Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #3

LORONG

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET         

─────────────────           

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI                                                                                    


ARSIP 000                                                 

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

 

─────────────────

BAGIAN DUA: LORONG

─────────────────

 

Pasar Tua pada pukul sembilan pagi adalah tempat yang

ramai dengan cara yang salah.

 

Bukan ramai seperti pasar modern di mana orang berlalu-

lalang dengan keranjang belanja dan ponsel di tangan.

Ramai di sini adalah ramai yang stagnan. Pedagang duduk

di belakang meja-meja kayu yang sudah lapuk, menunggu

pembeli yang jarang datang. Barang-barang mereka

pakaian bekas, jam tangan palsu, komponen elektronik

yang sudah tidak diproduksi sejak dua dekade lalu

tertata rapi dalam keputusasaan yang diam. Kucing-

kucing kurus berkeliaran di antara tumpukan kardus,

mencari sisa makanan yang mungkin tidak pernah ada.

 

Aku berjalan melewati deretan kios tanpa benar-benar

melihatnya. Kakiku bergerak secara otomatis, mengikuti

petunjuk yang sudah kuhafal: Lorong Belakang Pasar

Tua. Tapi lorong belakang yang mana? Pasar ini punya

puluhan lorong masing-masing lebih sempit dan lebih

gelap dari yang sebelumnya.

 

Aku berhenti di depan sebuah kios yang menjual radio-

radio tua. Pemiliknya seorang lelaki dengan rambut

yang sudah lebih banyak putihnya daripada hitamnya

sedang membetulkan sebuah transistor dengan obeng kecil.

Di hadapannya, tumpukan radio dari berbagai era:

beberapa dengan antena panjang, beberapa dengan tombol

putar, beberapa dengan layar digital yang sudah mati.

 

"Permisi, Pak," kataku.

 

Ia tidak mengangkat kepala. "Radio apa? Bisa diperbaiki.

Asal bukan yang digital. Yang digital susah. Kalau

rusak, lebih baik dibuang."

 

"Aku bukan mau memperbaiki radio."

 

Ia mengangkat kepala. Matanya menyipit entah karena

curiga atau karena asap rokok yang mengepul dari asbak

di sampingnya.

 

"Aku mencari lorong belakang."

 

"Lorong belakang?" Ia mengulangi kata-kataku seperti

seseorang yang baru pertama kali mendengar istilah itu.

"Lorong belakang yang mana? Di sini banyak lorong

belakang."

 

"Aku tidak tahu persis. Tapi mungkin lorong yang jarang

dilewati orang."

 

Ia menatapku lama sekali. Lalu pelan, sangat pelan ia

menunjuk ke arah kiri, ke sebuah celah di antara dua

bangunan yang hampir tidak terlihat.

 

"Itu," katanya. "Tapi kau yakin?"

 

"Yakin kenapa?"

 

"Tidak ada yang lewat situ. Kecuali orang-orang yang…"

Ia berhenti. Menggeleng. "Sudahlah. Terserah kau."

 

Aku berterima kasih dan berjalan ke arah yang ia tunjuk.

Di belakangku, aku mendengar suaranya bergumam kepada

siapa, aku tidak tahu:

 

"Selalu begitu. Selalu ada yang datang. Selalu ada

yang mencari. Tapi tidak pernah ada yang kembali

dengan cara yang sama."

 

 

Lorong itu tidak memiliki nama.

 

Setidaknya, tidak ada papan yang menyebutkan namanya.

Tidak ada petunjuk. Tidak ada tanda. Hanya sebuah celah

sempit di antara dua bangunan tua yang dindingnya sudah

berlumut lumut hijau tua yang tumbuh di sela-sela bata,

seperti kulit reptil yang sudah mati.

 

Aku melangkah masuk.

 

Dan dunia di belakangku langsung menghilang.

 

Bukan menghilang secara harfiah aku masih bisa mendengar

suara Pasar Tua, masih bisa mendengar teriakan pedagang

dan tawar-menawar pembeli. Tapi suara-suara itu terdengar

jauh, seperti datang dari balik dinding kaca yang sangat

tebal. Seperti aku sudah berada di tempat lain, dan

Pasar Tua hanyalah kenangan yang mulai memudar.

 

Lorong itu sempit. Sangat sempit. Bahuku hampir menyentuh

kedua dinding sekaligus. Di atasku, langit hanya berupa

sepotong garis biru yang mengintip dari celah di antara

atap-atap seng. Di bawahku, lantai batu yang sudah tidak

rata berlubang di beberapa tempat, tergenang air di

tempat lain, air yang warnanya tidak bisa kuidentifikasi

dan mungkin lebih baik tidak kuidentifikasi.

 

Bau di sini berbeda. Bukan bau pasar bukan bau ikan

asin dan rempah-rempah dan keringat manusia. Bau di

sini adalah bau lembap, bau tanah yang tidak pernah

kena matahari, bau kertas tua yang mulai membusuk.

Dicampur dengan sesuatu yang manis sangat manis seperti

buah yang sudah terlalu matang dan mulai berfermentasi.

 

Aku terus berjalan.

 

Lorong ini lebih panjang dari yang kuduga. Atau mungkin

tidak mungkin hanya persepsiku yang berubah. Di tempat

seperti ini, di mana tidak ada jendela, tidak ada pintu,

tidak ada tanda-tanda kehidupan, waktu terasa meregang.

Satu menit terasa seperti lima menit. Sepuluh langkah

terasa seperti seratus langkah.

 

Di beberapa titik, aku melihat pintu-pintu kecil di

sepanjang dinding lorong. Tapi pintu-pintu itu semuanya

tertutup. Beberapa digembok. Beberapa dipaku. Beberapa

hanya ditutup dengan kayu lapuk yang kalau kusentuh

Lihat selengkapnya