baik di televisi, radio, dan koran, sudah tentu memberitakan the royal wedding ini.

Namun bukannya ikut menari dan bernyanyi, atau bermain games dengan doorprize fantastis, Wulan dan Kani justru memilih untuk menarik diri dari kerumunan dan menonton pesta dari lantai dua aula utama Istana. Dari sini mereka bisa melihat banyak kembang api yang diletuskan. Sangat indah! Bahkan di antaranya ada yang membentuk potret sang Putra Mahkota dan istrinya.

“Cantik sekali!” Wulan berseru riang.

“Aku tahu kembang api itu sangat cantik. Tapi bisakah kau memerhatikanku sebentar?” Kani merajuk.

Puluhan menit mereka habiskan dalam diam karena Wulan terlalu terpesona dengan keindahan pemandangan Ibu Kota malam ini. Meski cemberut, Kani tetap memakaikan Wulan mantel yang baru saja diantar oleh asisten Kani. Kani tak mau Wulan berakhir demam karena suhu dingin malam ini.

“Jadi, kau ingin kuperhatikan?” Wulan terkekeh sambil merapikan mantelnya. Melihat ekspresi cemberut Kani adalah hal yang langka. Tak akan Wulan biarkan ini berlalu begitu saja.

Dengan cepat Wulan keluarkan ponsel dari tas jinjingnya, lalu membuka fitur kamera yang detik itu pula ia langsung tangkap gambar Kani yang memajukan bibirnya penuh.

Kani tentu menyadarinya dan segera merebut ponsel Wulan, sayangnya Wulan tidak gampang menyerah dan tetap menggenggam ponselnya erat. Alhasil tangan Wulan yang menggenggam ponsel kini telah digenggam Kani. Tanpa menyiakan barang sedetik pun, Kani menarik Wulan ke arahnya. Wajah Wulan saat ini persis ada di hadapan wajah Kani. Rona merah tiba-tiba muncul di kedua pipi Wulan yang bahkan melebihi merahnya riasan blush on dari makeup artist terkenal di Cicila Das Caspia.

“Katakan,” pinta Kani lemah.

“Apa?” Wulan menautkan alisnya tidak mengerti.

Kani kemudian melepas tangan Wulan dan justru merangkul Wulan, membawanya duduk di kursi kayu yang desainnya terlihat sangat eksentrik di balkon ini.

“Kau tidak pernah menceritakan bagaimana kau kembali setelah hilang setahun penuh,” Kani menatap Wulan lekat.

“Aku hanya tidak ingin kau sedih,” Wulan menunduk lesu.

Jari jemari Wulan saling tertaut. Wulan masih trauma. Tentu pergerakan Wulan tidak pernah lepas dari pengamatan Kani. Segera Kani meraih kedua tangan ramping Wulan.

“Aku tidak memaksamu untuk bercerita sekarang. Take your time. Kita masih punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama.”

Untuk beberapa saat mereka kembali larut bersama keheningan. Hening yang hanya ada di antara mereka karena riuh dan gegap gempita pesta sebenarnya masih terdengar sangat jelas di setiap sudut Ibu Kota. Hingga Wulan membenarkan posisi duduknya dan menghadap penuh ke arah Kani.

“Akan kuceritakan,” putus Wulan yakin. “Dengan satu syarat.”

Kani mengangguk tanpa ragu.

“Kau juga harus jujur padaku.”

Lihat selengkapnya