═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
ARSIP 000
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BAGIAN DUA: LORONG
─────────────────
Pasar Tua pada pukul sembilan pagi adalah tempat yang
ramai dengan cara yang salah.
Bukan ramai seperti pasar modern di mana orang berlalu-
lalang dengan keranjang belanja dan ponsel di tangan.
Ramai di sini adalah ramai yang stagnan. Pedagang duduk
di belakang meja-meja kayu yang sudah lapuk, menunggu
pembeli yang jarang datang. Barang-barang mereka
pakaian bekas, jam tangan palsu, komponen elektronik
yang sudah tidak diproduksi sejak dua dekade lalu
tertata rapi dalam keputusasaan yang diam. Kucing-
kucing kurus berkeliaran di antara tumpukan kardus,
mencari sisa makanan yang mungkin tidak pernah ada.
Aku berjalan melewati deretan kios tanpa benar-benar
melihatnya. Kakiku bergerak secara otomatis, mengikuti
petunjuk yang sudah kuhafal: Lorong Belakang Pasar
Tua. Tapi lorong belakang yang mana? Pasar ini punya
puluhan lorong masing-masing lebih sempit dan lebih
gelap dari yang sebelumnya.
Aku berhenti di depan sebuah kios yang menjual radio-
radio tua. Pemiliknya seorang lelaki dengan rambut
yang sudah lebih banyak putihnya daripada hitamnya
sedang membetulkan sebuah transistor dengan obeng kecil.
Di hadapannya, tumpukan radio dari berbagai era:
beberapa dengan antena panjang, beberapa dengan tombol
putar, beberapa dengan layar digital yang sudah mati.
"Permisi, Pak," kataku.
Ia tidak mengangkat kepala. "Radio apa? Bisa diperbaiki.
Asal bukan yang digital. Yang digital susah. Kalau
rusak, lebih baik dibuang."
"Aku bukan mau memperbaiki radio."
Ia mengangkat kepala. Matanya menyipit entah karena
curiga atau karena asap rokok yang mengepul dari asbak
di sampingnya.
"Aku mencari lorong belakang."
"Lorong belakang?" Ia mengulangi kata-kataku seperti
seseorang yang baru pertama kali mendengar istilah itu.
"Lorong belakang yang mana? Di sini banyak lorong
belakang."
"Aku tidak tahu persis. Tapi mungkin lorong yang jarang
dilewati orang."
Ia menatapku lama sekali. Lalu pelan, sangat pelan ia
menunjuk ke arah kiri, ke sebuah celah di antara dua
bangunan yang hampir tidak terlihat.
"Itu," katanya. "Tapi kau yakin?"
"Yakin kenapa?"
"Tidak ada yang lewat situ. Kecuali orang-orang yang…"
Ia berhenti. Menggeleng. "Sudahlah. Terserah kau."
Aku berterima kasih dan berjalan ke arah yang ia tunjuk.
Di belakangku, aku mendengar suaranya bergumam kepada
siapa, aku tidak tahu:
"Selalu begitu. Selalu ada yang datang. Selalu ada
yang mencari. Tapi tidak pernah ada yang kembali
dengan cara yang sama."
Lorong itu tidak memiliki nama.
Setidaknya, tidak ada papan yang menyebutkan namanya.
Tidak ada petunjuk. Tidak ada tanda. Hanya sebuah celah
sempit di antara dua bangunan tua yang dindingnya sudah
berlumut lumut hijau tua yang tumbuh di sela-sela bata,
seperti kulit reptil yang sudah mati.
Aku melangkah masuk.
Dan dunia di belakangku langsung menghilang.
Bukan menghilang secara harfiah aku masih bisa mendengar
suara Pasar Tua, masih bisa mendengar teriakan pedagang
dan tawar-menawar pembeli. Tapi suara-suara itu terdengar
jauh, seperti datang dari balik dinding kaca yang sangat
tebal. Seperti aku sudah berada di tempat lain, dan
Pasar Tua hanyalah kenangan yang mulai memudar.
Lorong itu sempit. Sangat sempit. Bahuku hampir menyentuh
kedua dinding sekaligus. Di atasku, langit hanya berupa
sepotong garis biru yang mengintip dari celah di antara
atap-atap seng. Di bawahku, lantai batu yang sudah tidak
rata berlubang di beberapa tempat, tergenang air di
tempat lain, air yang warnanya tidak bisa kuidentifikasi
dan mungkin lebih baik tidak kuidentifikasi.
Bau di sini berbeda. Bukan bau pasar bukan bau ikan
asin dan rempah-rempah dan keringat manusia. Bau di
sini adalah bau lembap, bau tanah yang tidak pernah
kena matahari, bau kertas tua yang mulai membusuk.
Dicampur dengan sesuatu yang manis sangat manis seperti
buah yang sudah terlalu matang dan mulai berfermentasi.
Aku terus berjalan.
Lorong ini lebih panjang dari yang kuduga. Atau mungkin
tidak mungkin hanya persepsiku yang berubah. Di tempat
seperti ini, di mana tidak ada jendela, tidak ada pintu,
tidak ada tanda-tanda kehidupan, waktu terasa meregang.
Satu menit terasa seperti lima menit. Sepuluh langkah
terasa seperti seratus langkah.
Di beberapa titik, aku melihat pintu-pintu kecil di
sepanjang dinding lorong. Tapi pintu-pintu itu semuanya
tertutup. Beberapa digembok. Beberapa dipaku. Beberapa
hanya ditutup dengan kayu lapuk yang kalau kusentuh