═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
DONGENG ISTANA, ARSIP 001
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
DONGENG ISTANA NEGERI TOPENG MONYET
Arsip 001:
Kematian yang Harus Dibuktikan
Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM
─────────────────
Selamat malam, wahai kalian yang masih terjaga. Atau
selamat pagi, siang, sore terserah kapan kalian
mendengarkan ini. Di negeri ini, waktu tidak terlalu
berarti. Yang berarti hanyalah stempel.
Nama saya Nawapes. Sebagian dari kalian mungkin sudah
pernah mendengar tentang saya. "Filsuf penggoda di
Istana." "Si Tua yang menyebalkan." "Orang yang selalu
muncul ketika tidak diundang." Semua benar. Saya sudah
di sini sangat lama begitu lamanya sampai saya lupa
kapan saya pertama kali tiba. Tapi ada satu hal yang
tidak pernah saya lupakan: mencatat.
Dan malam ini, saya akan bercerita tentang sebuah DIM.
Bukan sembarang DIM. DIM ini punya nomor cantik: 003.
Judulnya? "Formulir Kematian yang Lebih Rumit dari
Formulir Kelahiran." Ironis, bukan? Di negeri ini,
lahir itu mudah. Mati? Ah, mati butuh surat.
Tapi saya tidak akan membacakan laporannya langsung.
Itu terlalu kering, dan tenggorokan saya sudah tua.
Saya akan bercerita tentang seorang lelaki tua yang
menjadi pemilik DIM ini. Namanya Kakek Warto.
───
Bayangkan sebuah rumah kecil di pinggiran Provinsi
Lorong. Dindingnya dari bata yang mulai retak, atapnya
dari seng yang berkarat di bagian pinggirnya. Di ruang
tamu, ada sebuah foto dalam bingkai kayu murahan.
Foto itu memperlihatkan sepasang suami istri.
Laki-lakinya memakai kemeja putih waktu itu masih
putih, belum menguning di bagian kerah. Perempuannya
memakai kebaya sederhana, rambutnya disanggul rapi.
Mereka tersenyum. Bukan senyum yang dipaksakan untuk
kamera, tapi senyum dua orang yang sudah hidup bersama
selama puluhan tahun dan masih merasa cukup.
Laki-laki dalam foto itu Kakek Warto duduk di kursi
rotan di depan foto itu. Usianya enam puluh tujuh
tahun. Punggungnya mulai membungkuk. Tangannya dulu
kuat mengangkat karung beras di pabrik sekarang
gemetar pelan. Bukan karena sakit. Hanya karena usia.
Istrinya, Sarti, meninggal tiga hari yang lalu.
Komplikasi diabetes.
Ah, Sarti. Saya pernah melihatnya sekali, bertahun-
tahun lalu, di pasar. Perempuan kecil yang suka
membuat kue. Setiap minggu, katanya, ia membuat kue
untuk tetangga, untuk arisan, untuk pengajian. "Ini
kan buat orang banyak," katanya kalau ada yang
mengingatkan soal gula. "Kalau buat orang banyak,
pahalanya juga banyak." Kakek Warto tidak pernah bisa
membantah logika itu. Saya juga tidak.
Sekarang Sarti sudah tiada. Dan Kakek Warto duduk
sendirian di kursi rotan, menatap foto pernikahan
mereka, mencoba mengingat apakah ia sudah memberitahu
istrinya bahwa ia mencintainya. Ia tidak yakin. Empat
puluh lima tahun bersama, dan ia tidak yakin apakah
ia pernah mengucapkan kata-kata itu.
───
Pintu depan terbuka. Sulastri anak perempuannya
masuk tanpa mengetuk. Usianya empat puluh dua tahun,
tapi di depan ayahnya, ia masih seperti remaja yang
pamit mau main.
"Pak, saya bawa nasi bungkus."
Kakek Warto menoleh. "Kau tidak usah repot-repot,
Nduk."
"Repot bagaimana? Saya cuma beli di warung. Lagipula,
Bapak pasti belum makan."
Kakek Warto tidak membantah. Ia memang belum makan
sejak pagi. Sejak tiga hari yang lalu, sebenarnya. Ia
makan secukupnya cukup untuk tidak mati, tidak lebih.
Sulastri meletakkan bungkusan nasi di meja. Lalu ia
berkata, dengan suara yang dipersiapkan dengan hati-
hati: "Pak, besok kita harus ke Gedung Pelayanan
Terpadu."
"Untuk apa?"
"Ngurus surat kematian Ibu."
Kakek Warto mengerutkan kening. Saya suka ekspresi
itu. Ekspresi seseorang yang baru pertama kali
menyadari bahwa dunia tidak berjalan dengan logika.
"Emang kematian itu perlu surat?"
Sulastri menghela napas. "Di negeri ini, semua perlu
surat, Pak. Lahir perlu surat. Nikah perlu surat.
Pindah rumah perlu surat. Mati... ya perlu surat."
"Tapi ibumu sudah mati. Apa buktinya kurang?"
Sulastri tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya.
Saya tahu jawabannya, tapi saya tidak akan
memberitahunya. Bukan tugas saya. Saya hanya mencatat.
───
Malam itu, mereka mengumpulkan dokumen. Kartu
Keberadaan Sarti chip-nya sudah aus, tapi masih
berfungsi. Surat Ikatan Perkawinan kertasnya sudah
menguning, tapi tanda tangan penghulunya masih jelas.
Surat Keterangan Lahir. Kartu Keberadaan Kakek Warto
sebagai pelapor.
Kakek Warto mengambil surat nikah itu. Ia ingat hari
pernikahannya. Hujan turun deras. Atap masjid bocor
di tiga tempat. Sarti tertawa sepanjang akad. Penghulu
sampai menegur karena katanya pengantin perempuan
tidak boleh tertawa terlalu keras. Sarti malah tertawa
lebih keras.
"Dulu waktu nikah aja susah, Pak?" tanya Sulastri.
"Susah. Tapi waktu itu kita masih muda. Masih kuat
bolak-balik."
"Dan sekarang?"
Kakek Warto menatap surat nikah itu. "Sekarang aku
sudah tua. Dia sudah mati. Masih harus ngurus surat."
───