═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
ARSIP 000
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BAGIAN TIGA TUR
─────────────────
Petugas Arsip berjalan beberapa langkah di depanku.
Langkahnya tidak cepat, tidak lambat langkah seseorang
yang tidak pernah terburu-buru karena tahu bahwa apa
yang dituju tidak akan ke mana-mana.
Aku mengikutinya melewati lorong di antara rak-rak
yang menjulang. Udara di sini berbeda. Bukan hanya
lembap tapi berat. Seperti ada sesuatu dalam udara
ini yang tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan.
Mungkin debu. Mungkin usia. Mungkin akumulasi dari
jutaan kata yang tertulis di jutaan lembar kertas yang
tersimpan di puluhan ribu folder selama ratusan tahun.
"Kau pasti punya banyak pertanyaan," kata Petugas
Arsip tanpa menoleh.
"Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
"Itu kondisi yang ideal. Orang yang tahu harus mulai
dari mana biasanya sudah punya jawaban sebelum
bertanya. Dan jawaban yang mereka punya biasanya
salah."
Ia berhenti di depan sebuah rak. Rak ini tidak berbeda
dari rak-rak lainnya logam abu-abu, empat tingkat,
label bernomor. Tapi ada sesuatu dalam cara ia berhenti
yang membuatku merasa rak ini penting.
"Ini," katanya, menarik sebuah map dari rak.
"DIM #003."
Ia menyerahkan map itu padaku. Sampulnya cokelat
cokelat yang sudah berubah menjadi keabuan di bagian
pinggirnya, dimakan usia. Di sudut kanan atas, stempel
merah:
STATUS: BELUM SELESAI
"Buka," katanya.
Aku membukanya.
Halaman pertama adalah lembar judul. Di tengahnya,
diketik dengan mesin tik tua huruf yang tidak rata,
beberapa terlalu tebal, beberapa terlalu tipis:
"Formulir Kematian yang Lebih Rumit dari Formulir
Kelahiran"
Di bawahnya, tanggal pembukaan: Era Restorasi Tahun
Ke-3.
"Era Restorasi Tahun Ke-3?"
"Sekitar delapan puluh tujuh tahun yang lalu," kata
Petugas Arsip. "Dalam penanggalan kalender biasa."
Aku membalik halaman. Laporan investigasi. Tabel data.
Surat-menyurat antarlembaga. Di satu halaman, sebuah
diagram alir yang mencoba memetakan prosedur pengurusan
surat kematian garis-garis yang bercabang, bersilangan,
melingkar kembali ke titik awal, seperti peta labirin
yang dirancang oleh seseorang yang tidak ingin siapa
pun menemukan jalan keluar.
Di halaman lain, sebuah surat dari seorang warga
tulisan tangan, tinta biru, huruf yang gemetar:
"Yang Terhormat,
Istri saya meninggal tiga bulan yang lalu. Saya sudah
mengurus surat kematiannya enam kali. Setiap kali,
selalu ada yang kurang. Pertama, fotokopi Kartu
Keberadaan tapi katanya fotokopinya harus dilegalisir.
Kedua, surat nikah tapi katanya surat nikah yang lama
tidak berlaku, harus yang versi baru. Ketiga, surat
pengantar dari Ketua Lorong tapi Ketua Lorong sedang
pergi dan tidak tahu kapan kembali.
Saya hanya ingin menguburkan istri saya dengan layak.
Apakah kematiannya tidak cukup sebagai bukti?"
Aku berhenti membaca. Ada sesuatu yang mengganjal di
tenggorokanku sesuatu yang tidak bisa kutelan.
"Apakah surat ini dijawab?" tanyaku.
"Tentu," kata Petugas Arsip. "Kami menjawab semua
surat."
"Apa jawabannya?"
"Bahwa surat itu sudah dicatat. Dan akan
ditindaklanjuti."
"Dan?"
Ia mengambil map itu dari tanganku, membalik ke halaman
terakhir. Sebuah stempel besar stempel yang sama yang
kulihat di mana-mana di ruangan ini:
MENUNGGU TINDAK LANJUT
Di bawahnya, tanggal. Delapan puluh tujuh tahun yang
lalu.
"Aku tidak mengerti," kataku. "Delapan puluh tujuh
tahun. Bagaimana bisa sebuah masalah tidak selesai
selama delapan puluh tujuh tahun?"
Petugas Arsip meletakkan map itu kembali ke rak.
Gerakannya lembut, hampir penuh kasih sayang seperti
seseorang yang mengembalikan buku kesayangan ke
tempatnya.
"Kau berpikir dalam kerangka waktu manusia," katanya.
"Satu tahun. Lima tahun. Sepuluh tahun. Itu cara
berpikir yang salah."
"Lalu cara berpikir yang benar?"
