Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #5

PERTANYAAN

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET                

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             


ARSIP 000                                                 

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

 

─────────────────

BAGIAN EMPAT   PERTANYAAN

─────────────────

 

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

 

Petugas Arsip sudah menghilang di balik pintu itu

pintu kecil di ujung ruangan yang belum kulihat

sebelumnya, pintu yang ditutupnya pelan tanpa suara.

Dan aku, di antara rak-rak yang menjulang, di bawah

lampu neon yang berkedip dengan ritme yang tidak pernah

bisa kuprediksi, merasa seperti satu-satunya manusia

yang tersisa di dunia ini.

 

Ruangan itu sunyi. Tapi bukan sunyi yang menenangkan.

Sunyi di sini adalah sunyi yang penuh penuh dengan

suara-suara yang tidak bisa didengar oleh telinga,

hanya bisa dirasakan oleh sesuatu di dalam diri yang

tidak memiliki nama. Desiran udara dari ventilasi yang

mungkin sudah tidak dibersihkan sejak era Azure

Mandate. Bunyi kertas yang mengembang dan menyusut

karena perubahan suhu yang sangat kecil. Dan di

kejauhan, di balik dinding, suara mesin stempel:

cap… cap… cap… seperti detak jantung yang menolak

mati.

 

Aku berjalan perlahan menyusuri lorong di antara rak-

rak. Jariku hampir menyentuh punggung folder-folder

itu tapi aku ingat peringatan Petugas Arsip. Beberapa

DIM mudah meledak. Entah itu harfiah atau metaforis,

aku tidak ingin mengambil risiko. Jadi aku hanya

berjalan. Membaca label-label yang terlewat: DIM #012.

DIM #047. DIM #089. DIM #134. Angka-angka yang terus

bertambah, seperti tahun-tahun yang terus berlalu

tanpa ada yang berubah.

 

Aku berhenti di depan rak DIM #003. Folder yang pertama

kali ditunjukkan Petugas Arsip padaku. Formulir

Kematian yang Lebih Rumit dari Formulir Kelahiran.

Delapan puluh tujuh tahun. Status: BELUM SELESAI. Aku

memandangi folder itu, dan entah kenapa, aku tidak

bisa berhenti memikirkan surat di dalamnya surat dari

seorang lelaki tua yang istrinya meninggal dan harus

membuktikannya enam kali.

 

Apakah kematiannya tidak cukup sebagai bukti?

 

Kalimat itu bergema di kepalaku. Bukan hanya sebagai

pertanyaan retoris, tapi sebagai sesuatu yang lebih

besar. Sesuatu yang mencakup lebih dari sekadar

formulir kematian. Sesuatu yang mencakup segala hal

di negeri ini. Setiap kali seseorang harus membuktikan

sesuatu yang sudah jelas. Setiap kali seseorang harus

mengisi formulir untuk mendapatkan apa yang sudah

menjadi haknya. Setiap kali seseorang harus kembali

minggu depan, bulan depan, tahun depan bukan karena

masalahnya rumit, tapi karena sistemnya dirancang

untuk menunda.

 

Aku melanjutkan berjalan. Melewati rak-rak yang semakin

tinggi, semakin rapat, semakin penuh. Dan di setiap

label yang kubaca, pertanyaan yang sama muncul di

kepalaku:

 

DIM #001   Nama Diganti, Jiwa Tetap.

Siapa yang menyelesaikan?

 

DIM #008   Bonus Panen dan Laporan 100%.

Siapa yang menyelesaikan?

 

DIM #042   Korupsi yang Terlalu Terang untuk

Disembunyikan. Siapa yang menyelesaikan?

 

DIM #088   Proyek yang Diresmikan Tiga Kali Tapi

Tidak Pernah Selesai. Siapa yang menyelesaikan?

 

DIM #105   Jalan Bolong yang Sudah Diperbaiki Sejak

Sebelum Aku Lahir. Siapa yang menyelesaikan?

 

Pertanyaan yang sama. Berulang-ulang. Seperti stempel

yang mengecap kertas tanpa henti. Seperti mesin

antrean yang terus memanggil nomor berikutnya tanpa

pernah mengurangi jumlah orang yang menunggu.

 

Aku berhenti di depan etalase kosong bukan yang asli

di Museum, tapi bayangannya yang terbawa dalam

ingatanku. Masalah yang sebenarnya selesai. Tahun 1987.

Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Satu etalase

kosong di antara ribuan folder yang penuh. Satu masalah

yang benar-benar selesai dan tidak ada yang ingat apa

masalahnya. Karena masalah yang benar-benar selesai

tidak membutuhkan catatan. Ia selesai, lalu menghilang.

Seperti seharusnya.

 

Lihat selengkapnya