Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #2

AMPLOP

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH  

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             

                                                                       

ARSIP 000                                                 

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

 ═════════════════

 

───────────────────────────

BAGIAN SATU: AMPLOP

───────────────────────────

 

Amplop itu muncul di bawah pintuku pada suatu Selasa

pagi.

 

Bukan di antar pos. Bukan diselipkan kurir. Bukan

jatuh dari tas yang bolong. Amplop itu hanya… ada.

Seperti jamur yang tumbuh setelah hujan. Atau seperti

peraturan baru yang tiba-tiba berlaku tanpa ada yang

tahu siapa yang menandatanganinya.

 

Aku hampir menginjaknya.

 

Kakiku sudah melangkah satu sentimeter lagi ketika

mataku menangkap sesuatu yang tidak biasa di lantai.

Sebuah sudut amplop, kuning kusam, menyembul dari

bawah pintu seperti lidah kertas yang menjulur.

 

Aku berhenti. Membungkuk. Memungutnya.

 

Warnanya bukan kuning cerah, melainkan kuning yang

sudah menua warna yang biasanya dimiliki dokumen-

dokumen yang terlalu lama disimpan di lemari arsip,

di ruangan yang tidak pernah dibuka, di gedung yang

tidak pernah dikunjungi. Kertasnya kasar di ujung

jari. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat pengirim.

Tidak ada namaku. Hanya ada stempel merah di sudut

kiri atas, agak luntur, tintanya sudah meresap ke

dalam serat kertas seperti darah yang mengering.

 

RAHASIA NEGARA

 

Aku membalik amplop itu. Tidak ada apa-apa. Aku

mengangkatnya ke cahaya matahari yang masuk dari

jendela. Hanya siluet selembar kartu di dalamnya

tipis, kaku, seukuran kartu nama.

 

Aku tidak langsung membukanya.

 

Aku berdiri di depan pintu, amplop di tangan, dan

otakku mulai melakukan hal yang selalu dilakukan

otak ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak

bisa dijelaskan: mencari penjelasan.

 

Mungkin ini surat dari lembaga pemerintah. Mungkin

ini undangan ke acara yang tidak kuingat. Mungkin

ini salah satu dari sekian banyak formulir yang

harus kuisi formulir yang selalu meminta data yang

sudah pernah kuberikan, di tempat yang sudah pernah

kudatangi, untuk keperluan yang tidak pernah kuingat.

 

Tapi stempel itu. "Rahasia Negara." Stempel itu

bukan stempel biasa. Stempel itu adalah stempel

yang biasanya hanya ada di film-film mata-mata, di

adegan ketika seorang agen membuka amplop dan

menemukan bahwa hidupnya akan berubah selamanya.

 

Aku bukan agen. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah

seorang warga biasa yang tinggal di kota biasa,

bekerja di pekerjaan biasa, dan menjalani hidup

yang sejujurnya terlalu membosankan untuk

dirahasiakan.

 

Kubuka amplop itu.

 

Isinya memang hanya selembar kartu. Seukuran kartu

nama. Di sisi depan, huruf tebal hitam, dicetak

dengan tinta yang sedikit menggumpal tinta yang

mungkin sudah terlalu lama berada di mesin cetak:

 

BUKAN BIN

 

Aku bergumam pelan, "BIN? Badan Intelijen Negeri?"

 

Kubalik kartu itu.

 

Di sisi belakang, hanya tiga huruf. Lebih kecil.

Lebih rapi. Tapi dengan jenis tinta yang sama:

 

DIM

 

Aku menatap tiga huruf itu lama sekali. D-I-M. Tiga

huruf yang tidak membentuk kata apa pun dalam

bahasaku. Tiga huruf yang tidak pernah kudengar,

tidak pernah kubaca, tidak pernah kulihat di koran,

di televisi, di internet. Tiga huruf yang seharusnya

tidak berarti apa-apa tapi entah kenapa membuat

dadaku sedikit berdebar.

 

Di bawah tiga huruf itu, satu kalimat kecil, nyaris

seperti bisikan yang ditulis:

 

Selamat datang di Negeri Topeng Monyet.

 

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

 

Negeri Topeng Monyet.

 

Nama negeri yang tidak pernah ada di peta mana pun.

Nama negeri yang terdengar seperti ejekan seperti

julukan yang diberikan anak-anak pada tempat yang

Lihat selengkapnya