Ia menatapku. "Masalah tidak mengenal waktu. Masalah
hanya mengenal satu hal: apakah ada yang
menyelesaikannya atau tidak. Kalau tidak ada, ia akan
tetap di sini. Selamanya. Menunggu."
"Seperti hantu."
Ia tersenyum tipis senyum yang muncul dan hilang begitu
cepat, seperti kedipan lampu neon di atas kami. "Ya.
Seperti hantu. Hantu tidak mati karena tidak ada yang
membunuhnya. Masalah tidak selesai karena tidak ada
yang menyelesaikannya. Prinsipnya sama."
Kami berjalan lagi. Kali ini menuju ruangan yang
berbeda lebih kecil, lebih terang, dengan etalase-
etalase kaca yang berjajar rapi di sepanjang dinding.
Cahaya di sini lebih hangat bukan dari lampu neon yang
berkedip, tapi dari lampu sorot kecil yang dipasang di
atas setiap etalase.
"Ini Museum DIM," kata Petugas Arsip.
Aku melihat sekeliling. Etalase-etalase itu berisi
map-map yang dibingkai, formulir-formulir yang dipajang
di balik kaca, dan papan-papan keterangan kecil yang
ditulis dengan huruf yang rapi. Seperti museum
sungguhan hanya saja artefaknya adalah dokumen.
"Ini semua… masalah?" tanyaku.
"Koleksi terbaik kami. Masalah-masalah yang paling
representatif."
Ia membawaku ke etalase pertama. Di dalamnya, sebuah
map cokelat yang sangat tua warnanya sudah berubah
menjadi hampir hitam, kertasnya rapuh di bagian
pinggirnya. Labelnya:
DIM #001 "Nama Diganti, Jiwa Tetap"
"Ini masalah tertua yang masih tercatat," kata Petugas
Arsip. "Dibuka pada era Maskey I. Awal Era Restorasi."
"Maskey I?"
"Baginda pertama Dinasti Citory. Setelah penjajah
fisik pergi, ia mengganti semua nama dokumen kolonial.
Iron Ledger Pass menjadi Kartu Keberadaan. Lorong
Warden menjadi Ketua Lorong. Rijvergunning menjadi
Surat Izin Berkendara."
"Itu bagus, kan? Mengganti nama-nama kolonial?"
"Tentu. Tapi dia hanya mengganti namanya. Bukan isinya.
Prosedurnya tetap sama. Mentalitasnya tetap sama.
Orang-orang yang menjalankannya tetap sama. Jadi
sekarang kami punya dokumen dengan nama baru yang
berfungsi persis seperti dokumen lama. Lima ratus tahun
kemudian, kami masih mengganti nama tanpa mengganti
apa pun."
Aku menatap map tua itu. Lima ratus tahun. Lima abad.
Dan masalahnya masih sama: nama diganti, jiwa tetap.
Kami berjalan ke etalase berikutnya. Yang ini lebih
baru mapnya masih cokelat segar, kertasnya masih putih,
seolah-olah baru saja dicetak.
DIM #999 "Kesalahan Ketik pada Surat Keputusan"
"Ini masalah tercepat yang pernah selesai," kata
Petugas Arsip.
"Berapa lama?"
"Satu hari."
Aku mengernyit. "Kenapa bisa secepat itu?"
"Karena yang salah ketik adalah nama Menteri. Bukan
nama rakyat biasa. Bukan nama jalan. Bukan nama desa.
Nama Menteri. Jadi keesokan harinya, semua orang sudah
datang untuk memperbaikinya. Bahkan sebelum kopi pagi
habis."
Aku hampir tertawa. Tapi tawa itu tidak jadi keluar.
Karena aku sadar bahwa apa yang baru saja kudengar
bukan lelucon. Itu fakta. Fakta yang didokumentasikan
dengan rapi, disimpan dalam etalase kaca, diberi papan
keterangan seperti fosil dinosaurus di museum sejarah
alam.
"Kenapa kau tidak tertawa?" tanya Petugas Arsip.
"Aku tidak yakin ini lucu."
"Itu lucu. Hanya saja lucu dengan cara yang menyakitkan.
Seperti kebanyakan hal di negeri ini."
Kami melanjutkan tur. Melewati etalase-etalase lain:
DIM #042 "Korupsi yang Terlalu Terang untuk
Disembunyikan, Tapi Tetap Tidak Ada yang Menyentuh."
DIM #088 "Proyek yang Diresmikan Tiga Kali Tapi
Tidak Pernah Selesai." DIM #105 "Jalan Bolong yang
Sudah Diperbaiki Sejak Sebelum Aku Lahir, Tapi Masih
Bolong Sampai Sekarang."
Lalu aku berhenti di depan satu etalase.
Etalase ini berbeda. Tidak ada map di dalamnya. Tidak
ada formulir. Tidak ada papan keterangan yang panjang.
Hanya sebuah papan kecil dengan tulisan singkat:
Masalah yang sebenarnya selesai.
Tahun 1987.