═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
ARSIP 000
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BAGIAN LIMA — DIM 000
─────────────────
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Di antara rak-rak yang menjulang, di bawah lampu neon
yang berkedip dengan ritme yang tidak pernah bisa
kuprediksi, waktu terasa seperti sesuatu yang tidak
lagi berlaku. Mungkin aku berdiri selama lima menit.
Mungkin setengah jam. Mungkin lebih lama. Di tempat
ini, di mana masalah-masalah berusia ratusan tahun
disimpan dalam folder yang tidak pernah dibuka, satu
jam mungkin hanyalah satu kedipan mata.
Aku memandangi rak-rak itu. DIM #001. DIM #003.
DIM #008. DIM #042. Ribuan nomor. Ribuan masalah.
Masing-masing dicatat dengan teliti, diberi label,
distempel, diarsipkan. Masing-masing menunggu entah
menunggu apa. Mungkin menunggu seseorang yang cukup
peduli untuk menyelesaikannya. Mungkin menunggu
seseorang yang cukup berani untuk bertanya: Kenapa?
Atau mungkin hanya menunggu waktu-waktu yang tidak
pernah datang, waktu yang selalu tertunda, waktu yang
selalu ada di formulir berikutnya, di stempel
berikutnya, di "Silakan kembali minggu depan"
berikutnya.
Pintu di ujung ruangan terbuka.
Petugas Arsip muncul kembali. Langkahnya masih sama
pelan, mantap, seperti seseorang yang sudah menghafal
setiap sudut ruangan ini. Di tangannya, sebuah map.
Berbeda dari map-map lain yang pernah kulihat hari ini.
Map-map di rak berwarna cokelat-cokelat tua yang sudah
berubah menjadi keabuan di bagian pinggirnya, dimakan
usia. Map ini juga cokelat, tapi lebih baru. Lebih
bersih. Seolah-olah baru saja dibuat. Seolah-olah baru
saja dicetak. Seolah-olah seseorang atau sesuatu
sudah menyiapkannya jauh sebelum aku datang.
Ia berhenti di hadapanku. Menyerahkan map itu.
"Simpan," katanya. "Ini milikmu."
Aku mengambil map itu. Lebih berat dari yang kuduga.
Atau mungkin tidak mungkin hanya tanganku yang lelah,
atau pikiranku yang sudah terlalu penuh, atau
perasaanku yang sudah terlalu banyak menerima hari ini.
Di sampulnya, sebuah label. Huruf tebal, hitam,
dicetak dengan tinta yang sama dengan kartu yang
kuterima di amplop pagi ini:
DIM 000
Di bawahnya, satu baris tambahan:
Pemilik: ___________________
[Namaku tertulis di sini.]
Aku menatap namaku sendiri di label itu. Bukan nama
yang kuketik sendiri. Bukan nama yang kuisi di
formulir. Tapi namaku tetap ada di sana tercetak rapi,
seolah-olah seseorang sudah mengetiknya jauh sebelum
aku lahir, seolah-olah map ini sudah menungguku sejak
hari pertama aku menghirup udara.
"Apa ini?" tanyaku.
"Buka."
Aku membukanya dengan tangan yang tiba-tiba terasa
dingin. Bukan dingin karena suhu ruangan ini tidak
dingin. Tapi dingin yang datang dari dalam, dari
tulang, dari tempat di mana firasat tinggal.
Di dalamnya, formulir. Banyak formulir.
Formulir pertama: Surat Keterangan Terdaftar sebagai
Pemilik Masalah. Ada stempel di sudutnya. Ada nomor
registrasi. Ada tanggal-tanggal hari ini, seolah-olah
seseorang baru saja menempelkannya lima menit yang lalu.
Formulir kedua: Surat Pernyataan Kesediaan untuk
Dicatat. Belum kutandatangani. Tapi di bagian bawah,
di tempat di mana tanda tangan seharusnya berada, sudah
ada tanda tangan orang lain tanda tangan yang tidak
kukenal, dengan nama jabatan: Petugas Pencatat DIM.
Formulir ketiga: Surat Pengantar dari Ketua Lorong.
Ini yang paling aneh. Aku tidak pernah bertemu Ketua
Lorongku. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Tapi di
formulir ini, ada namanya nama yang tidak pernah
kudengar dan stempelnya. Dan sebuah tanda tangan yang
mungkin asli, mungkin palsu, mungkin tidak pernah
ditulis oleh tangan manusia mana pun.
Formulir keempat. Formulir kelima. Formulir keenam.
Semakin banyak halaman, semakin banyak stempel, semakin
banyak tanda tangan yang tidak kukenal. Seperti rantai
yang terus bertambah panjang rantai yang tidak
terlihat, yang menghubungkanku ke orang-orang yang
tidak pernah kutemui, ke keputusan-keputusan yang
tidak pernah kuambil, ke masalah-masalah yang tidak
pernah kusadari bahwa aku memilikinya.
Di halaman terakhir, sebuah catatan kecil. Tulisan
tangan. Tinta hitam. Huruf yang rapi, hampir terlalu
rapi seperti tulisan seseorang yang sudah terlalu lama
menulis dan sudah melupakan bagaimana caranya menulis
dengan buruk:
Selamat. Anda sekarang menjadi bagian dari masalah.
DIM Anda akan dicatat dalam waktu 3–5 hari kerja.
Penyelesaian: menunggu antrean.
Estimasi: tidak diketahui.
Nomor Antrean Anda: A-XXX
Silakan menunggu di Ruang Tunggu.
Petugas akan memanggil nama Anda.
Kapan?
Itu pertanyaan yang bagus.
Kami sudah mencatatnya sebagai DIM baru.
Aku menutup map itu. Dadaku terasa penuh-penuh dengan
sesuatu yang tidak bisa kuberi nama. Bukan kemarahan.
Bukan kesedihan. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih
kompleks, sesuatu yang mungkin merupakan campuran dari
ketiganya, ditambah dengan kesadaran yang perlahan
merayap naik seperti air yang mendidih.
"Aku bahkan tidak mengajukan apa-apa," kataku.
Petugas Arsip menatapku. Wajahnya masih setenang air
di selokan. Tapi di balik kacamata tebalnya, matanya
mata ikan yang melihat dunia melalui akuarium
berkilat dengan sesuatu yang mungkin adalah simpati.
Atau mungkin hanya pantulan lampu neon.
"Di negeri ini," katanya, "semua orang punya DIM."
"Aku tidak—"