Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #11

Kematian yang Harus Dibuktikan

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             


DONGENG ISTANA, ARSIP 001         

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

 

─────────────────

DONGENG ISTANA NEGERI TOPENG MONYET

Arsip 001:

Kematian yang Harus Dibuktikan

Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM

─────────────────

 

Selamat malam, wahai kalian yang masih terjaga. Atau

selamat pagi, siang, sore terserah kapan kalian

mendengarkan ini. Di negeri ini, waktu tidak terlalu

berarti. Yang berarti hanyalah stempel.

 

Nama saya Nawapes. Sebagian dari kalian mungkin sudah

pernah mendengar tentang saya. "Filsuf penggoda di

Istana." "Si Tua yang menyebalkan." "Orang yang selalu

muncul ketika tidak diundang." Semua benar. Saya sudah

di sini sangat lama begitu lamanya sampai saya lupa

kapan saya pertama kali tiba. Tapi ada satu hal yang

tidak pernah saya lupakan: mencatat.

 

Dan malam ini, saya akan bercerita tentang sebuah DIM.

 

Bukan sembarang DIM. DIM ini punya nomor cantik: 003.

Judulnya? "Formulir Kematian yang Lebih Rumit dari

Formulir Kelahiran." Ironis, bukan? Di negeri ini,

lahir itu mudah. Mati? Ah, mati butuh surat.

 

Tapi saya tidak akan membacakan laporannya langsung.

Itu terlalu kering, dan tenggorokan saya sudah tua.

Saya akan bercerita tentang seorang lelaki tua yang

menjadi pemilik DIM ini. Namanya Kakek Warto.

 

───

 

Bayangkan sebuah rumah kecil di pinggiran Provinsi

Lorong. Dindingnya dari bata yang mulai retak, atapnya

dari seng yang berkarat di bagian pinggirnya. Di ruang

tamu, ada sebuah foto dalam bingkai kayu murahan.

 

Foto itu memperlihatkan sepasang suami istri.

Laki-lakinya memakai kemeja putih waktu itu masih

putih, belum menguning di bagian kerah. Perempuannya

memakai kebaya sederhana, rambutnya disanggul rapi.

Mereka tersenyum. Bukan senyum yang dipaksakan untuk

kamera, tapi senyum dua orang yang sudah hidup bersama

selama puluhan tahun dan masih merasa cukup.

 

Laki-laki dalam foto itu Kakek Warto duduk di kursi

rotan di depan foto itu. Usianya enam puluh tujuh

tahun. Punggungnya mulai membungkuk. Tangannya dulu

kuat mengangkat karung beras di pabrik sekarang

gemetar pelan. Bukan karena sakit. Hanya karena usia.

 

Istrinya, Sarti, meninggal tiga hari yang lalu.

Komplikasi diabetes.

 

Ah, Sarti. Saya pernah melihatnya sekali, bertahun-

tahun lalu, di pasar. Perempuan kecil yang suka

membuat kue. Setiap minggu, katanya, ia membuat kue

untuk tetangga, untuk arisan, untuk pengajian. "Ini

kan buat orang banyak," katanya kalau ada yang

mengingatkan soal gula. "Kalau buat orang banyak,

pahalanya juga banyak." Kakek Warto tidak pernah bisa

membantah logika itu. Saya juga tidak.

 

Sekarang Sarti sudah tiada. Dan Kakek Warto duduk

sendirian di kursi rotan, menatap foto pernikahan

mereka, mencoba mengingat apakah ia sudah memberitahu

istrinya bahwa ia mencintainya. Ia tidak yakin. Empat

puluh lima tahun bersama, dan ia tidak yakin apakah

ia pernah mengucapkan kata-kata itu.

 

───

 

Pintu depan terbuka. Sulastri anak perempuannya

masuk tanpa mengetuk. Usianya empat puluh dua tahun,

tapi di depan ayahnya, ia masih seperti remaja yang

pamit mau main.

 

"Pak, saya bawa nasi bungkus."

 

Kakek Warto menoleh. "Kau tidak usah repot-repot,

Nduk."

 

"Repot bagaimana? Saya cuma beli di warung. Lagipula,

Bapak pasti belum makan."

 

Kakek Warto tidak membantah. Ia memang belum makan

sejak pagi. Sejak tiga hari yang lalu, sebenarnya. Ia

makan secukupnya cukup untuk tidak mati, tidak lebih.

 

Sulastri meletakkan bungkusan nasi di meja. Lalu ia

berkata, dengan suara yang dipersiapkan dengan hati-

hati: "Pak, besok kita harus ke Gedung Pelayanan

Terpadu."

 

"Untuk apa?"

 

"Ngurus surat kematian Ibu."

 

Kakek Warto mengerutkan kening. Saya suka ekspresi

itu. Ekspresi seseorang yang baru pertama kali

menyadari bahwa dunia tidak berjalan dengan logika.

"Emang kematian itu perlu surat?"

 

Sulastri menghela napas. "Di negeri ini, semua perlu

surat, Pak. Lahir perlu surat. Nikah perlu surat.

Pindah rumah perlu surat. Mati... ya perlu surat."

 

"Tapi ibumu sudah mati. Apa buktinya kurang?"

 

Sulastri tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya.

Saya tahu jawabannya, tapi saya tidak akan

memberitahunya. Bukan tugas saya. Saya hanya mencatat.

 

───

 

Malam itu, mereka mengumpulkan dokumen. Kartu

Keberadaan Sarti chip-nya sudah aus, tapi masih

berfungsi. Surat Ikatan Perkawinan kertasnya sudah

menguning, tapi tanda tangan penghulunya masih jelas.

Surat Keterangan Lahir. Kartu Keberadaan Kakek Warto

sebagai pelapor.

 

Kakek Warto mengambil surat nikah itu. Ia ingat hari

pernikahannya. Hujan turun deras. Atap masjid bocor

di tiga tempat. Sarti tertawa sepanjang akad. Penghulu

sampai menegur karena katanya pengantin perempuan

tidak boleh tertawa terlalu keras. Sarti malah tertawa

lebih keras.

 

"Dulu waktu nikah aja susah, Pak?" tanya Sulastri.

 

"Susah. Tapi waktu itu kita masih muda. Masih kuat

bolak-balik."

 

"Dan sekarang?"

 

Kakek Warto menatap surat nikah itu. "Sekarang aku

sudah tua. Dia sudah mati. Masih harus ngurus surat."

 

───

Lihat selengkapnya