═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
ARSIP 000
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BAGIAN EMPAT PERTANYAAN
─────────────────
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Petugas Arsip sudah menghilang di balik pintu itu
pintu kecil di ujung ruangan yang belum kulihat
sebelumnya, pintu yang ditutupnya pelan tanpa suara.
Dan aku, di antara rak-rak yang menjulang, di bawah
lampu neon yang berkedip dengan ritme yang tidak pernah
bisa kuprediksi, merasa seperti satu-satunya manusia
yang tersisa di dunia ini.
Ruangan itu sunyi. Tapi bukan sunyi yang menenangkan.
Sunyi di sini adalah sunyi yang penuh penuh dengan
suara-suara yang tidak bisa didengar oleh telinga,
hanya bisa dirasakan oleh sesuatu di dalam diri yang
tidak memiliki nama. Desiran udara dari ventilasi yang
mungkin sudah tidak dibersihkan sejak era Azure
Mandate. Bunyi kertas yang mengembang dan menyusut
karena perubahan suhu yang sangat kecil. Dan di
kejauhan, di balik dinding, suara mesin stempel:
cap… cap… cap… seperti detak jantung yang menolak
mati.
Aku berjalan perlahan menyusuri lorong di antara rak-
rak. Jariku hampir menyentuh punggung folder-folder
itu tapi aku ingat peringatan Petugas Arsip. Beberapa
DIM mudah meledak. Entah itu harfiah atau metaforis,
aku tidak ingin mengambil risiko. Jadi aku hanya
berjalan. Membaca label-label yang terlewat: DIM #012.
DIM #047. DIM #089. DIM #134. Angka-angka yang terus
bertambah, seperti tahun-tahun yang terus berlalu
tanpa ada yang berubah.
Aku berhenti di depan rak DIM #003. Folder yang pertama
kali ditunjukkan Petugas Arsip padaku. Formulir
Kematian yang Lebih Rumit dari Formulir Kelahiran.
Delapan puluh tujuh tahun. Status: BELUM SELESAI. Aku
memandangi folder itu, dan entah kenapa, aku tidak
bisa berhenti memikirkan surat di dalamnya surat dari
seorang lelaki tua yang istrinya meninggal dan harus
membuktikannya enam kali.
Apakah kematiannya tidak cukup sebagai bukti?
Kalimat itu bergema di kepalaku. Bukan hanya sebagai
pertanyaan retoris, tapi sebagai sesuatu yang lebih
besar. Sesuatu yang mencakup lebih dari sekadar
formulir kematian. Sesuatu yang mencakup segala hal
di negeri ini. Setiap kali seseorang harus membuktikan
sesuatu yang sudah jelas. Setiap kali seseorang harus
mengisi formulir untuk mendapatkan apa yang sudah
menjadi haknya. Setiap kali seseorang harus kembali
minggu depan, bulan depan, tahun depan bukan karena
masalahnya rumit, tapi karena sistemnya dirancang
untuk menunda.
Aku melanjutkan berjalan. Melewati rak-rak yang semakin
tinggi, semakin rapat, semakin penuh. Dan di setiap
label yang kubaca, pertanyaan yang sama muncul di
kepalaku:
DIM #001 Nama Diganti, Jiwa Tetap.
Siapa yang menyelesaikan?
DIM #008 Bonus Panen dan Laporan 100%.
Siapa yang menyelesaikan?
DIM #042 Korupsi yang Terlalu Terang untuk
Disembunyikan. Siapa yang menyelesaikan?
DIM #088 Proyek yang Diresmikan Tiga Kali Tapi
Tidak Pernah Selesai. Siapa yang menyelesaikan?
DIM #105 Jalan Bolong yang Sudah Diperbaiki Sejak
Sebelum Aku Lahir. Siapa yang menyelesaikan?
Pertanyaan yang sama. Berulang-ulang. Seperti stempel
yang mengecap kertas tanpa henti. Seperti mesin
antrean yang terus memanggil nomor berikutnya tanpa
pernah mengurangi jumlah orang yang menunggu.
Aku berhenti di depan etalase kosong bukan yang asli
di Museum, tapi bayangannya yang terbawa dalam
ingatanku. Masalah yang sebenarnya selesai. Tahun 1987.
Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Satu etalase
kosong di antara ribuan folder yang penuh. Satu masalah
yang benar-benar selesai dan tidak ada yang ingat apa
masalahnya. Karena masalah yang benar-benar selesai
tidak membutuhkan catatan. Ia selesai, lalu menghilang.
Seperti seharusnya.